Surga Menanti (Siapa?)

Duet maut banget ini bisa menghadirkan Abi Makki dan Syeikh Ali Jabber di waktu yang bersamaan, hehehe. Alhamdulillah bisa ikut kajian langsung, meski sebenarnya bisa live report lewat radio, atau streaming di youtube, tapi kalau saya pribadi sih lebih bisa menikmati kalau mencatat poin demi poin yang beliau-beliau sampaikan tepat di hadapan saya.

Syeikh Ali Jabber datangnya agak telat, jadi hampir dua jam pertama diisi oleh Abi Makki. Ustad ini yaaa.. sirah nabawi-nya manteb banget! Jadi senang dan ga bosen kalau mendengarkan beliau cerita.

a1

“Ya Nabi Allohhhhh.. Sebenarnya Alloh itu adil atau dzolim?” tanya seorang umat Nabi Daud kala itu.

“Tentu saja Alloh itu adil, kenapa ya Fulan?” Nabi Daud bertanya balik kepada si Fulan.

“Saya ini ibu dari 3 anak yang masih kecil-kecil ya Nabi. Saya harus menghidupi anak-anak saya sendiri dengan menenun selembar kain yang harus saya tenun selama seminggu dan biasanya kain tenun itu terjual dengan harga 10 dirham. Tepat ketika saya selesai menggulung kain tersebut dan akan menjualnya ke kota, tiba-tiba seekor burung mencuri kain itu. Padahal hanya itu satu-satunya barang yang bisa saya jual. Katakan kepada saya ya Nabi Alloh, Alloh itu adil atau dzolim?” tanya si Fulan dengan nada geram.

Tak lama kemudian, ada sepuluh saudagar kaya mendatangi rumah Nabi Daud.

“Ya Nabi Alloh.. Kami baru saja selamat dari maut,” kata salah seorang saudagar.

“Ada apa gerangan wahai para saudagar?” tanya Nabi Daud.

“Kapal kami menabrak salah satu karang dan berlubang cukup besar. Tidak ada barang di kapal kami yang bisa menutupi lubang tersebut. Tapi tiba-tiba saja seekor burung menjatuhkan gulungan kain yang ukurannya pas dengan lubang itu. Akhirnya kami berhasil menepi ke daratan hingga selamat. Kami berjanji ya Nabi Alloh, untuk menginfakkan 10 dirham dari masing-masing kami (yang berarti 100 dirham) kepada pemilik kain tenun ini yang telah menyelamatkan kami,” jelas saudagar tersebut.

“Apakah ini kainmu ya Fulan?” tanya Nabi Daud kepada Fulan.

“Masya Alloh.. Benar ya Nabi Alloh,” jawab si Fulan terkejut.

“Jika di pasar, kainmu hanya biasa terjual 10 dirham, burung ini membantu kau berjualan di lautan dan berhasil menjualnya seharga 100 dirham,” seru Nabi Daud.

“Para jamaah yang hadir, dalam segala hal itu pasti ada kebaikan. Ahli surga itu ga pernah su`udzon. Maka kita harus yakin, bahwa Alloh itu sempurna. Alloh itu ga mungkin salah memilihkan sesuatu untuk kita. Sekali pun tentang musibah. Bisa jadi musibah itu baik untuk yang terkena musibah atau keluarga yang terkena musibah. Yang terpenting, selalu khusnudzon kepada Alloh,” seru Abi Makki.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 216)

“Orang mendapat musibah itu insya Alloh mendapat pahala (jika bersabar) dan (yakin) mendapat ganti sesuatu yang baik, bisa diganti di dunia bisa juga di akhirat, berikut doanya:

Innaa Lillaahi Wainnaa Ilaihi Raaji’uun, Allaahumma’jurnii Fii Musiibatii Waahliflii Khairan Minha

Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya. (HR. Ahmad dan Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi).

 

“Jika kita tertimpa musibah, yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berdoa, dan bertawakal. Tawakal itu adalah senjata paling ampuh untuk umat muslim. Disaat semua usaha dan doa sudah dilakukan tapi kita merasa  belum menemukan jalan keluar dari sebuah musibah, sesungguhnya saat-saat itu adalah yang terpenting, saat-saat itu adalah saat-saat ujian. Masih bersabar minta tolong hanya kepada Alloh, atau minta tolong kepada yang lain, atau malah putus asa,” lanjut Abi Makki.

“Tanda-tanda orang beriman itu mencintai orang-orang beriman. Satu teman berarti satu safaat untuk kita. Diakhirat nanti, ada manusia yang harusnya tinggal dineraka, tapi akhirnya bisa tinggal di surga Alloh bukan karena sholatnya, puasanya, zakatnya, atau sedekahnya, tapi karena memiliki teman yang soleh, yang merasa tak nyaman di surga tanpa sahabat karibnya ini. Masya Alloh.. Masuk surga itu rame-rame bersama dengan idolanya, jadi, pastikan jangan salah memilih idola,” tutup Abi Makki.

Tak beberapa lama kemudian, Syeikh Ali Jabber datang. Beliau hanya mengisi kajian tak lebih dari satu setengah jam, tapi padat berisi, penuh makna.

“Amalan-amalan yang harus diperbanyak selama bulan Ramadhan ini adalah membaca Al-Qur`an dan sedekah. Jika di hari biasa satu huruf Al-Qur`an hanya berpahala $10, maka di bulan Ramadhan, satu huruf dihargai $100. Maka perbanyaklah membaca Al-Qur`an. Bagi yang belum lancar bacaannya, atau sedang dalam taraf belajar membaca Al-Qur`an, pahalanya bisa lebih banyak lagi karena semangatnya,” terang Syeikh Ali Jabber.

“Di Indonesia, ada sekitar 3 juta orang yang tunanetra, dan sebagian besar adalah fakir miskin. Perlu diketahui, Al-Qur`an braile itu harganya sekitar 5-6 juta. Dan bagi tunanetra, jika ingin membawa Al-Qur`an kemana-mana, berarti harus jadi tukang angkut sekaligus karena berat total dari 30 juz adalah 18-20kg, kasihan, sungguh tidak praktis,” ujar Syeikh Ali Jabber.

“Untuk itu, pertama kalinya di dunia, hanya ada di Indonesia (belum ada dimana-mana), telah hadir Al-Qur`an braile digital. Harganya 1 jutaan, dan kemarin sudah diberikan kepada 1500 tunanetra di Surabaya. Yang memotivasi saya untuk menggalakkan penyebaran Al-Qur`an braile digital ini adalah karena Nabi Muhammad pernah ditegur Alloh SWT karena sempat tak menghiraukan seorang yang buta di Surat Abasa ayat 1-10 (setelah saya browsing, saya terharu sekali dengan asbabul nuzul-nya ayat-ayat ini, Masya Alloh),” urai Syeikh Ali Jabber.

 

Masya Alloh.. Kepikiran banget gitu ya orang ini bikin Al-Qur`an braile digital. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Insya Alloh pahala setiap huruf Al-Qur`an yang dibaca para tunanetra ini mengalir deras di tabungan akhiratmu ya Syeikh Ali Jabber, aammiieenn.. ya robbal alamin..

 

 



2 Responses to “Surga Menanti (Siapa?)”

  • Mudjiwati Says:

    Saya ingin berpartisipasi

  • diva Says:

    Hay Mbaaaak Mudjiwati.. Kalau ingin berpartisipasi, bisa infaq ke rekening mandiri 0060058585856 a/n Yayasan Qur`an Braille Digital. Nomer Telpon yayasan : 0218192210. Semoga menjadi ladang berkah untuk mbak ya.. ^_^

Leave a Reply