Kemanakah Imanmu?

Kemarin saya bertemu dan untuk pertama kalinya mengikuti pengajian Ustad Felix, ustad mualaf yang sudah 13 tahun menganut agama Islam dan sudah menelurkan 9 buku. Kulitnya putih, wajahnya khas oriental, pawakan tubuhnya sedang, potongan rambutnya cepak cenderung gundul, dan (suka) baju bermotif batik. Ngomongnya juga cepat tapi jelas dan tegas. Alhamdulillah saya berkesempatan “mengisi ulang” baterai pengetahuan saya tentang Islam melalui beliau. Fitrah iman yang naik turun memang harus dijaga dengan mengikuti kajian-kajian seperti ini atau dengan tidak malas membaca hal-hal yang berbau positif.

Perjalanannya “menemukan” Islam bukanlah hal yang mudah bagi beliau yang tak pernah mengenal Islam dan tidak dibesarkan dari keluarga Islam. Nalar berpikirnya mulai tergelitik ketika dia beranjak dewasa, dan mencari tahu asal manusia.

“Saya ini dari mana ya asalnya?”, tanya Felix kecil kepada orang tuanya.

“Kamu asalnya dari kami”, jawab bapak ibunya.

“Bapak Ibu dari mana asalnya?”, tanyanya lagi.

“Dari kakek dan nenek”, lanjutnya.

“Kakek dan nenek dari mana asalnya?”, Felix kecil terus bertanya.

“Dari buyut”, tukas bapak ibunya.

“Buyut itu dari mana asalnya?”, pertanyaan Felix kecil begitu terus hingga akhirnya bapak ibunya pun berujar,”Ayo, kamu harus bertemu dengan pastor”.

Sesampai di Gereja, Felix kecil mengobrol dengan Pastornya, dan mengulang pertanyaan yang sama,”Asal kita dari mana?”

“Asal kita itu dari Tuhan”, sahut Pastor.

“Kenapa pada proses penyaliban Yesus berkata ‘Tuhan kenapa Kau tinggalkan aku’, kalau Yesus adalah Tuhan, kenapa harus memanggil Tuhan yang lain Pastor?”, tanya Felix kecil.

“Karena ada Tiga dalam Satu. Satu yang tak bisa dipisahkan oleh Tiga. Tiga yang selalu ada dalam satu”, seru Pastor.

“Tuhan mana yang paling bisa menolong?”, tanyanya lagi.

“Felix, sebenarnya manusia yang beriman itu tak banyak bertanya”, ucap Pastor.

“Kalau saya tak banyak bertanya, kenapa Tuhan memberikan akal kepada saya?”, sela Felix.

Dalam konsep Trinitas ini, Felix kecil merasa bahwa dahaga ilmunya masih belum terpuaskan. Sejak saat itu Felix keluar dari agama Kristen, dan tak beragama. Beranjak kelas 3 SMP, pelajaran Biologi telah sedikit membukakan pintu hatinya. Sistem tubuh yang luar biasa rumit dengan tugas yang jelas dan amat detail tanpa salah membuatnya terkagum-kagum. Pada proses pernafasan, ada oksigen yang dihirup, kemudian diproses di paru-paru, kemudian dialirkan oleh pembuluh darah yang jika diukur sanggup mengelilingi bumi. Pada ginjal ada proses sekresi dan ekresi. Ada jantung yang berdenyut setiap saat hingga mati, dan lain-lain. Untuk hal-hal yang demikian sempurna, jangan-jangan Tuhan itu memang ada, batinnya. Kemudian dia mengenal ilmu astronomi, dalam setiap detiknya, bumi berotasi sesuai porosnya, bulan juga mengelilingi bumi, planet-planet lainnya pun melakukan hal yang sama, galaksi-galaksi lainnya pun melakukan hal yang sama tanpa bergeser 1 cm pun (ya karena belum kiamat ya, hehe). Hingga akhirnya dia menyadari bahwa Tuhan ga mungkin ga ada, Tuhan pasti ada! Di usia kelas 3 SMP ini lah dia mulai percaya Tuhan, tapi tak percaya agama.

Kenapa tak percaya agama? Karena ketika mencoba bergaul dengan orang Islam, dia digebukin oleh 6 atau 7 orang yang mengaku beragama Islam.

“Loh, kenapa saya digebukin?”, tanya Felix remaja.

“Karena kamu sipit!”, jawab temannya. Oh.. Ternyata agama Islam itu boleh nggebukin orang seenaknya ya, saya ga suka agama ini, batin Felix remaja.

felix

Menginjak masa kuliah, ada sahabat karibnya menawarkan seorang ustad yang cerdas, yang sekiranya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Felix dewasa yang cenderung “kurang ajar”, namanya Ustad Fatih Karim. Awalnya Felix dewasa ga mau, karena namanya ustad mah paling gitu-gitu aja, yang diomongin cuma akhirat, pahala, surga, dan neraka. Tapi ternyata Felix dewasa keliru, karena Ustad Fatih Karim ini paham seluk beluk dunia sepaham seluk beluk akhirat, dan akhirnya meng-Islamkan Felix dewasa.

Berbekal Al-Qur`an beserta terjemahannya, mereka mengkaji isi Al-Qur`an. Dan pada surat Al-Baqoroh ayat kedua, pemikiran Felix dewasa selama ini runtuh seketika.

Dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin

Artinya : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan pada nya dan petunjuk bagi orang yang bertakwa.”

“Kitab ini sombong sekali, mencap dirinya sempurna tanpa salah, padahal baru di ayat-ayat awal, yang ibarat buku, ini sih baru kata pengantarnya”, sela Felix dewasa.

“Ya karena Al-Qur`an ini firman Alloh. Tuhan yang maha sempurna. Kita memang tak boleh sombong, tapi Alloh boleh-boleh saja sombong, Dia yang menciptakan kita kok”, sahut Ustad Fatih.

Dan Felix dewasa pun terpukau dengan ayat demi ayat, surat demi surat dalam Al-qur`an. Al-Qur`an adalah mukjizat nabi terakhir yang masih ada di bumi. Karena mukjizat dari nabi-nabi sebelumnya diangkat oleh Alloh ketika mereka wafat.

Nabi Musa diberi mukjizat sihir berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular, karena orang-orang di zaman itu sedang tergila-gila dengan sihir. Nabi Isa diberi mukjizat medis berupa menyembuhkan orang sakit, membuat orang buta jadi bisa kembali, menghidupkan orang mati, dll, karena pada saat itu masyarakatnya tergila-gila dengan pengobatan. Nah… Pada zaman Nabi Muhammad, masyarakatnya tergila-gila dengan syair. Oleh karena itu, mukjizat Beliau adalah Al-Qur`an. Al-Qur`an berisi kata-kata sempurna ciptaan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang segera mendapat hidayah ketika mereka merasa “lemah” dihadapan “yang kuat”. Masing-masing nabi diberi mukjizat sesuai zamannya, agar orang-orang pada zaman itu percaya dengan pesan-pesan yang dibawa nabi, tak lain untuk menyembah kepada Alloh.

Nah, lalu kenapa mukjizat Nabi Muhammad tidak diambil ketika beliau wafat? Agar orang-orang sesudah zaman Nabi Muhammad selalu percaya dengan pesan-pesan Beliau. Kalau ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh, sodorkan Al-Qur`an. Kaji Al-Qur`an, belajar baca Al-Qur`an, bukankah belajar juga termasuk jihad, hal-hal yang disukai Alloh? Semua pertanyaan dunia akhirat telah dijabarkan dalam Al-Qur`an.

Lalu, kenapa zaman sekarang banyak sekali pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan orang muslim? Kenapa banyak seks bebas, pencurian, penipuan yang juga dilakukan oleh orang muslim? Jawabannya adalah karena iman. Mereka percaya Islam, mereka percaya Alloh, mereka percaya Muhammad, tapi mereka lupa (atau melupakan diri untuk tak) menjalankan isi-isi Al-Qur`an. Padahal yang bikin merasa aman adalah iman. Manusia itu ibarat telepon genggam. Dan Al-Quran adalah instruction book-nya. Setiap beli telepon genggam pasti ada “buku” cara penggunaannya. Nah, jika cara merawat dan menggunakannya tak sesuai “buku” tersebut, apa yang terjadi pada telepon genggam? Mati, cepat rusak, dan tak berguna. Naudzubillah…

Jika menurut versi orang China, asal manusia adalah hasil reinkarnasi. Kehidupan yang sekarang adalah akibat dari kehidupan yang sebelumnya. Jika pada kehidupan yang sebelumnya kita baik, maka kehidupan yang sekarang kita baik. Tapi jika di kehidupan sebelumnya kita berbuat buruk, maka pada kehidupan yang sekarang kita bisa jadi anjing, ular, dan lain-lain, sesuai karmanya. Jadi, untuk apa mereka hidup di dunia sekarang? Untuk mencari karma positif pada kehidupan yang akan datang.

Sedangkan menurut versi orang Eropa, Tuhan itu ibarat “pemberi waktu pada jam tangan”. Mereka meyakini asal dan kembalinya mereka adalah kepada Tuhan, tapi selama mereka di dunia itu urusan mereka, Tuhan tak boleh ikut campur. Di dunia adalah hak individu mereka masing-masing.

Berbeda dengan dua versi diatas, umat Muslim percaya bahwa mereka diciptakan di dunia untuk beribadah. Mereka diberi ilmu untuk meyakini dan membuktikan bahwa Tuhan itu hanya satu, yaitu Alloh. Semua yang kita lakukan akan dibalas sesuai ketentuan Alloh di akhirat nanti. Sebagai orang Muslim, kita harus memiliki Iman. Apa itu iman? Iman adalah yakin 100% kepada Alloh tentang semua tuntunannya, asal, tujuan, perbuatan, dan kembalinya. Kalau punya iman itu, semua pasti enak. Mau punya wajah jelek Alhamdulillah, mau punya wajah cantik Alhamdulillah. Lagi kaya Alhamdulillah, lagi miskin juga Alhamdulillah. Kan tujuan kita di dunia hanyalah beribadah. Alloh berjanji ngasih rejeki untuk orang mukmin kok. Alloh mewajibkan kaum pria untuk bekerja, karena hukum bekerja bagi laki-laki adalah wajib, kalau ga kerja jatuhnya malah dosa. Nah kalau misalnya berdoa dan berusaha sudah dijalankan tapi rejeki masih belum melimpah ya harus Alhamdulillah, berarti Alloh menghendaki kita untuk lebih bersabar dan bersyukur.. Enak ya punya iman?

Huhuhu.. Saya terharu sekali ketika orang yang pernah berpikir sangat sombong seketika luluh lantak “ditampar” langsung oleh Alloh melalui kalam-Nya. Jika Ustad Felix menanyakan keberadaan manusia di usia 15 tahun, di usia ini saya masih menjalankan aturan-aturan-Nya secara suka-suka. Kok bisa gitu ya, pertama mengkaji AL-Qur`an langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, padahal saya juga membaca Al-Qur`an beserta artinya, tapi saya tak sampai berpikir sekritis Ustad Felix.. MasyAlloh.. Alloh memang tak salah untuk membukakan pintu hatinya.

Meminjam tulisan Gede Prama, kita ini ibarat rumah berjendela, dan cahaya matahari adalah hidayahnya. Jika “jendela” kita tetap kita tutup, sehangat apa pun cahaya matahari, tak akan pernah masuk keruangan kita. Tapi jika kita membiarkan “jendela” itu terbuka, sedikit demi sedikit cahaya matahari akan masuk dengan suka cita menghangatkan rumah kita.

Hidayah Alloh diperuntukkan untuk orang yang mau membuka diri dengan akal, pikiran, dan perasaan. Barang siapa yang tak ingin membuka diri untuk belajar, ya jangan harap hidayah akan datang menghampiri. Percayalah, Alloh Maha Baik, Alloh Maha Sempurna, Alloh Maha segalanya..

 

 

NB: Sebenarnya masih banyak sekali ulasan beliau yang baguuuuuussss banget. Tapi karena keterbatasan penulisan dan daya ingat saya, jadi ya cuma segini deh catatannya. Semoga bermanfaat buat teman-teman pembaca, dan saya dijauhkan dari sifat ujub ya, amien.



4 Responses to “Kemanakah Imanmu?”

Leave a Reply