(Hampir) Kehilangan

Beberapa minggu yang lalu saya hampir kehilangan seseorang yang sudah seperti bagian dari keluarga saya sendiri. Tiba-tiba saja, asisten rumah tangga saya, Ayu, pergi tanpa pamit lewat surat yang diletakkan di sofa tempat saya biasa duduk. Dia menyatakan bahwa dia tidak ingin bekerja kepada saya lagi. Seketika terasa ada “lubang” yang menganga di hati saya saat itu. Dia yang sudah seperti adik saya sendiri telah menginginkan pergi dari sisi saya. Nangis? Iya.. Saya nangis. Entahlah.. Saya paling ga bisa “ditinggal”. Fazna? Jangan ditanya.. Hampir setiap dia bosan, dia selalu bertanya,”Mbak Ayu mana?”

Beberapa hari sejak kepergiannya, ritme kehidupan saya berubah. Benar-benar totally house wife lah, hehehe. Tapi anehnya saya menikmatinya. Jadi flash back zaman-zaman di Auckland, “sendiri”. Perlahan-lahan saya mulai mengikhlaskan Ayu, yang saya pikir akan menyusul ibunya di Malaysia. Mem-WA dia untuk kapan-kapan kita bertemu, tapi jangan sampai Fazna melihat dia, karena saya saja berat ditinggal Ayu, apalagi Fazna. Kami dengannya sudah “melekat”.

Di saat kami sudah mulai mengikhlaskannya, tiba-tiba seminggu kemudian saya ditelpon olehnya dalam keadaan nangis. Kontan saya kaget dan sangat khawatir dengan keadaannya. Dia dimana? Diapakan oleh siapa? Saya penasaran sekaligus tak tahu apa-apa tentang keberadaannya. Akhirnya kami mengobrol di WA. Singkat cerita, dibantu oleh teman saya untuk melacak keberadaannya, Ayu ternyata sudah bekerja di tempat lain, tapi masih di Jakarta juga. Dia masuk di sebuah yayasan penyalur baby sitter, dengan maksud mencari pengalaman lain (dan tentu saja gaji lebih besar). Tapi setelah ditempatkan di sebuah rumah tangga, yang kebetulan majikannya berlatar belakang budayanya berbeda, dia tidak menikmati pekerjaannya, dia tidak kerasan. Dia mengirim foto kepada saya dalam keadaan nangis. Katanya dia kangen Fazna dan ingin kembali bekerja kepada saya.

Masya Alloh, rasanya campur-campur. Ada perasaan senang mendengar dia ingin kembali, ada perasaan sebal karena merasa ditinggal, dikhianati, tapi ada perasaan kasihan juga karena mengingat dia jauh dari ibunya sedari kecil. Memaafkan memang tak mudah, tapi belajar memaafkan itu harus. Tak ada manusia yang benar-benar sempurna. Saya pernah membaca sebuah hadist (entah shohih entah kurang), intinya dalam sehari saya atau semua majikan harus memaafkan 70x kesalahan asistennya dalam sehari. Nah lo.. Jadi Kesindir kan..

Sebagai manusia, tentu saya juga pernah salah dalam membimbingnya. Saya ingat, sebelum sore kepergiannya, paginya dia saya ingatkan untuk beberapa item pekerjaan rumah tangga yang belum terselesaikan dari seminggu yang lalu. Iya.. seminggu yang lalu. Mungkin saya agak keras mengingatkannya, mungkin dia juga pas suntuk, sorenya dia memutuskan pergi dari saya.

Kepergiannya kemarin membuat kami saling belajar. Saya dituntut untuk lebih sabar karena mencari asisten rumah tangga itu tak mudah dan saya dituntut untuk lebih tidak bergantung pada orang lain, karena ketika suatu saat dia pergi untuk benar-benar tak kembali, saya siap. Di sisi dia, dia juga belajar, bahwa bekerja itu tak selalu melulu tentang gaji. Majikan yang bisa meleluasakan asistennya untuk berkembang itu biasanya bisa lebih membuat nyaman.

Sebenarnya cerita drama ini sangat panjang. Tapi biarlah keluarga kami yang tahu. Intinya, marilah belajar memaafkan, sering ngomong dari hati ke hati, agar lebih plong dan kuat menjalani kehidupan. Toh masih ada kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan lagi. Bismillah.. Doain hubungan kami langgeng dan saling menguntungkan yaaa. 🙂



Leave a Reply