Family Gathering in Jogja

Setiap lebaran hari ke dua, saya beserta suami dan anak selalu mudik ke kampung halaman saya, Kertosono, Jawa Timur. Kadang naik pesawat, kadang naik kereta. Kalau saya pribadi sih suka naik kereta, selain sekarang kereta sudah tertib, teratur, dan bersih, tapi juga karena Stasiun Kertosono sangat dekat dengan rumah orang tua saya. Kalau tidak ada sopir yang menjemput, bisalah kami naik becak, hehehe. Kalau naik pesawat, dari Surabaya ke Kertosono membutuhkan waktu normal tiga jam. Tapi kalau sedang lebaran, bisa dipastikan lalu lintas semakin padat, dan akan semakin lama di jalan (duh!).

Nah, lebaran kemarin terasa berbeda. Biasanya, setiap lebaran kami berkumpul di rumah Almarhum Eyang di Kertosono, tapi kali ini kami silaturahim sekalian liburan, lengkap dengan sepupu-sepupu dari keluarga bapak. Seumur-umur, baru kali ini kami bisa family gathering sekaligus libur lebaran bareng dengan keluarga (sangat) besar. Masya Alloh.. Banyak banget (lebih kurang 50 orang) dan tentu saja sangat ramai! Mulai dari eyang-eyang hingga cucu-cucu yang berusia satu tahun, berusaha ikut semua.

Kali ini Jogja yang menjadi tujuan liburan kami. Karena wilayah Jogja yang terletak di “tengah”, maka kami yang domisilinya dimana-mana (alias pencar-pencar dari ujung ke ujung Jawa), sepakat untuk bertemu langsung di kota Gudeg ini. Alhamdulillah.. Saya dari Jakarta masih kebagian tiket kereta tambahan Argo Dwipangga. Setiba di Jogja sore itu dan bertemu keluarga, rasanya senanggggg banget bisa bertemu saudara-saudara dengan suasana baru.

2

Suasana di Kereta Argo Dwipangga, perjalanan Jakarta-Jogja.

Oiya, kami menginap di Hotel Harper Jogja selama empat hari tiga malam. Dan selama tiga hari itu, kami menyewa dua bus medium untuk mengelilingi kota Yogja. Mulai dari pusat kota, hingga ke pantai. Meski beberapa dari kami sering ke Yogja, tapi kami diperlakukan seolah-olah ikut tur beneran, hihihi. Ada guide-nya yang menjelaskan jalan-jalan yang kita lewati, ke tempat-tempat wisata baru yang asyik, dan disediakan snack-snack pengganjal perut.

1

Kamar tempat kami menginap.

9

Kondisi bus medium kami, nyaman dan bersih.

Hari pertama, kami mengunjungi museum De-Mata dan De-Arca. Di De-Mata, kami bisa foto dengan berbagai background yang disediakan. Nah, karena background fotonyanya 3D, jadi seolah-olah beneran hidup gitu. Kalau di De-Arca, yang lokasinya bersebelahan dengan De-Mata, berisi patung-patung orang berpengaruh di dunia. Meski patungnya tidak mirip banget dengan aslinya (karena bukan boneka lilin), tapi seru juga foto dengan mereka, hehehe.

12

Ya Alloh saya terlihat rakus ya? Kalau istilah orang Jawa, nggragas! Wkwkwkw.. 

14

Yeay! Naik ayam raksasa!

19

Wow kembarannya banyak!

10

Sebelum foto dengan orang aslinya, foto dulu dengan patungnya.

Setelah puas dengan foto-foto di De-Arca dan De-Mata, rombongan mengunjungi Candi Ratu Boko dan Ramayana Ballet. Tapi sayang, saya tak bisa mengikuti agenda jalan-jalan hari itu. Sebenarnya dari Jakarta saya sudah menderita radang tenggorokan (akut). Jadi, untuk menghemat daya tahan tubuh saya, maka di hari pertama jalan-jalan, saya memutuskan untuk ikut setengah hari saja, dan memilih untuk beristirahat di hotel agar keesokan harinya saya masih bisa mengikuti kegiatan. Foto-foto keluarga di Candi Ratu Boko yang sedang menikmati tea time sambil menatap matahari terbenam pun sangat menggoda saya. Insya Alloh.. Kalau saya ada waktu dan kesempatan, ingin sekali menikmati tea time disana.

11

Keponakan saya yang sedang capek, hehe.

21

Masya Alloh.. Indah sekali!

Foto-foto lihat pertunjukkan Ramayana Ballet-nya pun membuat saya ingin segera sembuh dari sakit saja, hehehe. Sabarrrrr.. Insya Alloh.. Sakit yang diterima dengan ikhlas akan menghanguskan dosa-dosa kita, aammiieenn..

IMG-20160730-WA0013[1]

Pertunjukkan Ramayana Ballet.

Agenda jalan-jalan di hari kedua adalah ke Pantai Nyadran. Tapi, ada dilema dalam keluarga kami (halah). Biasanya hanya dibutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke Pantai Nyadran ini, tapi karena masih lebaran dan volume kendaraan meningkat, waktu tempuh pun menjadi lebih kurang lima jam. Mengetahui lamanya perjalanan tersebut, ada beberapa keluarga yang akhirnya menolak untuk menaati jadwal rombongan. Setelah melalui perundingan yang alot, akhirnya diputuskan, siapa yang mau tetap berangkat ya berangkat, yang ingin stay di kota juga tidak apa-apa. Meski rasanya kurang seru karena tidak lengkap, tapi alhamdulillah.. Keluarga (sangat) besar kami saling memahami satu sama lain.

18

Candid ala-ala, hehe.

16

Pertama kalinya si bocah menginjak pasir pantai. tidak jijik, malah seneng banget!

17

Di Pantai Nyadran ini, ada tebing untuk selfie dengan background lanscape yang indah! Tapi hati-hati ya, soalnya curam banget posisinya.

Keren ya, di pantai Jogja sekarang (atau sebenarnya sudah lama, tapi saya baru tahu ya?) bisa untuk snorkling. Masya Alloh.. Pasirnya putih dan airnya bening. Sayang saya tak bisa ikut snorkling karena (lagi-lagi) harus menghemat stamina tubuh. Alhasil saya hanya bermain di bibir pantai dengan suami dan anak.

5

Peserta keluarga yang berani snorkling.

6

Untuk pertama kalinya, bapak saya yang berusia 65 tahun snorkling. Meski kakinya sedikit luka, tapi beliau mengaku sangat enjoy.

Di hari ketiga kami, jadwal kami padat sekali. Dari mulai mencari oleh-oleh berupa makanan maupun pakaian. Kami juga sempat mengunjungi Sindu Edupark. Tempat bermain seperti di Dufan tapi versi mini, hehehe. Kalau kesini jangan lupa pakai kacamata dan topi ya (di pintu masuk sudah disediakan payung kok) karena memang lokasinya yang panassss tersebab pohon-pohonnya masih kecil-kecil. Meski panas, tapi tak mengurangi keceriaan di wajah bocah-bocah nan aktif.

8

Naik mobil matic berkeliling Sindu Edupark.

20

Kakak ipar yang berpose di depan bianglala.

22

Belanja kaos Jogja di Omah Batik.

Menjelang waktu Maghrib, kami bergegas ke Stasiun Tugu untuk pulang ke Kertosono naik kereta Malioboro Express. Masya Alloh.. Ternyata satu gerbong terisi penuh oleh keluarga (sangat) besar kami. Jadilah bocah-bocah ini becanda hingga malam hari. Lari-lari di lorong kereta, ngobrol dengan saudara yang jarang ketemu. Alhamdulillah.. Nikmat mana yang kau dustakan?

13

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan Hotel Harper.

7

Keramaian di dalam Kereta Malioboro Express

Oiya, untuk teman-teman pembaca yang belum ada agenda di awal Agustus nanti, datang yuk ke Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Ada event dari Diaryhijaber yaitu Hari Hijaber Nasional, tepatnya tanggal 07-08 Agustus 2016. Bintang tamunya kece-kece lho, ada Alyssa Soebandono dan suaminya Dude Herlino, ustad yang penuh semangat, siapa lagi kalalu bukan Ustad Maulana, dan lain-lain. Sampai ketemu disana ya!

hari-hijab-nasional



Leave a Reply