Menguak Sang Pemimpi

“Speachless…”

Itulah sambutan yang muncul dalam hatiku. Aspek-aspek yang detail mampu ditampilkan dalam enkranisasi debutan Mira Lesmana ini. Aku sudah baca keempat karya Andrea Hirata. Dari keempat buku tersebut, sebenarnya yang bikin aku terkesan dan ingin membacanya berulang kali adalah bukunya yang ketiga, Edensor. Perjalanan keliling dunia ketika dia kuliah di Prancis sangat menginspirasiku untuk bisa membayangkan bagaimana situasi dikala itu. Eropa memang selalu menarik orang awam sepertiku. Dan yang paling mengharukan adalah bukunya yang keempat, Maryamah Karpov. Perjuangan cinta sekaligus penutup tetralogi catatan seorang Andrea Hirata ini membuat titik-titik air mata ku leleh.

Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi menjadi pembuktian, bahwa enkranisasi tidak selalu jelek. Sempet kecewa dengan film-film hasil adaptasi dari novel yang jauh dari imajinasiku (ex: Ayat-Ayat Cinta, Da Vinci Code). Isinya yang kurang “berisi” membuatku memilih membaca novel aslinya daripada harus melihat film dengan judul yang sama tersebut.  Tapi berbeda dengan enkranisasi kebanyakan, ternyata film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi lebih bagus dari novelnya!!! Pengalaman pembacaanku ketika bersama Laskar Pelangi setiap malam selama seminggu hanya akan membuatku tertidur “lebih cepat”. Dan sempet tercengang dengan filmnya yang lebih bisa mengombang-ambingkan perasaanku. Dari yang diem karena “nggumun” ampe diem sesenggukan (nangis yang tak tahan karena malu ma orang2 sebelah), lengkap pokoknya. Gag heran kalo film ini mendapat berbagai penghargaan. Salut ma Mira Lesmana selaku produser dan Riri Reza sebagai sutradaranya.

Novel sang pemimpi pun hanya bisa membuatku tersenyum ketika membaca kenakalan-kenakalan Ikal bersama Arai semasa SMA. Buku yang lebih tipis dari Laskar Pelangi membuatnya cepat habis di malam hari (kebiasaan baca buku di malam hari dengan bantuan sentolop dan tiduran). Buku kedua ini sifatnya lebih menghibur. Dan ternyata kejadian menonton Laskar Pelangi terulang lagi ketika liat Sang Pemimpi beberapa hari yang lalu. Hi…. Keren…. Apik…. Mengharukan…. Apalagi waktu si Ikal mengejar ayahnya akibat raportnya jelek… Dwuh… leleh aku… (langsung pengen peluk bapakku).

Settingan tentang masa lalu nampak dipikirkan dengan matang-matang. Dari uang yang didapatkan ketiga pemeran utama setelah selesai bekerja (uang jadul yang lungset puol), plat nomer (tahun keluaran motor gag kalah kunonya) yang lalu lalang sebagai aksesoris film, serta spanduk bertuliskan SIPENMARU yang dijamanku bernama SPMB. Semua menarik dan terlihat nyata sekali. Pemain2nya yang jauh dari ganteng dan asli orang Belitong ini natural dalam memerankan perannya (kok yo dapet ya orang-orang seperti Landung Simatupang sebagai Pak Mustar, Ahmad Syaifullah sebagai Arai remaja, dll). Pokoknya film ini rugi dweh kalo gag di tonton.    

Judulnya aja Sang Pemimpi, tentu isinya adalah seputar impian-impian. Yap… Mimpi. Menyenangkan mempunyai mimpi yang sanggup membuat kita bersemangat menjalani aktifitas di setiap harinya. Impian Ikal dan Arai yang terdengar “gag mungkin” pun terwujud dengan pelan tapi pasti melalui proses yang tak mudah. Satu yang pasti dari film dan novel ini, bahwa kesuksesan itu dimulai sedari dini. Mimpi, kemauan, dan kerja keras itu kunci utamanya. Andai kita tak punya impian, terus target untuk melanjutkan hidup itu apa? Mimpi aja gag berani, gimana bisa meraih sesuatu yang “besar”?

“Bermimpilah, maka dunia akan memeluk mimpimu” (Andrea Hirata).

Langsung merinding dweh denger kalimat ini. Kata-kata “dunia akan memeluk mimpimu” seakan terasa hangat di jiwa ini, ngerasa sudah dipeluk jika kita mulai merajut mimpi tersebut dengan bekerja keras.

Fungsi mimpi adalah sebagai alarm dan jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan.  Mimpi sebagai alarm adalah agar kita selalu konsisten dan penuh ketekunan untuk mereliasasikannya. Dalam menggapai mimpi tersebut, pasti akan begitu banyak halangan, hambatan yang akan kita jumpai. Sebuah halangan baik kecil atau besar yang dapat meruntuhkan nyali kita. Nah jika kita tidak mengingat kembali apa mimpi kita, tentu kita akan segera melupakan mimpi kita tersebut dan segera mengambil keputusan bahwa mimpi itu tidak akan pernah berhasil diwujudkan karena kita telah terjebak pada pemikiran yang segera memutuskan impian kita dengan keinginan kita.

Nah disinilah arti mimpi sebagai alarm (pengingat) kita. Jadi di saat kita mulai putus asa, coba ingatlah kembali mimpi kita. Dengan mengingat kembali, itu akan membuat kita bertambah kuat dan termotivasi. Dan ketika kita berhasil untuk mewujudkan mimpi tersebut, sadarilah bahwa kenapa kita bisa berhasil mewujudkannya adalah tiada lain, karena mimpi kita menuntun untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Mimpi adalah jembatan antara imajinasi menjadi realita (http://etipsbali.wordpress.com/e-tips-article/sisi-lain-dari-kekuatan-mimpi/).

Tapi kita tak boleh lupa bagaimana mimpi itu bisa terwujud. Bermimpilah setinggi mungkin, terus mandi, terus lakukan sesuatu yang berhubungan dengan  mimpimu, terus berdoa deh (Anggun C. S.).

Jadi ada semangat besar untuk meraih mimpiku bersamanya…. Tak lupa dengan restuNya pasti…. 😉



5 Responses to “Menguak Sang Pemimpi”

  • defidancow Says:

    daripada cerpen aq lebih suka yang seperti ini..
    semacam argumen + ulasan suatu hal ++ dorongan/motifasi..
    (ga’ ngerti aq tulisan kayak gini disebut apa..)

    kalo bace cerpen suka bingung..
    (ga’ mudeng pokok’e.. kayaknya repot banget kalo baca sambil banyangin setting tempat n enspresi tokohny..) satu2nya cerpen ato novel yang tak ingat critanya “padang seribu malaikat”

    belum nonton sang pemimpi.. g komen de..

  • diva Says:

    makanya…kalau belum nonton nie film…coba dweh nonton…bener2 inspiratif bgt…
    padang seribu malaikat??belum baca twuh novel…tak pikir bacaanmu komik doang…dulu wktu sma kan kamu sering minjemin ak..dari yang gag suka ceritanya, ampe akhirnya ikut2an gila komik kayak kamu..xixixi..

  • defidancow Says:

    nunggu bajakan temen aja.. berat di ongkos..

    g nyoba bikin novel sendiri?? aq baru baca novel karangan kenalan q.. “gorilove”.. pokoknya isinya bikin pengn buat novel sendiri..km coba buat aja!! baca novel kenalan rasanya beda,, (g perlu repot bayangin setting latar n ekspresi tokohnya,,) ntar cetakan pertama kasih k aq..
    kan lumayan dapat gratisan.. ($_,$),,
    tak tunggu karyanya,,

  • diva Says:

    hohoho…senengane kok gratisan….
    tapi sastra yang baik itu yang ada jarak antara karya dengan pengarangnya low…kalo cerita novel sama dengan kehidupan aslinya bukan sastra namanya…tapi buku harian…hehe..
    doain aja bisa nulis baik dan bagus… 🙂

  • cencen Says:

    ingin meraih mimpi.. 🙂

Leave a Reply