Cerita Menyapih

Kali ini saya melakukan penyapihan yang secara teoritis “kurang benar” alias tidak menyapih dengan cinta, hehehe. Menyapih dengan cinta atau Weaning With Love atau yang biasa disingkat dengan WWL ini sudah booming cukup lama di kalangan ibu-ibu menyusui. Teknik menyapih ini mengusahakan agar si bayi yang sudah berusia dua tahun mau melepaskan “zona nyamannya”.

Beberapa bulan yang lalu adalah momen yang cukup berat bagi saya untuk berhenti meng-ASI Fazna. Mungkin hal ini juga pernah dialami oleh ibu-ibu di seluruh dunia. Tentu saja berat. Anak saya yang waktu itu akan berusia dua tahun masih sangat bergantung pada saya, apalagi menjelang tidur atau terbangun di malam hari. Tapi setelah berkonsultasi dengan dokter, tekad saya pun akhirnya menjelma menjadi kegigihan untuk menyapih Fazna. Alasan medis membuat saya tega (atau sebaiknya diksinya saya ganti konsisten ya, hehehe) untuk menyapihnya.

Awalnya, karena mungkin postur Fazna ini meniru ibunya, tak terlalu gemuk dan tak terlalu tinggi, maka berat badannya pun dinilai kurang oleh dokter. Ya gimana mau gemuk, makannya sedikit dan (sangat) lama. Usut punya usut, hal ini disebabkan saya yang kurang disiplin, sebentar-sebentar ngasih ASI, padahal dia sudah waktunya makan makanan “berat”. Jadi ketika jam makan beratnya tiba, dia masih kenyang dan enggan menghabiskan makanannya. Setelah diberi jadwal pemberian makan yang benar oleh DSA, sedikit demi sedikit jam ngASI-nya Fazna berubah, dan secara bertahap di siang hari ASI nya saya ganti dengan susu UHT. Peralihan ini hampir tak berarti karena Fazna dasarnya suka susu UHt, apa pun rasanya. Alhamdulillah..

Ketika tantangan tidak memberikan ASI dari pagi hingga sore berhasil, tantangan selanjutnya pun menunggu untuk dijalani. Malam hari, ketika mau tidur, dan ketika tengah malam tiba-tiba bangun, ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Sebelumnya saya sudah bilang ke suami, kalau kita harus konsisten, dan saya tidak segan-segan untuk meminta pertolongan suami untuk menggantikan tugas gendong di malam hari jika saya sudah teramat lelah. Sebelum tidur, saya harus memastikan bahwa Fazna dalam keadaan kenyang. Mengganti jam ngASI dengan permainan yang bikin ngantuk (menggambar, bercerita, dll). Dan tak lupa mengoleskan resep rahasia ini, yang membuat Fazna tak mau lagi membuka baju saya atau menyentuh “sumber hidupnya”.

Namanya mahoni. Rasanya puahitttttttt banget. Buka bagian dalamnya, ambil bagian putihnya kemudian dicampur sedikit air, oles di bagian yang diperlukan, dan biarkan kering. Pernah dia ngenyel pengen ngASI, tapi setelah mencoba, dia kepahitan dan tak mau ngASI lagi. Hehehe. Kasihan sih sebenarnya, tapi gimana lagi, saya kurang bersabar dalam hal menghipnotis anak.

2

1a

 

Jadi sebenarnya anak kita bisa dihipnotis. Caranya, sesaat setelah anak tertidur, tapi belum berada di tahap tidur nyenyak, bisikan kata-kata yang ingin kita sampaikan pada dia. Tanpa sadar, bisikan kita akan menjadi “keinginan” dia sendiri. Hal ini saya praktekkan untuk toilet training-nya Fazna. Meski belum 100% berhasil, tapi ada kemajuan. Oiya, saya ingin sharing, jadi ketika menidurkan Fazna, saya biasa membacakan surat Al-Fatihah sambil gendong-gendong dia, eh tau-tau dia hafal saja! Padahal seingat saya, saya tak pernah punya waktu khusus untuk membuatnya hafal. Cukup amazing sih dengan teknik menghipnotis anak ini. Jadi buat temen-temen yang akan menyapih anaknya, coba deh, enam atau tiga bulan sebelum dia berusia genap dua tahun, hipnotis seperti yang saya lakukan. Biar ga mendengarkan tangisan anak minta ngASI yang menyayat hati.

Fazna hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk akhirnya benar-benar tersapih. Fazna nangis sih, tapi ga yang heboh gitu, ga begadang-begadang juga plus alhamdulillah ga pake demam.. Sebenernya kangen sih rasanya melihat dia ngASI di dekapan saya lagi. Kangen merasakan betapa pentingnya saya menjelang jam-jam tidurnya (duh kok jadi mewek-mewek melankolis begini). Tapi saya tahu ini demi kebaikan dan keberlangsungan hidupnya. Dan sejak Fazna tak pernah ngASI pada saya lagi, kami jadi sering berpelukannnnnn… Love you bayi tomattttt… (karena pipinya kayak tomat, hehehe).

3a



Leave a Reply