Mencetak Generasi Rabbani

Sering banget membaca tips dan trik mencetak generasi Rabbani yang menggiurkan bagi ibu-ibu rumah tangga macam saya. Pengen banget punya anak yang sholeh sollihah, tapi dimulai darimana? Bagaimana? Modelnya seperti apa?

Nah.. Kemarin saya berkesempatan ikut dalam bedah buku “Mencetak Generasi Rabbani” karangan Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary. Bedah bukunya dimulai dari awal hingga akhir halaman, dan dibahas sub bab demi sub bab (jadi nyesel ga bisa rutin kajian.. zzzzz).

Pembahasan sub bab kali ini dipandu oleh Ustad Subhan Bawazier. Seorang ustad asli Arab Betawi yang pembawaannya lucu seru! Dari awal hingga akhir kajian bawaannya diajak ketawa mulu, jadi ga ngantuk sama sekali.

IMG-20150821-WA0024

Foto by @thye3110

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa salah satu cara mencetak generasi Rabbani adalah dengan mendorong anak kita untuk memiliki sahabat yang baik.

“Karena kadang omongan teman itu lebih didengar, dari omongan orang tuanya bu. Kalau misalnya anak kita sedang tak sependapat dengan kita, biasanya dia kan ‘kabur’ dari rumah ya buk, nah disitulah sosok sahabat berperan. Kalau sahabatnya baik, pasti anak kita disuruh pulang, minta maaf ke kita, trus nasihatnya ‘mumpung orang tuamu masih hidup’. Tapi kalau temannya ga baik, tahu anak kita kabur dari rumah, yang ada dia malah seneng karena merasa punya teman. Hati-hati lho bu, anak-anak itu tergantung dari agama temannya,” terang si ustad nyentrik ini.

Perlu diingat bahwa standart dalam Islam itu indah. Kriteria sahabat yang baik itu, kata si ustad, bisa dilihat dari sholatnya, hafalannya, bapak ibu dan keluarganya.

Permisalan teman yang baik dan buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap. HR. Bukhori 5534 dan Muslim 2628.

Hadist diatas sering banget kita dengar karena memilih kawan itu penting dalam Islam. Yang lebih penting lagi, cintai dan benci seseorang seperlunya saja,

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa. QS. Az-Zukhruf 67

Kalau ibu ibarat “ladang” bagi suami, anak itu ibarat tanaman, kalau tanamannya baik, panennya juga baik. Usia dini adalah usia yang paling tepat untuk menanamkan (mencontohkan) hal-hal yang baik pada anak. Umur 0-9 tahun, anak adalah peniru yang ulung. Semua akan ditiru olehnya. Entah baik atau buruk, jika dilakukan oleh orang disekitarnya, maka bisa dipastikan dia akan segera meniru dengan cepat. Diatas usia 9 tahun, adalah masa pengaplikasian dari apa yang sudah dilihatnya.

“Jadi bagi ibu-ibu yang punya anak-anak, yang sudah usia baligh (dewasa) tapi belum mengenal Islam, bapak ibunya harus yang sadar terlebih dulu. Taubatnya orang tua bisa jadi pintu hidayah bagi anaknya,” lanjutnya.

Jangan pernah lupa, bahwa kita akan dibangkitkan bersama dengan yang kita cintai. Yang paling menyenangkan kalau kita benar-benar cinta Rasul, maka kita bisa dibangkitkan bersama Rasul (amiennnn) yang dijamin ditempatkan di tempat yang mulia. Tapi kalau kita ngefans sama artis-artis India, Korea, Eropa yang (maaf) auratnya kemana-mana ya jangan kaget nanti dibangkitkan bersama mereka yang kondisinya tidak terjamin oleh siapa-siapa.

Ada beberapa cara untuk meringankan ibadah:

  1. Hendaknya Alloh dan Rasul yang pertama dicintainya. Kalau sudah cinta, mau disuruh apa saja, meski berat pasti dijalani. Misalnya berhijab. Wanita mana sih yang ga suka dibilang cantik dengan tergerainya rambut indah, mulusnya kulit tanpa bulu dan penampakan anggota tubuh lain yang menggoda? Tapi karena ada tuntunan dari Alloh untuk mengulurkan hijab panjang dan longgar, maka meski berat pasti orang beriman akan melaksanakan kewajiban ini.
  2. Hendaknya membenci sesuatu karena Alloh. Kalau sudah benci karena Alloh, meski senangnya bukan kepalang akan sesuatu pasti akan ditinggalkan. Narkoba misalnya. Pecandu narkoba itu awalnya pasti karena jarang diajarkan “memberi” oleh orang tuanya. Karena kalau diajarkan untuk sering-sering memberi, maka dia akan enggan menerima sesuatu yang asing. Ya.. Lagi-lagi orang tua sangat berperan untuk masa depan buah hatinya.
  3. Benci untuk mengulang kembali dosa-dosa masa lalu. Maksudnya, kalau dulu mereka berpakaian serba terbuka, dan ketika sekarang sudah berhijrah dengan memakai jilbab panjang dan lebar, maka mereka akan membenci dan menyesali penampilannya di masa lampau.

Anak itu benar-benar investasi bagi orang tuanya. Bagi anak, ibu adalah sekolah pertamanya dan ayah adalah pahlawan pertamanya. Karena masa kanak-kanak tak pernah terulang, maka berikan ingatan yang baik untuk mereka.

Anak soleh itu adalah anak yang Islami. Yang dimaksud anak yang Islami adalah anak yang bisa mewarnai anak-anak yang lain dengan kebaikan. Persiapkan anak untuk bisa berdakwah di jalan Alloh. Jika anak kita adalah anak yang berkepribadian kurang percaya diri, maka bekali dia dengan keahlian-keahlian, agar ketika dewasa kelak, orang-orang bisa respect kepadanya dan dia dengan mudah bisa menyebarkan agama yang luar biasa ini. Keahlian yang seperti apa? Ya tugas orang tuanya untuk menggali potensi-potensi terpendam yang dimiliki anaknya. Karena masing-masing anak memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing. Orang tua “hanya” perlu menemukan dan mengembangkan potensi tersebut dengan metode yang paling cocok untuk anaknya. Intinya, ga ada anak yang bodoh, yang ada hanya guru yang malas.

Untuk sementara sih, potensi Fazna ada di kepekaan dia terhadap musik. Saya melihat bahwa naluri musik Fazna memang lebih menonjol daripada menggambar atau menghafal. Eh, kalau hafalannya pakai lagu ya cepet juga sih, hehehe. Tapi karena masih umur 2 tahun 4 bulan, jadi saya masih belum yakin 100% bahwa bakatnya ada di bidang musik. Diawasi saja.

Fitrah anak kecil adalah bangun pagi.Tapi kita, orang tuanya yang sebenarnya “menjadikan” dia untuk malas bangun pagi. Padahal bangun pagi adalah habit yang baik. Biasakan dia menghirup udara pagi. Kalau bisa, ajak anak untuk sholat Subuh di masjid. Salah satu cara mencetak generasi rabbani adalah dengan menjadikan sholatnya sebagai tamasya paling menyenangkan.

 

 



Leave a Reply