Hidayah itu Perlu Di Rawat

“Hayaaaaa…,” sapanya ceria ketika membuka isi kajian di Rumil (Rumah Ilmu) Al-Hilya dan sontak jamaah yang mayoritas berisi ibu-ibu pun terkikik. Wajahnya sangat oriental. Parfumnya wangi dan wajahnya bersih bersinar. Beliau akrab dipanggil Koko Liem, seorang da`i mualaf yang menyatakan keIslamannya sejak tahun 1994. Anak dari seorang suhu agama Budha (kalau di dalam Islam, suhu itu setara kyai), Koko Liem juga sering dikenal sebagai da`i illusioner oleh masyakarat karena menggunakan sulap sebagai media dakwahnya. Melalui sulap, beliau menjabarkan arti filosofinya satu demi satu secara Islami, sehingga cara berdakwahnya menjadi sangat unik dan mengena. Cerdas!

15

Siang kemarin, Koko Liem menceritakan sedikit riwayat hidupnya ketika beliau masuk Islam. Dulu, baginya, cara beribadahnya orang Islam itu sangat memukau dirinya yang masih duduk di sekolah dasar.  Dari mana pun negaranya, bagaimana pun bahasanya, umat Islam memulai shalatnya dengan “Allahu Akbar” serentak, bersama-sama, dan tak ada beda sedikit pun antara satu dengan lainnya. Berbeda dengan dirinya yang saat itu masih memeluk agama Budha. Ada tiga Tuhan yang harus disembahnya (saya ga ingat nama-namanya, maklum, pelafalannya susah bagi saya). Cara berdoanya pun terserah, tergantung bahasa dan suku Tionghoanya (ketika Koko Liem menyebutkan satu-per satu bahasa dan suku Tionghoa, saya hanya bisa melongo ga ngerti, hehehe). Jadi bisa dibayangkan betapa riuhnya kelenteng ketika mereka, yang dari suku berbeda-beda berdoa bersama.

Waktu itu Koko Liem memang masih mengikuti sekolah minggu di wihara (ya iyalah anak seorang suhu gitu lho!), tapi ketika di sekolah dasar sedang berlangsung jam pelajaran agama Islam, beliau ga mau keluar kelas. Beliau penasaran dan akhirnya mengikuti jam pelajaran yang semestinya “tak perlu” diikuti olehnya saat itu. Kalau sudah kehendak Alloh ya, siapa yang bisa menolak. Hidayah Alloh itu memang harus dicari dengan cara membuka diri. Taat tanpa tapi dan beriman tanpa nanti. Tepat di pertengahan SMP, dia pun mantap dengan pilihannya dan menyatakan keIslamannya.

Sebenarnya, Alloh sudah menurunkan empat macam hidayah bagi tiap-tiap manusia.

1. Hidayah Tabiat (Insting/otomatis)

Bayi yang pertama kali dilahirkan pasti menangis. Ya ga mungkin bayi baru lahir trus ketawa-ketiwi, bisa-bisa suster dan dokternya lari, hehehe (terkecuali bayinya Nabi Isa ya, nabi kita yang satu ini dikaruniai buanyak mukjizat, salah satunya sudah bisa bicara sejak dalam buaian ibunda mulia, Maryam). Dan insting yang diberikan Alloh kepada kita sejak kita dilahirkan adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Ga mungkin kalau ada nenek-nenek yang jatuh, kita ga pengen nolong. Ga mungkin kalau ada anak jalanan yang masih balita dengan dot ditangannya tanpa terisi susu, kita ga pengen ngasih sebotol susu (huhuhu.. sejak punya anak, selalu kasihan lihat anak-anak kecil jalanan yang ga bisa minum susu). Karena sebenarnya Alloh sudah menjadikan diri kita (dari dulunya) sebagai manusia yang bermanfaat. Tapi karena lingkungan, didikan, bacaan, dan kebiasaan yang tidak baik, manusia bisa menjadi pribadi yang tak bermanfaat bahkan menyusahkan orang lain, naudzubillah. Orang yang bermanfaat itu salah satu cirinya adalah suka “berterima kasih”. Apa yang sudah dia “terima” akan dia “kasih” kepada orang-orang yang memerlukan (baca: sedekah).

2. Hidayah Indera

Ada 5 panca indera yang kita miliki yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Alloh sudah mengaruniai 5 panca indera yang sungguh luar biasa untuk kita. Jika kita tak mampu menjaga kelima indera ini, maka panca indera ini akan menjadi boomerang yang menyusahkan diri kita sendiri. Tapi sebaliknya, jika kita mampu menjaganya, kebaikan dunia dan akhirat tak mustahil bisa kita raih. Dan tiba-tiba saja Koko Liem mengeluarkan air mineral.

“Kalau bunda-bunda sekalian berpikir bahwa saya tidak puasa dan akan meminum air mineral ini, maka bunda-bunda sekalian telah bersu`udzon,” katanya.

“Ya itu kalau punya mata tapi tidak dilatih untuk “berhati” yang baik,” lanjutnya. Hehehe.. Habisnya, pake ngeluarin air mineral segala, kan jadi berpikiran macam-macam, Tad! Oh.. Ternyata dia mau main sulap. Dengan sigap, beliau membuka segel, mengeluarkan airnya ke dalam gelas, dan mulai mengajukan pertanyaan,

“Bagaimana air mineral ini bisa keluar dari botol?” tanyanya.

“Ya karena dibuka Ustad,” jawab sebagian ibu-ibu.

“Ya.. Dibuka karena ada niat. Niat itu penting. Semua berjalan berdasarkan niat. Kalau niatnya baik, semua akan ditulis pahala oleh Alloh, sekali pun orang lain tidak berpendapat demikian. Tapi jika niatnya jelek, maka apa pun yang dilakukan akan diganjar dosa oleh Alloh,” terangnya.

“Terus, mungkinkah handphone ini bisa masuk ke dalam botol?” tanyanya lagi.

“Tidakkkkkkk,” cetus ibu-ibu jamaah Rumil. Saya pribadi sih menjawab mungkin. Gimana ga mungkin, wong dia pesulap, wekekeke. Dan ternyataaaaaa..

botol3

Cling. Bisa masuk!! Entahlah bagaimana beliau melakukannya dalam sepersekian detik. Masya Alloh.. Kereeennn!!! Meski ketika mengeluarkan handphone tersebut, Koko Liem harus memotong bagian tengah botol mineralnya. Katanya, beliau belum menemukan ilmu cara mengeluarkannya, wekekeke. Sulapannya jangan setengah-setengah Ustad, belajar lagi dong cara mengeluarkannya (ngomong doang emang paling gampang ya Tad, hehehe).

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Bunda-bunda. Seringkali apa yang tidak bisa ditangkap dengan mata menjadikan sikap su`udzon yang menggurita dan menjadi sumber penyakit hati. Terkadang kita lupa bahwa Alloh-lah yang berperan dalam keajaiban-keajaiban di sekitar kita. Misalnya, kita punya tetangga pegawai negeri trus tiba-tiba punya mobil mewah. Kita dilarang berpikiran yang buruk. Siapa tahu dia habis menang undian, siapa tahu usaha niaga (halal) yang dia jalankan sedang untung besar. Hati-hati dengan indera kita, Bunda-bunda sekalian,”  imbuhnya.

Dan indera lainnya pun harus dilatih untuk “berbuat” baik. Sering mendengar yang baik-baik, tidak suka ikut nimbrung nggosipin orang, berbicara yang baik, dan lain-lain.

3. Hidayah Akal

“Saya masuk Islam ketika SMP karena saat itu saya sudah mampu berpikir bahwa agama yang logis adalah agama Islam. Setiap minggu saya membandingkan pelajaran agama Budha dan agama Islam, dan menurut saya, agama Islam adalah agama yang bisa dinalar,” lanjutnya. Itu adalah hidayah akal yang digunakan Koko Liem dengan sangat baik. Beliau adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ibu dan tujuh saudaranya berhasil dia ajak memeluk agama sempurna ini. Tapi sayangnya, sang ayah menolak mentah-mentah ajakan tersebut.

“Jangankan saya yang manusia biasa Bunda, kerabat nabi saja tidak semua mendapat hidayah dari Alloh. Contohnya saja Nabi Ibrahim. Beliau disebut sebagai “bapaknya para nabi” karena anak cucunya adalah nabi-nabi Alloh. Tapi ayahnya sendiri (yang berprofesi sebagai pemahat berhala) tak mau mengikuti ajakan Nabi Ibrahim. Adapula Nabi Luth yang beristri durhaka dan Nabi Nuh yang anaknya tak mau naik ke dalam kapal buatan Nabi Nuh ketika badai mulai berkecamuk. Saya hanya manusia biasa yang hanya bisa bersyukur,” ungkapnya.

Masya Alloh.. Dengan akal, akhirnya Koko Liem mencintai dan dicintai oleh agama mulia ini.

4. Hidayah Agama

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu-bapaknyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi –HR. Bukhari.

Semua bayi terlahir sebagai seorang muslim. Alloh menghidayahi agama ini kepada semua umat manusia, bahkan sejak mereka belum dilahirkan, tapi orang tuanya yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, Majusi, atau agama lain selain Islam. Hidayah beragama Islam adalah hidayah yang paling mahal, tak bisa diganti dengan apa pun

Alhamdulillahhhhh.. Saya dilahirkan dalam keluarga muslim. Tugas saya “hanya” menjaga agama ini untuk selalu bersemayam di tujuan hidup dan tujuan mati saya. Bukan tugas yang mudah, tapi sekuat tenaga saya akan menjaganya. Tolong ingatkan saya jika saya mulai lengah. Tolong doakan saya, jika saya mulai patah semangat dalam menjalani hidup yang sementara ini. Karena sesungguhnya, kita sudah mendapat hidayah yang bermacam-macam dari Alloh. Kita “hanya” perlu menjaga-Nya.. menjaga-Nya..

Rabb.. Jaga kami.. Cintai kami.. Lindungi kami… Amiennn..

13



Leave a Reply