Al-Gibran

Alhamdulillah.. Enaknya tinggal di Indonesia itu kalau mau belajar membaca Al-Qur`an tempatnya banyak. Ga di desa ga di kota, akses untuk belajarnya tinggal milih, cuma kitanya saja yang mau atau ga membenahi apa yang salah di dalam bacaan kita. Jangan merasa sudah benar dan ahli dengan bacaan kita ya, karena dari belum sekolah hingga SMP, orang tua saya selalu mengundang guru ngaji kerumah, nyatanya saya termasuk yang kurang lancar dalam membaca Al-Qur`an. Mungkin kurang serius juga sih ngajinya. Saya masih inget, jaman SD, kalau jamnya ngaji sore, saya malah lari-lari minta main saja. Ngaji juga ga pernah lebih dari satu halaman. Subhanalloh.. Nakalnya saya duluuuuu.. Untuk guru ngaji saya yang berganti-ganti, Pak Nur, Mbak Roh, dan Pak Firdaus, maafkan saya ya, dulu susah banget diajak ngaji. Dan terima kasih, sudah sabar mengajari saya yang waktu itu masih bandel banget, hm.. nyeselnya baru sekarang. Al-Fatehah untuk mereka.. Semoga hidupnya berkah, amien.

Tapi saya bersyukur banget, ada sekolah ngaji deket rumah, yang bisa dijangkau dengan jalan kaki, atau kalau mau naik angkot cuma bayar 2000, hehehe (bagi saya, akses kemana saja itu nyaman dan bikin happy kalau tempatnya dekat rumah). Apa yang masih salah dalam bacaan saya, bisa diperbaiki. Nama sekolahnya Al-Gibran. Ngajinya setiap hari Selasa dan Rabu. Khusus hari Selasa, kami ada kelas tahsin. Benar-benar dikupas tajwidnya. Mulai dari ikhfa apa, mad apa, cara bacanya, dan ada beberapa nama yang saya benar-benar baru tahu, wkwkwk. Plus untuk pertama kalinya saya ngaji pakai lagu.

gib45

Al-Gibran cabang Cinere

“Tidaklah termasuk umatku orang yang membaca Al-Qur`an tanpa lagu”. HR. Imam Bukhori

Butuh konsentrasi lebih untuk memadukan lagu serta tajwid yang benar, yang sampai sekarang belum betul-betul saya kuasai (alias masih belajar). Tapi lama kelamaan memang enak pakai lagu lho, jadi senang ngaji plus sekalian olah vokal (wkwkwk.. narsis). Ada tujuh macam seni lagu dalam membaca Al-Qur`an, antara lain bayati, syika, jiharka, nahawan, shoba, dan lain-lain. Nah, di Al-Gibran sebenarnya standart lagunya pakai nada nahawand, tapi karena group saya banyak ibu-ibunya, jadi pakai nada bayati.

gib3

Namanya Ustad Abdur Rozak. Beliaulah yang membimbing kami untuk bisa lebih memahami Al-Qur`an

Untuk hari Rabu berselang seling, minggu pertama fiqih, minggu berikutnya tafsir, alhamdulillah.. Saya senang banget bisa mendalami kalam Alloh bersama ibu-ibu yang juga mau dibenarkan bacaannya. Bagi saya yang mengeyam sekolah negeri terus dari SD-kuliah (alias ga mondok atau disekolahkan di sekolah yang berbau-bau Islam), ini adalah kemewahan ilmu sekaligus rejeki yang tak ternilai harganya.

Ibarat kita dapat surat dari orang yang kita idola-idolakan dan dia berbahasa Korea, tentu kita mati-matian untuk menerjemahkan, atau les bahasa Korea agar fasih berbicara dan memahami bahasa Korea dari orang yang kita idolakan. Ya.. Sama saja, Al-Qur`an adalah “surat cinta” dari Alloh untuk kita. Masak sih, kita ga mau mendalami bahasa dari “dzat” yang paling kita cintai ini?

gib54

gib40

Bersama ibui-ibu yang semangat belajar

Oiya, untuk teman-teman pembaca yang ingin belajar membaca Al-Qur`an lebih baik dan benar di Jakarta, bisa ikut sekolah di Al-Gibran, karena sejak Al-Gibran berdiri tiga tahun lalu, sekarang Al-Gibran memiliki empat cabang yaitu di Cinere, Vila Mutiara, Grand Depok City, dan Pamulang. Ustadnya mayoritas lulusan PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur`an), tapi ada juga lulusan dari universitas lain, serta lulusan Yaman. Usia peserta ngaji mulai empat tahun sampai tak terhingga. Dengan berbayar biaya pendidikan 400k perbulan (di dalamnya sudah termasuk infak), itu berarti membiayai  pendidikan bagi santri yatim, dhuafa, mualaf, tahfidz 30juz, dan santri tilawah. Kalau belajar di cabang/regular, sekelas maksimal berlima, seminggu belajar dua kali, sekali pertemuan dua jam. Nah, kalau private, alias diundang kerumah, per kedatangan 100k, ustadnya bisa untuk ngajar ngaji bapak, ibu, anak, rame-rame lah pokoknya. Untuk lebih lanjut, bisa ke fanpage Facebook saja di AlgibranSekolahQur`an, atau follow twitternya algibran@g-indonesia (webnya masih under construction, kalau sudah rapi akan diinfokan kembali).

“Umi, bisa ceritakan suka duka berdirinya Al-Gibran ga?” tanya saya kepada Umi Kevin, pendiri Al-Gibran.

“Gibran itu diambil dari nama almarhum anak saya, Andi Gibran,” jawabnya.

“Dulu saya dan suami sama-sama berkarir di perusahaan swasta, berangkat pagi pulang malam. Sampai pada Januari 2012, Gibran divonis leukemia. Saya langsung resign hari itu juga. Kami sekeluarga berada pada titik balik. Hidayah kepada keluarga kami Alloh turunkan lewat sosok Gibran. Singkat kata, kehidupan kami jadi lebih religious, menghadapi ujian dengan terus mendekatkan diri kepada Alloh. Suami juga resign dan mulai merintis perusahaan G-communication. Maaf bukan bermaksud riya, demi mencari ridho Alloh untuk kesembuhan Gibran, kami mewakafkan rumah di jalan PLN untuk rumah tahfidz Nurul Qur`an,” sambungnya.

“Kami juga belajar manajemen mengelola rumah tahfidz karena santrinya menginap dan mereka yatim dhuafa. Lalu banyak donator-donatur yang komplain, kenapa cuma anak-anak yatim dhuafa saja yang diajarin Al-Qur`an, sementara mereka yang memiliki kesanggupan biaya, ingin juga anak-anaknya belajar Al-Qur`an. Akhirnya, setelah diskusi sana sini dengan para kyai dan ustadz, termasuk masalah hukum dan sebagainya, akhirnya berdirilah Al-Gibran sekolah Qur`an. Di sisi lain, rumah tahfidz sudah bisa mengelola keuangannya secara mandiri. Al-Gibran sama sekali tidak ada tujuan komersil, yang terpenting adalah semakin banyak keluarga yang bisa belajar Al-Qur`an, menjadi tempat berkembang para ustadz (karena banyak ustadz-ustadz yang masih belum seattle secara ekonomi), dan sebagai sarana jihad fi sabilillah kami sekeluarga. Singkat kata Gibran dinyatakan sembuh pada Mei 2012, tapi kembali kambuh cancer-nya di awal 2013 dan meninggal di tanggal 3 Juni 2013. Ketegarannya menghadapi sakit, kedermawanannya, keinginannya menjadi hafidz dan memiliki pesantren, itu coba saya wujudkan lewat Al-Gibran”, lanjutnya.

Umi.. Insya Alloh Gibran sudah menunggu Umi, dan keluarganya nanti di surga. Yang sabar ya Umi, insya Alloh perjuangan Umi  untuk Al-Gibran bisa dirasakan bagi orang banyak. Saya yang baru beberapa bulan sekolah di Al-Gibran saja sedikit banyak sudah bisa merasakan efek positifnya. Insya Alloh berkah Umi.. berkah..

gib18Umi Kevin, pemilik sekolah Qur`an Al-Gibran



Leave a Reply