Toilet Training

Fazna sudah genap berusia 2 tahun. Banyak PR (Pekerjaan Rumah) menanti saya, sebagai ibu yang full mendampingi dia sehari-hari. Lepas dari clodi (cloth diaper) siang dan malam, serta lepas ngASI atau yang lebih dikenal dengan menyapih. Dua hal yang membuat kesabaran saya diuji, hehehe.

Untuk program menyapih, sudah mulai saya terapkan ketika Fazna berusia kurang lebih 20 bulan dengan ibunya yang sering-sering sembunyi (alias keluar rumah, wekekek), memberi pengertian, mengganti jam ngASI-nya disiang hari dengan camilan-camilan serta susu pengganti berupa susu UHT. Memang sih, kalau ibunya “menghilang” si anak ga terlalu “mencari-cari”, karena kalau sudah dikasih biskuit ya pasti dimakan dan kenyang. Tapi kalau malam hari masih belum bisa diterapkan (help-help.. butuh pencerahan), lha masih sekamar dengan bapak ibunya juga. Motivasi saya untuk segera menyapih adalah, selain di Al-Qur`an dianjurkan sampai 2 tahun, Fazna termasuk anak berpostur mungil di usianya. Dokter yang menangani Fazna pun menganjurkan untuk segera menyapih agar makannya banyak, dan dia bisa berada di postur ideal.

Ada banyak suka dan duka di beberapa bulan terakhir (tepatnya sih kurang lebih 3 bulan yang lalu), saat Fazna mulai toilet training. Waktu pertama kali copot clodi, wajahnya keliatan bengong gitu waktu pipisnya merembes mengenai kakinya. Butuh waktu untuk membiasakan dia agar bisa bilang “pipis” sebelum pipisnya benar-benar keluar. Pipisnya dimana saja? Jawabannya dimana-mana, hahaha. Di tempat bermainnya, sepatu emaknya, dikamar eyang mami, di teras, dan dikamar. Yeah.. Lengkap sudah (please.. kalau ibu dan anak belum siap, mending diundur dulu deh toilet trainingnya agar kedua belah pihak ga senewen). Sebagai ibu, kadang kesabaran saya menemui ujungnya. Bayangin, dia pipis disaat saya sudah bersih alias sudah mandi, seprei kamar juga baruuuuu.. saja diganti, trus tiba-tiba pipis! Astagaaaa.. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli celana training pipis atau biasa disebut training pants.

Di awal-awal belajar, efek memakai training pants sebenarnya tak sebagus celana biasa. Namanya saja training pants, jadi celana ini berfungsi untuk menampung sekali pipis anak. Jadi pipisnya ga kemana-mana, tapi tetap membuat dia ga nyaman karena berasa kalau pipis di celana. Sounds good ya.. Hihihi.. Karena itu berarti ibunya ga usah repot ngepel sana sini. Tapi bagi Fazna, ternyata air pipis yang merembes mengenai paha dan betisnya akibat memakai celana biasa bisa jadi alarm tersendiri, dan untuk pertama kalinya dia bisa bilang “pipis” meski sudah keluar. Kalau pakai training pants dia diammmmm.. saja… Karena ga ada “air” yang mengalir lewat pahanya, zzzzz.

Kemajuan toilet training sejak 3 bulan lalu sampai hari ini adalah, dari pagi-sore, jika dirata-rata pipisnya sekitar 9 kali pipis, 4 yang bilang, 3 yang dipipisin ibu atau pengasuhnya, dan 2 yang pipisnya keluar dulu baru bilang, hehehe. Not bad lah.. Semua butuh proses, intinya sabar! Kalau lagi usil alias pengen nyari perhatian orang sekitarnya, dia bilang “pipis”, tapi setelah dibawa kamar mandi malah main air atau kabur sajaaaa.. Hahaha.. Dasar anak cerdas! Kalau malam Fazna masih saya pakaikan clodi, saya belum pede untuk melepasnya (help.. help.. butuh pencerahan pula), hihihi. Mungkin nanti setelah berhasil menyapih, saya akan mulai ngajari dia untuk pipis malam. Untuk BAB-nya, Fazna lebih mudah dikenali lewat raut wajah. Keliatan kan kalau mau BAB, hehehe. Biasanya dia bilang “bilong”, maksudnya “beol”, buang air besar, hehehe.

Dannn.. Training pants ini ternyata berguna setelah dia bisa merasakan “alarm” pipis dari kandung kemihnya. Kebetulan saya paling ga bisa sama yang najis-najis. Fyi, kamar tidur saya yang juga tempat shalat saya, punya sapu, pel, dan kain lap khusus untuk kamar saja alias ga bisa jadi satu dengan yang dipakai diruang tamu. Bukan buat sok-sok an bersih atau sombong, tapi ini murni untuk kehati-hatian saya dalam menjaga kesucian tempat sholat.

Nah.. Ada kalanya, Fazna ingin bermain di kamar tidur. Sekali lagi, untuk jaga-jaga, saya biasanya memakaikan training pants ini. Capek kalau tiap ngompol ganti seprei, keset, jemur kasur (pada periode ini, sebaiknya pakai seprei anti air ya, biar ga angkat-angkat kasur). Alhamdulillah berfungsi banget. Dari ketiga merk training pants yang sama miliki, inilah review-nya:

tp

1. Klodiz

Ini training pants yang jelas buatan Indonesia. Kalau disentuh dia lembut banget, ringan, mudah kering, ga panas, hampir persis seperti celana dalam biasa. Meski bisa menampung untuk sekali pipis, tapi ternyata bentuknya kurang pas di paha Fazna, cenderung terlalu lebar. Jadi kalau dia lagi main-main trus celananya miring kesana kemari ya bocor. Berat badan Fazna sekarang sekitar 11 kg, dan dia pakai yang ukuran L. Mungkin kalau dia pakai ukuran M bisa lebih pas. Jadi temen-temen bisa mengira-ngira sendiri ya, untuk beratnya pakai yang ukuran apa.

2. Mam N Bab

Motif training pant ini lucu-lucuuuuu.. banget! Penampilan foto di onlineshop pun menarik. Kebetulan Fazna pas di ukuran 90 (padahal ini ukuran yang paling kecil, hehehe). Lingkar pahanya lebih pas. Bahannya lembut, ga panas, jahitannya rapi, gampang kering, persis celana dalam biasa. Saya baru punya dua biji, dan berniat untuk beli lagi karena Fazna kalau sedang asyik main, bener-bener lupa bilang “pipis”. Gawat kalau itu sering-sering terjadi di kamar tidur, hehehe.

3. Cuddle Me

Sebenernya training pants ini paling kuat dibanding ketiga merk yang pernah Fazna cobain. Tapi saya salah ukuran. Mestinya beli yang ukuran M-L, tapi kemarin nyobain ukuran S-M, jadi ngepres banget di bagian pahanya. Kalau bagian perutnya lebih fleksibel, bisa diatur persis celana hamil. Oiya, bahannya kayak handuk gitu, kalau pas udaranya dingin sih boleh-boleh saja dipakaikan yang merk ini, tapi kalau pas musim kemarau, aduh.. Kasihan.. Pasti gampang keringetan itu. Dan karena lebih tebal dari training pants, maka proses menjemurnya pun lebih lama dibanding yang lain.

Sekuat-kuatnya training pants, memang ga sekuat pospak atau clodi. Saran saya masih sama dengan yang diatas, kedua belah pihak harus benar-benar siap. Namanya juga belajar, maka prosesnya tergantung anak dan lingkungannya sendiri. Sejak anak bisa ngomong sih katanya bisa diajarin, tapi ada juga yang bilang, mending ngajarinya kalau sudah agak gedean, biar proses belajarnya cepet. Entahlah menurut pendapat siapa yang paling tepat, karena saya bersyukur dengan keadaan Fazna sekarang. Dia jadi sangat jarang “nggembol” alias membawa pipisnya kemana-mana, hehehe. Pakai clodi atau pospaknya pas keluar-keluar saja. Kalau pas dirumah, dia sudah pakai celana dalam dan celana pendek biasa. Seneng ngeliat dia bebas gitu! *elus-eluspantatFazna



Leave a Reply