The Nanny

“Lho, kalau keluarga dan tetangga-tetanggamu pada kerja di luar negeri, kenapa kamu ga sekalian kerja ke sana?” tanya saya kepada gadis lugu ini ketika pertama kali kami ngobrol dari hati ke hati.

“Terakhir ketemu Ibu saya, waktu saya masih SD kelas 2 mbak. Setelah itu Ibu saya berangkat ke Malaysia dan ga berkabar sama sekali. Katanya nyari uang untuk sekolah saya dan kakak saya, tapi malah ga ada wujudnya. Jadi saya sekolah sampai SMP saja mbak. Ibu saya seperti hilang ga balik-balik, saya trauma. Makanya setiap saya disuruh kerja ke luar negeri ama Bulik saya, saya ga mau,” sahutnya pasrah.

Oalahhhh.. Pantas.. Sewaktu dia bilang rumahnya Srengat, Blitar, Jatim, saya heran, kenapa dia mau kerja di tempat saya ya? Karena daerah tempat tinggalnya ini terkenal dengan warganya yang gemar kerja ke luar negeri sebagai TKI. Ternyata begitu alasannya. Alhamdulillah.. Berarti dibalik musibah ada hikmah yang bisa diambil, hikmahnya adalah bertemu dengan saya, hehehe.

Sudah hampir tiga tahun Ayu, nama gadis ini, resmi menjadi asisten saya dalam bersih-bersih rumah, membersihkan popok Fazna, nyuapin Fazna, atau mengajak Fazna bermain ketika saya perlu menyelesaikan urusan-urusan yang tak bisa digantikan orang lain. Orangnya baik, bersihan, dan sayang anak kecil ya mbak? Kok bisa awet begitu? Tanya beberapa orang kepada saya. Hehehe.. Tentu semuanya ga instan ya. Dulu pertama kali dia saya bawa ke Jakarta, besoknya malah ingin pulang. Wkwkwkw.. Langsung lah jurus merayu saya luncurkan.

“Dicoba dulu aja sebulan, dirasain dulu”, “Enak kerja tho, dapat uang daripada dirumah ga punya apa-apa”, “Lhaaaa.. eman-eman tiket keretanya tho, kalau kamu ga mau tak bawa ke Jakarta, mestinya dari awal kan bisa bilang, uangnya buat kamu aja”, yaaaaa seperti itu lah contoh kalimatnya, mungkin pembaca ada yang mau meng-copy-paste ya, hehehe.. dengan nada yang halus tentunya. Jurus terakhir adalah minta tolong Ibu saya untuk ngobrol dengan teman yang dulu mencarikan Ayu agar Ayu mau sedikit bersabar. Alhamdulillah akhirnya dia mau bertahan selama bulan berikutnya hingga sekarang.

Dulu, dia ga sebersih sekarang. Kemana-mana jarang pakai sandal lho! Cucian kurang bersih dan setrikaan pun ga licin alias masih kusut. Yaaa.. Tapi pelan-pelan diajari, dicontohi, yang kurang bener dibenerin, yang kurang sopan dikasih tahu bagaimana yang sopan, intinya membimbing berkali-kali tanpa bosan. Tiap mau marah, saya langsung tarik nafas dan menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Saya mencoba fokus pada masalah, bukan pada siapa yang membuat masalah (pelajaran yang sampai saat ini saya pelajari). Kalau fokus pada “siapa” jelas ga akan pernah menyelesaikan masalah, ujungnya malah nambah masalah.

Pernah suatu kali saya mendiamkan dia, saya lupa gara-gara apa. Alhasil setelah seharian tak bertegur sapa, esoknya saya panggil dia, ngomong dari hati-ke hati, dan akhirnya kami menangis bersama. Hahahha.. Kami sama-sama cengeng sepertinya. Tapi setelah kejadian itu, chemistry diantara kami justru semakin baik. Dia tahu apa yang membuat saya sekiranya ga suka. Saya pun tahu apa yang dia suka dan ga suka. Tolong, minta maaf, terima kasih adalah kata-kata yang tak pernah lupa saya selipkan untuk dia.

Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)

Awalnya saya ga terfikir untuk memberi hadiah di hari ulang tahunnya, eh tapi ketika Fazna ulang tahun, dia sempat-sempatnya membelikan Fazna mainan. Tak jarang ketika sedang belanja apa gitu, Fazna selalu dibelikan mainan, cemilan, bahkan aksesoris rambut pakai uang pribadinya. Sejauh yang saya pantau dia memang terlihat sayang dengan Fazna. Gantian, ketika dia berulang tahun, saya dan suami pun berinisiatif memberi sesuatu yang dia inginkan, dan alhamdulillah dia senang sekali.

Kalau tahu video Fazna yang gemar bersholawat ala Jawa timuran di media sosial, sudah pasti itu bukan saya gurunya, hahahha. Mana bisa saya sefasih itu. Ayu yang di desanya dulu suka diba`an (sejenis yasinan di kampung) kini ditularkan kepada Fazna. Jangan salah, saya pun jadi tahu dan ikut-ikutan bersholawat ala dia, hahaha. Asal artinya bagus, ga ada masalah, toh itu kan puji-pujian untuk junjungan Nabi kita tercinta.

Fazna juga sangat dekat dan sayang dengan Ayu. Bahkan, 2 tahun silam ketika Ayu mudik ke Blitar, Fazna terserang demam karena kangen Ayu, zzzzzz. Sedih sih, kok bisa sedekat itu ama Ayu. Saya sampai disuruh evaluasi suami, kenapa Fazna bisa nempel banget ke Ayu. Setelah bertemu dengan Ayu, demam Fazna pun berangsur-angsur turun.

Keberadaannya jadi semakin berasa ketika saya dan suami ingin punya waktu lebih untuk berduaan. Kami bisa belanja barang-barang penting tanpa ada ‘gangguan’, kencan, nonton, atau hal-hal penting lainnya, tanpa rasa bersalah. Alhamdulillah.. Quality time dengan suami masih terjaga, dan saya bersyukur untuk hal itu.

Saya tahu bahwa mungkin dia tak selamanya ikut saya. Bagi dia, sekarang adalah “umur rawan” untuk mencari jodoh. Dia sering bercerita bahwa di kampungnya, teman-teman sekolahnya banyak yang sudah menikah.

“Yu, kamu ikut aku sampai kamu mau nikah aja ya, jangan ganti-ganti lagi (sebelum ikut saya, paling lama dia ikut orang cuma setahun). Atau mending kalau nyari suami, yang rumahnya deket-deket sini aja, jadi kamu bisa ngontrak rumah deket-deket sini juga. Ntar kalau kamu sudah nikah, kamu kerjanya datang pagi pulang sore aja. Jadi malamnya masih bisa ngerawat anak dan suamimu. Kalau masalah gaji ga usah khawatir. Semakin lama kamu ikut aku kan ya mesthi tak naikin tho,” saran saya untuk Ayu.

“Ya pengennya gitu mbak, tapi masalahnya belum ada cowok deket-deket sini yang mau sama saya,” jawabnya. Dan kami tertawa bersama-sama.

Sebagai orang yang ‘diikuti’-nya, saya juga bertanggung jawab untuk  perbaikan akhlaknya. Saya membelikan dan meminjaminya buku-buku Ustad Felix, mengajak sharing tentang pengetahuan Islam-nya yang saya rasa kurang, membelikan pakaian yang serba panjang, hingga mengajak dia ke pengajian. Alhamdulillah sekarang kalau dia keluar pakai jilbab, tanpa ada paksaan dari siapa pun.

Selain itu, saya juga ikut memetakan alokasi penghasilannya. Mulai dari bikin atm, hingga merubah uang tunai menjadi barang berharga lainnya. Ayu sih memang tak nampak sebagai gadis yang boros atau ingin ini itu. Jadi lebih gampang diaturnya.

Oiya, alhamdulillah lagi, beberapa bulan yang lalu dia akhirnya bisa melihat wajah ibunya lewat video call. Itu artinya ibunya masih ada dan berjanji lebaran tahun depan ingin pulang bertemu Ayu dan kakak lelakinya. Sewaktu Ayu cerita tentang kronologi ibunya, matanya berbinar-binar sekali. Antara bahagia dan terharu. Alhamdulillah..

Meski terbesit kekhawatiran jangan-jangan Ayu akan dibujuk ibunya untuk ikut ke Malaysia, tapi semua saya serahkan kepada Sang Pembolak-Balik Hati. Suatu saat, ada waktunya mungkin jodoh kami usai, tapi saya berharap semoga nanti dia bisa mendapat penghidupan yang lebih baik dari ketika ikut saya dan suami.

Ayu bukanlah asisten rumah tangga yang sempurna. Ada banyak kekurangan di setiap pekerjaannya. Tapi terlepas dari itu semua, saya bersyukur punya Ayu yang bertanggung jawab, sayang dengan Fazna, dan ga minder dengan orang lain.

Alhamdulillah.. Baik-baik disini ya Yu..

img_20160921_0808001



4 Responses to “The Nanny”

  • Amif Says:

    bagus true story nya mba,, menginspirasi. banyak hikmah yang bisa dibagikan

  • Ahmad Says:

    Terimakasih, sudah sharing ceritanya. Kasih sayang dan kesabaran kuncinya.

  • Andri Wiyasa Says:

    Cerita yang bagus…

    Klo di keluarga saya, jika ada yang turut meringankan pekerjaan di rumah, saya anggap bukan sebagai pembantu atau asisten rumah tangga, tapi menjadi bagian dari keluarga kami…

    Semoga mereka dan kita semua bisa menikmati hidup yg sesuai dengan jalan yang Allah Ridhoi…

    Aamiin…

    Andri Wiyasa – http://www.UYMnetwork.com

  • Anonymous Says:

    walaupun seorang pembantu /asisten rumah tangga merwka juga manusia,kalau kita baik tapi tegas,mendidik tapi tidak terlalu menuntut maka inshallah akan terjalin chemistry yg baik.very inspiring experience

Leave a Reply