Sabar itu Berbuah Manis

Saya curiga ustad yang satu ini ada turunan Arabnya, habis hidungnya mancung amat! Wakakaka.. Kalau orang Indonesia asli ya ga mungkin punya hidung macam begitu. Hehehe.. Usil banget ngomentari orang ya? Yuk ah langsung ke isi kajiannya..

Manusia berbuat salah dan dosa itu wajar, ya namanya juga manusia. Kalau yang bersih sih sih namanya malaikat, karena malaikat itu konstan, ga punya nafsu, keberadaannya khusus untuk menyembah Alloh semata. Lha manusia itu nafsunya banyak, dan paling susah menaklukkan nafsu diri sendiri (menurut pengalaman pribadi). Tapi emang mau, hidup bergelimang dosa mulu? Mau sampai kapan? Sedangkan kita harus siap setiap saat jika ajal menjemput. Jadi, meskipun manusia dipastikan selalu berbuat salah dan dosa, tapi selalu ada cara untuk “mendekati” Alloh yang Maha Pengampun!

Hakikat hidup di dunia ini adalah menghadapi masalah satu ke masalah yang lain. Isinya ujiaaaaaannnnn.. terus, hingga “waktu” yang ditentukan untuk mempertanggung jawabkan semua. Ga ada yang ga dapat ujian. Kalau ga mau dapet ujian, silahkan dikafani *ups. Semakin berat ujian seseorang, semakin sabar dia, semakin diangkat pula derajatnya oleh Alloh. Memang yach.. Sabar itu sifat keharusan yang wajib dimiliki manusia jika ingin selamat di dunia. Ibarat kalau kita ingin dapat “nilai bagus” dalam ujian, kisi-kisinya ada dua, sabar dan sholat!

Wahai orang-orang yang berIman jadikan lah sabar dan sholat sebagai penolong mu. QS. AL-Baqarah : 153.

Ada 4 kategori sabar:

  1. Sabar dalam Menjaga Pikiran

Usahakan untuk selalu berpikiran positif. Misalnya tulisan kita ga dimuat dalam majalah (lah ini pengalaman pribadi lagi, hehehe), positive thinking saja, mungkin Alloh ingin agar saya terus berusaha, atau mungkin Alloh tidak menginginkan saya jadi besar kepala hingga merendahkan orang lain (astagfirulloh). Alloh lebih tahu saya jauh lebih baik, daripada saya sendiri. Percaya saja, semua (ingat ya.. s-e-m-u-a) ketentuan Alloh itu baik, meski dari “bungkusnya” terlihat tak baik. Hidup itu memberikan apa yang ada di pikiran kita. So, positive thinking it`s a must!

Manusia itu ada 4 kriteria:

  • Manusia wajib: manusia yang terkenal baik di lingkungannya, kalau orang ini ga ada, teman-temannya pada nyariin. Biasanya watak orang ini ga usil, bisa jaga rahasia, suka tersenyum, dan menyenangkan hati (duh sepertinya saya ga masuk dalam kriteria ini, wekeke).
  • Manusia sunah: kalau ada temen-temennya suka, kalau ga ada juga ga dicariin teman-temannya (namanya juga manusia sunah).
  • Manusia makruh: mending ga ada orang ini deh, biasanya teman-temannya akan bergumam seperti itu. Karena watak manusia makruh ini adalah suka melebih-lebihkan sesuatu, kepo, dll.
  • Manusia haram: manusia yang paling ga diharapin keberadaannya, karena biasanya dia adalah biang kerok dari masalah yang ada disekitarnya.

Masuk yang mana ya kriteria kepribadian kita? Hanya kita yang tahu dimana kita berada. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menyibukkan diri dalam kebaikan, amien.

 

  1. Sabar dalam Menjaga Hati

Hati itu memang paling gampang dibolak-balikkan. Semenit wangi, eh semenit kemudian bisa sangat busuk. Padahal hati ini adalah pusat tubuh. Nabi Muhammad bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah yang apabila ia sehat dan baik maka baiklah seluruh tubuh, sebaliknya apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah tersebut itu adalah hati. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-bukhari dalam shahihnya

Terus, bagaimana agar hati bisa tetap dalam kebaikan?

  • Dzikir

Dzikir dalam pikiran, lisan, dan perbuatan. Dzikir sendiri berarti mengingat. Mengingat nikmat-nikmat yang sudah diberikan oleh Alloh, serta balasan apabila kita kufur nikmat.

  • Rajin berbagi dalam bentuk materi

Zakat (yang sudah diatur waktu, jumlah, dan ketetapannya), infak (biasanya berupa materi), dan sedekah (bisa berupa apa pun, senyum misalnya). Jangan pernah menghitung-hitung balasan yang akan kita terima setelah kita bersedekah, karena bisa jadi, yang merasakan balasan sedekah kita adalah anak cucu kita (jangan GR kalau tiba-tiba kita ditimpa rejeki dahsyat, bisa jadi itu karena balasan kebaikan yang sudah dilakukan oleh orang tua kita. Maka disinilah perlunya untuk selalu berbakti kepada mereka *makkkk.. pengen pulang mak!) Kebaikan itu ga akan hangus kok. Jadi setelah bersedekah, lupakan! Biar Alloh yang “bekerja”.

 

  1. Sabar dalam Menjaga Malu

Manusia itu harus punya malu. Kalau ga punya malu, maka akan rakus lah ia. Ukuran paling gampang adalah saat bertamu. Biasanya, tamu yang baik itu yang matanya ga jelalatan. Yang ga sembarangan mencela isi rumah orang yang ditamuin. Tapi, jadi tuan rumah pun harus sadar diri. Muliakanlah tamu, karena tamu itu membawa berkah. Sediakan minum dan makanan yang layak, karena jika tamu pulang dalam keadaan kenyang, maka berkah akan mendatangi rumah tangga tersebut (untuk yang sudah berumah tangga). Jangan biasakan menimbun makanan hingga expired. Mending kalau punya makanan lebih dikasihin tetangga, satpam, baby sitter, atau siapa lah agar ga mubazir.

 

  1. Sabar dalam Menjaga Amal Sholeh

Sudah susah payah kita mengumpulkan amal-amal soleh, tentu kita tak ingin amal soleh kita habis dilalap api ghibah kan? Yuk jaga lidah kita yang tak bertulang ini untuk selalu berkata yang baik-baik, tak menggunjing keburukan-keburukan orang lain.

 

Sabar itu lebih pahit dari obat, tapi hasilnya lebih manis dari madu. So sweet yaaaa.. Makasie Bang Jack untuk ilmunya.. Bismillah.. Sabar.. Sabar.. Sabar..

bang jake



2 Responses to “Sabar itu Berbuah Manis”

  • ari aeco Says:

    Akuu masuk yg mana? T_T hehe…biar menjadi rahasia ALLAH dan saya aja ,, jadi semakin menyadarkan diri, harus jadi seperti apa saya ,,, semoga yang menyibukkan diri dalam kebaikan .. amin,, terus post kayak gini ya mba..soalnya jarang ikut pengajian,,,T_T semoga jadi ladang kebaikan untuk mba difana cancik (biar dapat pahala hahaha )

  • diva Says:

    aaammiieeennn.. terima kasih mbak ari sudah mau baca juga.. hehehe..

Leave a Reply