The Power of Tawakal

Kajian selama dua jam berasa kuranggggg, kalau yang ngisi kajiannya Ustad Fatih Karim. Pantas Ustad Felix maupun artis-artis papan atas Indonesia lainnya bisa hijrah setelah rutin mengikuti kajian beliau (selain karena memang diridhoi Alloh ya). Saya yang orangnya ga gampang nangis pun sempat berkaca-kaca mendengar tauziahnya. Bukan karena akting, tapi karena saya merasa bahwa banyak hal-hal yang lupa saya syukuri. Banyak keluh kesah hanya karena doa-doa yang saya panjatkan tak sesuai dengan desain yang Alloh rancang untuk saya. Saya sering lupa, bahwa Dia selalu memberi yang terbaik, yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan.

“Jangan memaksa Alloh, karena Alloh tahu yang terbaik,” kata beliau.

Yup.. Tema kajian kemarin adalah tentang tawakal. Tawakal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah pasrah diri kepada kehendak Alloh; percaya dengan sepenuh hati kepada Alloh. Pasrah diri itu tidak boleh ditelan bulat-bulat, karena pasrah diri hanya bisa dilalui jika ikhtiarnya (usaha) sudah maksimal. Seperti halnya jika kita akan bepergian ke luar kota. Ikhtiar kita adalah mengunci rumah, menutup jendela, dan melakukan usaha meminimalisir kejahatan lainnya. Tapi jika akhirnya rumah kita kebobolan maling, itu berarti atas ijin Alloh dan kita harus tawakal, pasrah diri kepada kehendak Alloh, pasti ada hikmah di setiap kejadian. Nah, beda lagi kalau kita pergi tanpa mengunci rumah, tanpa menutup jendela, ya pantas saja kebobolan maling! Itu salah kita sendiri, sebab ikhtiar kita kurang sempurna.

“Tawakal adalah urusan hati, yang berkaitan dengan masalah akidah. Tawakal itu hanya kepada Alloh, tidak berkaitan dengan sebab akibat, dan Alloh mencintai orang yang bertawakal. Contohnya, orang ingin pergi ke Bandung. Tapi dia hanya berdoa saja di tepi jalan tanpa menghentikan bus atau mencari tahu bagaimana caranya agar sampai Bandung, ya jelas ga sampai-sampai ke tujuan. Harus ada ikhtiar dibalik tawakal,” lanjutnya.

IMG-20160303-WA0000

Dalam bahasa Arab, tawakal berasal dari kata lafadz tawakkala, yatawakkalu, yatawakkulan, artinya menjadikan pihak lain sebagai wakil atau zat yang mewakili diri seseorang dalam urusan tertentu. “Yang dimaksud wakil disini bukan kita ketua kemudian ada wakil, bukan. Wakil disini berarti sesuatu yang kita serahi masalah kita. Nah, bagaimana yang pantas dijadikan wakil ini? Tentu saja yang tak mengkhianati, yang mampu, dan yang perhatian penuh”, terangnya.

“Keadaan orang yang bertawakal kepada Alloh adalah seperti keadaan bayi dengan ibunya (menyerahkan urusan kita hanya kepada Alloh)”, ucapnya. Saya yang sudah menjadi seorang ibu pun langsung paham bagaimana bayi sangat sangat sangat bergantung pada sosok ibu. Ga ada yang lain selain ibu. Nurut kepada Ibu, entah ibunya maunya begini dan begitu.

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh bertawakallah orang-orang yang beriman.” QS. A-Taubah 9 : 51. Sudah semestinya kita memang seperti itu kepada Alloh. Baik dapat ujian yang mudah dan yang tidak mudah, cobaan yang enak dan ga enak, semua sama, datangnya dari Alloh (gampang banget kalau ngomong Dif! Sabar pembaca.. Saya juga tengah berjuang mewujudkan apa-apa yang sudah saya tulis kok).

Imbas dari tawakal adalah:

1. Yakin Allah akan cukupkan

“Dan Dia memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Alloh telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” QS. At-Talaq 65 : 3.

2. Yakin Alloh bersama kita

“Jika Alloh menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Alloh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Alloh saja orang-orang mukmin bertawakal.” QS. Ali-Imron 3 : 160.

3. Yakin kerja optimal

“Dan katakanlah,”Bekerjalah kamu, maka Alloh akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmi, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” QS. At-Taubah 9 : 105.

“Kalau orang sudah yakin dengan Alloh, apa saja jadi enak, jauh dari stres. Ini pengalaman saya. Sebelum menikah dengan istri saya yang sekarang, dulu saya sempat melamar seorang gadis Jawa. Sebulan sebelum menikah, catering dan lain sebagainya sudah DP, si gadis ini menangis terus. Walhasil saya bertanya, kenapa kok menangis terus? Padahal saya merasa sudah tahu semuanya, bahwa bapaknya memang seorang muslim, tapi ibunya adalah seorang Kristen. Si gadis akhirnya bercerita bahwa dulu, bapak ibunya menikah di Gereja. Setelah saya utarakan kepada si bapak bahwa dia ga bisa jadi wali nikah anaknya, dia marah besar, meja dibanting, dan saya diusir dari rumahnya. Waktu itu saya hanya yakin kepada Alloh. Dan berdoa, jika memang bukan jodoh ya sudah, mohon diganti yang yang lebih baik, kalau bisa sedaerah (Medan, agar tiket mudiknya sekalian, hehehe), lebih pandai, dan lebih-lebih lainnya. Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian saya bertemu dengan istri saya yang sekarang (aslinya Medan pula) dan ternyata prosesnya sangat cepat. Alhamdulillah, kalau jodoh itu prosesnya gampang,” urainya.

Semua doa itu pasti diijabah, dikabulkan! Cuma bentuknya macam-macam. Ada yang dikabulkan detik itu juga sesuai dengan yang didoakan, diganti dengan yang lebih baik, atau diberikan di akhirat. Di akhirat? Lama dong Pak Ustad? Padahal butuhnya sekarang Pak Ustad! Walah ibu-ibu.. Kita hidup di dunia cuma kisaran umur 60 tahunan.. Kalau di akhirat itu selamanya! Hayo enak mana? Sabar bu. Karena tergesa-gesa itu adalah perbuatan syetan, kecuali tiga: mengubur jenazah, membayar utang, dan menikahkan anak perempuan yang sudah masuk usia pernikahan” sambungnya.

“Pernah suatu kali saya ditawari menjadi EO sebuah event yang nominalnya sekitar 600 juta. Tapi saya harus membayar beberapa persen untuk ini dan itu, yang itu berarti nyogok. Saya tinggalkan penawaran itu, saya ga mau usaha saya bercampur dengan riba. Saya yakin rejeki itu ga akan tertukar. Dan alhamdulillah beberapa bulan kemudian saya menjadi EO sebuah ulang tahun pertama bank syariah di Indonesia yang nominalnya 5x lipat dari penawaran pertama. Sekali lagi percaya deh dengan Alloh. Jalan sesuai petunjuk Alloh. Ga usah ragu”, serunya.

“Dari sekian doa saya, yang belum diijabah sampai sekarang adalah ingin menambah keturunan. Saya ga KB, dan anak pertama saya sudah berusia 10 tahun. Apakah saya berhenti berdoa? Tentu saja ga. Mungkin sekarang menurut Alloh saya masih belum pantas mendapat keturunan lagi, tapi kita ga akan tahu untuk tahun-tahun berikutnya. Yang penting saya berdoa saja”, tutupnya sambil tersenyum simpul.

Masya Alloh.. Kok bisa ya tawakalnya sesempurna itu? Huhuhu.. Tawakal saya sangat jauh dari sempurna. Naik turun kayak timbangan rusak dan kadang seolah melakukan “penawaran” kepada Alloh. Huhuhu.. Duh.. Ampuni hamba Gusti..



Leave a Reply