Apa Kabar Cinta?

Baru kali ini saya mengikuti seminar Teh Kiki setelah sebelumnya sempat mengobrol (karena kebetulan beliau adalah kakak ipar tetangga saya) dan selesai membaca dua bukunya yang selalu best seller. Aduuuhhhh.. Malu banget rasanya dengan diri ini. Baru punya anak satu saja stock sabarnya sold out melulu, nah Teh Kiki, anaknya lima (dan sekarang sedang hamil anak keenam) tapi stock sabarnya ga habis-habis.

“Zaman sekarang ya, memiliki anak cowok sama khawatirnya dengan memiliki anak cewek. Pornografi begitu merajarela. Bayangkan, uploader tertinggi usia remaja berasal dari Indonesia! Cara termudah untuk menghancurkan sebuah negara adalah dengan pornografi. Jika narkoba hanya merusak tiga bagian otak, maka pornografi merusak lima bagian otak. Pornografi itu menghilangkan minat baca, menjadikan anak malas, dan menjadikan anak nekad,” kata Teh Kiki.

“Ingin menikahkan anak tanpa pacaran itu mulainya sejak bayi. Usahakan tidak memberikan tontonan yang tidak mendidik. Semisal cerita tentang princess, jangan kaget kalau pas remaja, anak kita ingin pacaran dan genit dengan laki-laki. Lha asupan bacaan dan tontonannya sedari kecil Frozen, Putri Salju, Cinderella, dll. Anak-anak krisis idola karena orang tua ‘salah’ memberikan idola. Begitu juga dengan yang laki-laki. Usahakan tidak memberikan tontonan yang berupa kekerasan fisik,” lanjut Teh Kiki. Duh.. Reminder banget bagian ini. Soalnya Fazna suka banget dengan Frozen, tapi sebenarnya dia lebih suka lagunya saja sih. Kalau jalan ceritanya, dia dari awal saya samar-samarin. Misalnya dalam buku tersebut ada laki-laki dan perempuan saling berpelukan, biasanya saya cerita kalau yang boleh beradegan seperti itu hanyalah papa dan mama. Tapi mulai detik ini saya akan lebih selektif lagi mencari buku-buku yang lebih mendidik. Sementara buku-buku princes-princes-an saya sembunyikan, hehehe. Kepada penerbit-penerbit buku, pleaseeeee.. Bikin buku cerita tentang sirah nabawi beserta gambarnya yang bagus-bagus dan terjangkau ya (karena biasanya buku-buku Islami anak, gambarnya kurang bagus. Sekalinya ada yang bagus, harganya melambung. Makanya terjangkau itu penting, agar bisa dinikmati semua kalangan. Kalau yang bisa membeli dan membaca kalangan atas saja, bagaimana pendidikan di kalangan bawah?)! Insya Alloh saya akan bersuka hati membelinya.

“Sebelum anak dimabuk cinta, kenalkan bagaimana Islam mengajarkan cinta. Karena cinta itu fitrah manusia.

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS. Ali-Imron: 14).

Cinta adalah karunia dari Alloh bagi orang-orang beriman.

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Alloh) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka). (QS. Maryam: 96).

Bagaimana caranya mendidik anak agar cinta kepada Alloh SWT dan Rasululloh SAW? Yaitu dengan mengajarkan ilmu yang menumbuhkan, mengokohkan, dan menyuburkan keimanan. Memberikan teladan dalam amal sebagai buah dari keimanan. Menjaga dari segala sesuatu yang merusak keimanan. Menggali hikmah kejadian sehari-hari agar semakin menyuburkan keimanan. Dan memastikan keistiqomahan Islam,” terang beliau. Kalau ingin memiliki anak-anak yang istimewa, maka orang tuanya pun harus memiliki waktu istimewa (disiplin) untuk belajar banyak hal. Karena mendidik anak pun butuh ilmu yang tak sederhana. Sikap diatur. Tata bahasa diatur. Bahkan menjaga nada untuk tidak meninggi karena gemas pun juga diatur.

teh kiki2

Bagaimana sih menjadikan Rasullulloh SAW idola anak?  Yaitu dengan menjadikan sirah Rasululloh SAW dan para nabi sebagai kurikulum wajib pendidikan anak dalam keluarga. Mengorelasikan kejadian yang kita alami dengan kehidupan Rasululloh SAW baik perbuatan maupun perkataan beliau. Menghadirkan sosok Rasululloh SAW sebagai idola bagi anak serta menghindari segala hal yang membuat anak mengidolakan yang lainnya,” urainya. Nah.. Ini yang masih jadi PR buat saya. Sosok Nabi Muhammad yang selalu digambarkan dalam bentuk cahaya ini masih belum bisa diterima Fazna sepenuhnya. Perlu ikhtiar lebih keras untuk memahamkan dia siapa sosok Rasullulloh ini, bagaimana kehidupannya, dan kebaikan-kebaikannya. Bismillah… Semoga saya bisa istiqomah mengajari Fazna, doakan ya?

“Mengajarkan agama saja tak cukup untuk membentengi diri. Berapa banyak anak yang sekolah di sekolah Islam tapi perilakunya masih menyimpang dari Islam? Penuhi cinta mereka sebelum haus oleh cinta. Keluarga merupakan lingkungan primer pada setiap individu. Banyak fenomena kenakalan remaja yang pada awalnya disebabkan karena kegagalan dalam membentuk lingkungan sosial dalam keluarga. Semakin sedikit cinta dan kasih sayang yang kita berikan semakin sedikit pengaruh yang dapat kita berikan. Ingat ya, anak itu akan nurut dengan orang yang dominan, maka jadikan kita sebagai orang tuanya, yang bisa mendominasi mereka, bukan teman-temannya,” seru Teh Kiki.

Dan ini adalah bagian yang membuat mata saya berkaca-kaca. Dulu, saya terkenal paling sabaarrrr jika menghadapi anak kecil. Tapi ga tahu ya, menghadapi anak sendiri kok sabarnya ga bisa maksimal ya, huhuhu.

Dapatkah kita menangkap cinta dari kekasaran? Dapatkah kita menangkap cinta dari kedzholiman? Dapatkah kita menangkap cinta dari kemarahan yang berlebihan?

Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah ra., Rasululloh SAW bersabda: Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan mencemarinya.

Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. HR. Bukhari dan Muslim,” ujar Teh Kiki mengingatkan. Saya akui, saya kadang melampiaskan kemarahan dengan berlebihan. Padahal saya sendiri ga suka kalau dengar orang marah. Kenapa bagian ini membuat mata saya berkaca-kaca? Karena saya merasaa sangattttt bersalah sekali, huhuhu. Begitu susah menurunkan ego untuk anak sendiri. Kalau anak salah, rasanyaaaaa.. Ingin mencubit saja. Merasa kita sebagai orang tuanya adalah manusia yang paling benar tanpa cacat. Padahal pesan Nabi untuk umatnya, jangan marah, jangan marah, dan jangan marah. Astagfirulloh.. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari seminar kali ini. Sekolah untuk menjadi orang tua itu ternyata penting dan sangat dibutuhkan untuk ibu baru macam saya.

teh kiki1

Yang dibutuhkan anak adalah penerimaan, penghargaan, dan pujian. Jika kebutuhan ini tidak mereka dapatkan di lingkungan keluarga, tentu mereka akan mencari ‘tempat baru’ untuk bisa diberi hal-hal tersebut,” tutur Teh Kiki.

“Upaya yang dapat dilakukan agar kita senantiasa menjadi sahabat abadi mereka adalah dengan berusaha untuk menghargai dan menerima mereka seutuhnya dan apa adanya, jadilah tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk bercerita di masa kecil, hargai setiap pemikiran dan keinginannya, penuhi rasa ingin tahu mereka dengan penuh kesabaran, hargai kejujurannya meskipun pahit, tetap berikan kepercayaan meski kita mendapati mereka berbohong, iringi dengan instropeksi diri,” jelas Teh Kiki.

“Cinta itu menghabiskan waktu. Manusia akan menghabiskan banyak waktu mereka untuk sesuatu yang mereka cintai. Maka pastikan cinta mereka hanya kepada Alloh,” cetusnya.

“Yang terakhir adalah upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk melahirkan generasi produktif:

  1. Membantu anak mendapat informasi yang benar dan penting untuk bekal hidupnya
    2. Melatih anak untuk memiliki kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
    3. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
    4. Melatih anak agar dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
    5. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah
    6. Melatih anak untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan hal baru
    7. Melatih anak untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
    8. Memastikan mereka selalu dalam kegiatan produktif dan terhindar dari kesia-siaan
    9. Merangsang anak untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kondisi ummat
    10. Bantulah mereka menemukan potensi, minat dan bakat mereka sedari dini, serta siapkan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangannya.
    11. Merangsang anak untuk memiliki visi misi hidup dan mengarahkan energi mereka untuk meraih visi misi tersebut
    12. Menyediakan berbagai sarana untuk mengaktualisasikan diri mereka dalam kegiatan yang bermanfaat
    13. Mengajarkan life skill dan melatih kemandirian,” tutup beliau.

Masya Allohhhhh.. Ada PR besar bagi kita sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kita yang merupakan anak-anak generasi penghujung zaman. Semoga kita dimampukan untuk menjadi orang tua yang sabar, sabar, sabar, amien.

 



2 Responses to “Apa Kabar Cinta?”

  • ari aeco Says:

    Jadi introspeksi pake banget ni mbak,, diriku masih-masih jauh dari sabar ketika mengahadapi anak sendiri, apalagi anak saya aktif ya seperti anak-anak lainnya,, apalagi dicampur rasa lelah T_T ngantuk dan terkadang tingkah laku anak yang sebenarnya pengen ngajak main dan bercanda-canda terus malah jadi mengundang amarah Astagfirulllah 🙁
    Terimakasih untuk tulisannya mbak dif,,

  • diva Says:

    samaaaa.. anakku juga gitu.. sampe aku tanyain ke dokter lho, dia termasuk anak yang hiperaktif ga.. wkwkwkw.. alhamdulillah sih enggak.. jadi ya sabar-sabar aja ibu bapaknya.. hehehe

Leave a Reply