Al-Qur`an mu dimana?

“Oh.. Ustadnya artis.. Kira-kira isi yang disampaikan apa ya kalau artis begini,” gumam saya dalam hati sedikit menyepelekan. Dan setelah mengikuti kajian Ustad Adipura hingga tuntas, saya merasa maluuuuuuu.. banget “menuduh” artis ini akan menyampaikan hal-hal yang sekiranya sudah saya tahu sebelumnya (ini nih jeleknya saya.. suka menilai orang dari pandangan pertama saja, huhuhu.. Astagfirulloh.. ingatkan saya terus yaaa). Karena ternyata beliau menjelaskan ayat-ayat Al-Qur`an yang terlewat dari cermatan saya, dengan gamblang dan mudah diterima.

“Jangan panggil saya ustad ya ibu-ibu. Karena Ustad dalam bahasa Arab itu berarti guru. Guru itu digugu dan ditiru. Sedangkan saya sangat jauh dari panggilan itu. Saya masih sering berperan sebagai tokoh antagonis di dalam sinetron, mana bisa peran-peran seperti itu ditiru? Oleh karena itu, saya akan memperkenalkan guru yang sebenar-benarnya guru,” seru Ustad Adipura di awal kajian.

a

“Saya pernah di tanya`i orang, yang benar penulisan Insya Alloh atau Insha Alloh? Perbedaan pendapat tersebut hingga menimbulkan perselisihan antara satu orang dengan yang lain. Dan jawaban saya adalah dua-duanya benar. Lho kok bisa? Yuk kita lihat Al-Qur`an di surat Al-Baqoroh ayat 70. Dalam penulisan bahasa Indonesia, kita mengenal ejaan ‘sy’ yang memang penulisan dalam bahasa Arabnya ‘syin’. Hal ini berbeda dengan penulisan dalam bahasa Inggris. Di dalam aturan penulisan ejaan bahasa mereka, mereka tak mengenal ‘syin’, yang ada ‘sha’ (karena saya lulusan Sastra Indonesia, saya paham betul mengenai hal ini. Kita tak mengenal ejaan ‘x’ pada ejaan bahasa Indonesia. Misalnya ‘Taxi’, dalam bahasa kita menjadi ‘Taksi’, ‘Exclusive’ menjadi ‘Eksklusif’). Makanya mereka pun menulis Shawal, bukan Syawal, karena dalam sistem aturan bahasa mereka tidak ada ‘sy’. Tapi, dalam pengucapannya, sama. Jadi ga masalah mau mengucapkan Insya Alloh atau Insha Alloh, tapi karena kita orang Indonesia ya jangan sok-sokan pake bahasa Inggris,” terangnya.

“Kemudian ada yang bertanya pula tentang ayat bahwa Nabi Muhammad tidak memahami hal-hal yang gaib. Padahal ada hadist Nabi Muhammad yang menyebutkan ‘Orang yang memelihara anak yatim akan seperti ini denganku di sana (merapatkan jari telunjuk dan jari tengah)’ yang berarti Nabi Muhammad tahu bahwa dirinya akan masuk surga. Kalau tahu bahwa pasti masuk surga, berarti Beliau tahu hal-hal yang gaib donk? Terus, yang benar yang mana? Yuk.. Kita buka lagi Al-Qur`annya secara sistematis.

1. QS. 6 : 50

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

Perlu diingat bahwa Al-Qur`an itu turunnya bertahap, berangsur-angsur. Pada ayat di atas, Nabi Muhammad masih “baru” dengan predikatnya sebagai Nabi, dan rupanya Alloh pada saat itu memang masih belum membukakan tabir ghaib-Nya. Nabi Muhammad saat itu belum tahu, bahwa dirinya akan masuk surga bersama siapa saja.

2. Tapi Alloh Maha Berkehendak. Hanya Rasul yang dikehendaki yang dapat melihat ghaib-Nya. Kita buka QS. 72 : 26-28

26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.

27. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

28. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

Tidak semua Rasul dapat melihat hal-hal ghaib, hanya Rasul yang dikehendaki Alloh saja. Seiring berjalannya waktu, Rasul yang mulia ini mulai diperlihatkan ghaib-Nya. Siapakah Rasul yang istimewa ini? Lanjutttt..

3. QS. 69. 40

40. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

Al-Qur`an telah menjadi mukjizat Nabi Muhammad, maka benar adanya bahwa Beliau adalah Rasul yang mulia. Rasul yang dibukakan tabir ghaibnya oleh Alloh.

“Nah, jadi, kalau ada yang bertanya seperti pertanyaan di atas kepada saya, jawaban saya ya benar dua-duanya, hehehe… Nabi Muhammad tahu dan tidak tahu tentang yang ghaib. Dilihat dulu konteksnya. Dikaji dulu isinya. Makanya ngaji itu harus tuntas, agar tidak sepotong-potong tahunya yang malah akan membuat salah paham,” urainya panjang lebar.

“Saya prihatin sekali, sekarang begitu banyak orang yang menjadi “Tuhan-Tuhan Kecil” di sekitar kita, tak ada beda dengan Fir`aun. Sedikit-sedikit bilang ‘kafir kamu’, ‘neraka kamu’, ‘munafik kamu’, lha kok bisa gitu lho menuduh orang semudah itu. Padahal surga neraka adalah hak prerogatif Alloh. Coba buka QS. 22 : 17

17. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin [984] orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

“Cuma Alloh yang berhak menentukan siapa masuk neraka dan siapa masuk surga. Sudah, ga usah usil menerka-nerka niat seseorang, perilaku seseorang, berpikiran negatif sama orang. Urusi niat dan perilaku kita sendiri,” lanjutnya.

“Al-Qur`an dan hadist duluan mana? Al-Qur`an! Makanya pelajari Al-Qur`an dulu, baru hadist (karena hadist memang sangat banyak dan harus tahu sumbernya, shahih ga nya) kalau Al-Qur`an dimana-mana sama, ga ada beda. Itulah mengapa sekarang umat Islam terpecah belah menjadi beberapa golongan. Karena banyak diantara mereka yang ngomong panjang lebar, ngotot lagi hanya berdasarkan hadist. Gitu saja sudah sombong, tak mau memahami Al-Qur`an, hanya percaya pada pendapat-pendapat orang tentang Al-Qur`an, bahkan tak sedikit yang meninggalkannya. Padahal Al-Qur`an itu adalah mukjizat Nabi Muhammad. Padahal Al-Qur`an itu diturunkan untuk menyelesaikan perselisihan. Padahal Al-Qur`an itu adalah sebenar-benarnya ‘ustad’ yang harus diikuti. Pernah suatu ketika anak saya bertanya kepada saya,”Papa, kalau Nabi Musa bisa membelah lautan, Nabi Muhammad bisa ga pah? Kalau Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, Nabi Muhammad bisa juga ga pah?”, hayo ibu-ibu.. Jawabannya apa? Kok pada diam semua?” tanya Ustad Adipura. Dan saya sendiri pun sempat mikir. Hehehe.. Maklum.. Mind set dari kecil, yang bisa membelah lautan hanya Nabi Isa, yang menghidupkan orang mati cuma Nabi Isa. Wkwkwkw.. Bener-bener bengong ga tahu mesthi jawab apa (hadehhh.. Difana.. kebiasaan deh.. -_-“)

Cukup lama Ustad Adipura menanti jawaban kami, para ibu-ibu, hingga, “Ayo kita buka QS. 13 : 31

31. Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al-Qur’an itulah dia) [774]. Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. [774].

“Jangan bilang ga bisa ibu-ibu! Jangankan lautan, bumi pun bisa terbelah karena Al-Qur`an ibu-ibu! Orang yang mati, jasadnya tak perlu dibangunkan, karena hanya dari luar saja Nabi akhir zaman ini sudah bisa mengajak bicara orang yang ada dalam kubur (ingat cerita Nabi Muhammad ketika melewati pemakaman kemudian berhenti sebentar untuk mengambil pelepah pisah yang masih basah dan menancapkannya di atas kubur seseorang?). Jangan menghina Nabi kita donk. Sedih saya. Nabi kita ini Nabi terakhir. Ibarat seri mobil, keluaran yang paling akhir yang paling sempurna fasilitasnya. Masak membelah lautan aja ga bisa. Padahal Nabi Musa hanya membelah Sungai Nil lho! Makanya, dulu umat Musa ketika melihat Nabi Isa bisa menghidupkan mayat, sangat kagum. Di dalam kitab mereka, yang bisa menghidup dan matikan manusia adalah Tuhan. Tapi mereka masih belum percaya, Tuhan kok begini. Jadilah mereka mempunyai kesimpulan sendiri, Nabi Isa dijadikan ‘anak’ Tuhan ,” tandasnya.

b

Alhamdulillah.. Penjelasan ustad artis ini sungguh mengena. Jelas sejelas-jelasnya karena langsung merujuk pada Al-Qur`an. Siapa yang berani meragukan Al-Qur`an? Kitab yang diridhoi Alloh. Kitab yang dijaga keasliannya hingga akhir zaman. Kitab yang menjadi pedoman kita sebagai manusia yang Alloh sebagai tujuannya. Semoga Alloh mendekatkan dan menjatuh cintakan kita pada Al-Qur`an. Amiennnn..

Jadi, Al-Qur`an mu dimana? Di dalam hati lahhhh… ^_^



3 Responses to “Al-Qur`an mu dimana?”

Leave a Reply