Green Canyon bener-bener Green Oey!!

P1140027Alloh Maha Indah… Semua “buatanNya” menyimpan keajaiban-keajaiban yang tak ada duanya. Melihat goresan “tangan-Nya”, diri ini jadi merasa kecilllll.. banget….  Untuk itulah kita sebaiknya menghargai sebuah seni, karena Alloh suka dengan keindahan, sedangkan keindahan itu identik dengan seni.  Mempunyai waktu liburan yang gag cukup panjang, cukup membuat otak berputar enaknya mau kemana. Jadi, daripada wisata di mall (baca: belanja), lebih bijak jika kita wisata alam yang bisa menyehatkan pikiran dan mata. Kalau di Arizona (Amerika) terkenal dengan Grand Canyon, maka Cijulang (Indonesia) terkenal dengan Green Canyonnya. Perbedaannya terletak pada awal kata, Green dan Grand, tapi memberikan arti yang cukup besar (gag kalah ya??).

P1140016Start petualangan dimulai dari Kertosono pukul dua siang. Setelah melalui perjalanan selama lima jam lewat jalur darat, kami sekeluarga (formasi berempat: sopir, bapak, ibu, dan difana) berhenti dan menginap di Yogyakarta. Keesokan harinya perjalanan yang membosankan dimulai dari pukul 5 pagi dan sampai di tempat tujuan pukul 3 sore. 10 jam perjalanan yang benar-benar  melelahkan. Green Canyon atau sering disebut oleh masyarakat setempat Cukang Taneuh yang berarti jembatan tanah, terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Akses kesana tidak semudah yang dibayangkan. Selain jalan aspalnya yang berlubang (sangat banyak dan besar-besar) sehingga mobil tidak bisa melaju cepat, jalannya pun sempit. Sempet down juga sie, udah capek, jalanan gag enak, mana hujan lagi. Feelingku gag mungkin ketemu hari itu dweh. Tapi ketika sampai di dermaga Green Canyon, kepenatanku rasanya lari entah kemana gitu. Senyam-senyum sambil menghirup udara yang jauh dari panas. Pandanganku gag bisa lepas dari kanan kiri sungai, berkeliaran. Keluhanku akhirnya terbayar sudah.

P1140014Untuk menyewa satu perahu, kita dikenakan biaya 75 ribu. Satu perahu hasil buatan pribumi ini bisa ditumpangi sekitar lima sampai enam orang (tergantung besar kecil orangnya). Setiap perahu dipandu oleh dua orang yang berbeda tugas, satunya sebagai guide dadakan, yang lainnya sebagai pengendara perahu. Kita pun bisa memilih, perahu tersebut jalan dengan dayung atau dengan mesin. Kalau kita mempunyai waktu yang cukup longgar serta gag antri, ada baiknya perahu dikendalikan dengan dayung, bisa menghabiskan waktu lebih kurang dua jam pulang pergi. Selain bisa lebih lama menikmati eksotisme alam, kita juga bisa melihat hewan-hewan yang silih berganti bermunculan (karena kondisinya tenang, jadi mereka leluasa menampakkan tubuhnya).

P1140025Kalau melaju dengan mesin hanya sekitar 30 menit pulang pergi. Suaranya yang menderu cukup mengganggu para hewan, jadi mereka jarang muncul dweh. Beruntung aku, meskipun mesin dinyalakan tapi masih bisa bertemu dengan biawak yang sedang berenang santai dan burung udang yang berwarna biru terang, cantikkkkk…banget….Subhanalloh… (sayang aku gag sempet mengabadikannya, habis cepet bgt muncul dan lenyapnya).

IMG_0867

Perahu yang dikayuh menggunakan dayung pun tergantung pada kondisi warna sungai. Kalau berwarna coklat (biasanya habis hujan deras) ya mau gag mau harus pake mesin, tapi kalau berwarna hijau tosca, dayung sie bisa banget. Alhamdulillah aku bisa menikmati kebeningan sungai padahal habis gerimis cenderung hujan low, mana sepi lagi, jadi gag perlu ngantri dweh… Mantab! Perahu yang siap sedia pada hari-hari biasa berjumlah 10 buah. Mereka pun berlalu lalang bergantian mengantarkan pengunjung. Tapi jika musim liburan tiba, jumlah perahu pun bisa dua kali lipat. Dibuka pukul jam 9 pagi dan ditutup pukul 5 sore. Jika hari Jumat, mulai dibuka pukul 1 siang (habis Jumatan gitu).

P1140024Kanan kiri sungai yang ditumbuhi semak belukar beserta perhiasan stalaktit dan stalakmit cukup menyita perhatianku. Rasanya detailan pada batu-batu raksasa itu terukir dengan hati-hati oleh tetesan-tetesan air yang diatur oleh Sang Maha Pembuat pada suatu masa. Air terjun yang terhalang oleh bebatuan tersebut menyebabkan air yang turun pun seperti gerimis yang menyejukkan. Dan orang-orang menyebut sudut tersebut sebagai hujan abadi. Abadi…. I like this word.

P1140040Perjalanan yang ditempuh dari dermaga sampai gua Green Canyon sekitar 3 km, hampir sama dengan rute arung jeram yang berliku. Kedalaman di dermaga mungkin 7 meter, tapi mendekati gua Green Canyon lebih dangkal lagi, sekitar 3 meteran. Perahu terhenti pada lorong yang semakin menyempit. Untuk sampai di ujung gua, kita harus berani berenang atau berjalan di pinggir-pinggir dinding. Huahhhh,,,,,meskipun hoby berenang, aku gag berani dweh melakukan kesenangan ini di alam bebas. Bayangin, berenang ma biawak-biawak itu!!! Aduuuh,,,,kalo biawaknya pas laper trus liat aku berenang ma bapak, ibu, n pemandunya doang, gimana jadinya.. ?? Tapi kalo sangat penasaran pengen tau ujung dari Green Canyon (yang kata orang setelah melihat selalu bilang “wiiihhh..”) dan berkendala pada berenang ada pelampung badan yang melindungi dirimu dari ketenggelaman kok. Perahu yang senantiasa setia menunggu kamu berenang gag gratis low, minta tambahan fulus seratus ribu lagi. Hayo sapa mau???? (Difana absen!!hehehe..)

IMG_0872Di sekitar Green Canyon hampir tidak ada penginapan untuk wisatawan, karena yang ada hanya rumah-rumah penduduk. Maklum, tempat pariwisata yang satu ini baru dipopulerkan oleh wisatawan asal Prancis tahun 1993-an, jadi bener2 masih asri. Padahal setiap minggunya ada wisatawan-wisatawan asal Belanda (kayak rombongan travel gitu) dateng. Beruntung lokasinya dekat dengan Pantai Pangandaran. Berjarak 30 km dari Green Canyon, Pantai Pangandaran cukup memuaskan turis asing yang rindu panasnya suhu tropis. Di daerah sini banyak penginapan, karena Pangandaran memang tujuan pariwisata untuk warga Jakarta. Tapi menurutku kok jauh dari Pecatu Bali ya?

IMG_0879Jika berkunjung kesini, jangan lupa beli oleh-oleh untuk orang-orang terkasih yang berhalangan ikut ya. Perjalanan dari Cijulang menuju ke Tasikmalaya selama dua jam akan terasa lebih lama dari biasanya karena penasaran dengan potensi yang ada di kota ini. Tasikmalaya yang biasa berbahasa Sunda ini terkenal sebagai pusat bordir dan klompen gelisnya. Gag tanggung-tanggung, klomplen tersebut terbuat dari kayu mahoni, dijamin gag menyesal dweh masuk ke kampung ini.

Selamat berwisata di bumi Jawa Barat, sobat…



8 Responses to “Green Canyon bener-bener Green Oey!!”

Leave a Reply