Review Cantik itu Luka

Seseorang telah “meracuni” saya untuk membaca novel karya Eka Kurniawan. Sepintas saya pernah dengar judul novel ini sewaktu saya kuliah dulu, karena novel ini memang terbit pertama kali pada Desember 2002. Tapi baru akhir-akhir ini saya membaca dan mengoleksi novel karya Eka Kurniawan untuk kepentingan sesuatu (doain agar segera terwujud ya!).

Sebagai penulis (amatiran), ketika saya membaca sebuah novel, kadang saya membaca sebagai penulis (amatiran) atau sebagai benar-benar pembaca. Jika membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai penulis, wihhhh.. dasyat banget! Penokohannya, alurnya, dan ceritanya begitu kuat, hingga saya tak perlu dua kali untuk membacanya agar mengingat semuanya. Tapi kalau membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai pembaca dengan background saya yang kurang memahami hal-hal yang dianggap “tabu” oleh masyarakat, jadinya agak ngeri, jijik, ngawur, dan sederet ungkapan tak percaya lainnya.

Novel ini menceritakan tentang seorang pelacur paling mahal dan paling cantik bernama Dewi Ayu di sebuah kota bernama Halimunda. Dia memiliki 3 anak perempuan yang sama-sama cantiknya (yang  tentu saja tak tahu bapaknya yang mana), dan 1 anak perempuan yang sangat buruk rupa. Masing-masing anak memiliki cerita sendiri-sendiri yang menarik untuk diikuti dan saling berkaitan.

Jangan kaget karena dalam novel ini begitu banyak cerita inseas (perkawinan sedarah). Dua dari tiga menantu Dewi Ayu pernah berhubungan dengan mertuanya sendiri, yack! Meski tokohnya banyak, sebenarnya kalau dicermati, “suara”nya hampir mirip, seperti Sodancho dan Maman Gendeng. Sama-sama kasar tapi juga sangat kuat.

Oiya, dalam novel ini juga ada beberapa kutipan yang membuat saya agak takut karena saya orang yang yang gampang membayangkan:

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.(Cantik itu Luka; Hal 1)

Mereka kadang muncul di jendela kamarnya, dengan jidat dihiasi lubang bekas peluru. Dari lubang itu terus menerus keluar darah, dan dari mulutnya terdengar erangan, seperti sesuatu yang hendak dikatakan, tapi tampaknya mereka telah kehilangan semua kata-katanya, jadi hanya mengerang. (Hal 354)

Tak lama setelah roh jahat yang kuat itu berhasil dibunuh oleh Dewi Ayu, Kinkin memainkan permainan jalangkung di kuburan Rengganis Si Cantik. (Hal 475)

Selain sisi ngerinya, sisi yang memunculkan berahi khas Eka Kurniawan pun juga ada:

Mereka bercinta malam itu dan bercumbu nyaris semalaman. Keduanya tampak begitu hangat bagaikan sepasang kekasih yang lama tak berjumpa. Ketika pagi datang, masih telanjang bulat dan hanya dibalut selimut satu untuk berdua, mereka duduk di depan pavilion menikmati udara yang dingin. (Hal 121)

Ia tak pulang bagaimanapun, namun dengan kasar membuka pakaian Dewi Ayu dan mendorongnya ke tempat tidur. Ia membuka pakaiannya dengan tergesa-gesaan yang sama. Setelah kemaluannya muntah-muntah, ia tergeletak sejenak sebelum turun dan berpakaian lalu pergi meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi. (Hal 129-130)

Bahkan Kliwon dibuat lupa oleh kenyataan tersebut, mendekap erat tubuh si gadis dan membalikkan posisi mereka, membuat Kliwon kini berada di atasnya, sama-sama telanjang dan sama-sama berahi. Mereka mengatasi keterbatasan ruang sofa bekas yang sempit, dan bercinta dengan gerakan monoton namun penuh nafsu, meledak-ledak dan mengguncangkan, seperti perahu yang diempas-empaskan badai. (Hal 181)

Cantik itu Luka berhasil menghadirkan hal-hal gaib, erotisme, sejarah (akhir masa penjajahan Belanda, masuknya Jepang, dan pemberontakan G30SPKI) dan cinta yang bermacam-macam bentuknya berpadu menjadi bacaan yang rasanya tak ingin di-pending walau sejenak, tapi juga tak mau cepat-cepat selesai, hehehe. Saking tak ingin di-pending-nya, saya dipelototin suami, gara-gara cuek dengan anak, wkwkwkw, maafkan!

Siapa yang suka dengan cerita happy ending? Hampir semua orang menginginkan cerita yang happy ending. Tapi jangan harap menemukan akhir yang bahagia di dalam Cantik itu Luka ini. Entah kenapa, cerita yang berakhir dengan ketidak bahagiaan justru sering terngiang-ngiang di benak saya, seperti novel ini. Bagian cerita ketika Ma Gendik (dia adalah biang kerok dalam novel ini) dan Nyai Iyang berpisah,

Ia terus berlari di samping kereta kuda, mereka berdua, pemuda dan gadis itu, menangis bersama oleh perpisahan yang menyakitkan itu, disaksikan kusir yang memandang mereka dengan kebingungan. (Hal 29)

dan sekelumit cerita Alamanda dengan Kamerad Kliwon yang saling mencintai, tapi mereka tak bisa bersatu. Menurut saya cerita Alamanda menikah dengan Shodanco agak dipaksakan. Karena mestinya, Alamanda paham, bahwa mereka saling mencintai, dan tragedi dia diperkosa Shodanco adalah tragedi yang bukan kehendaknya.

“Ini pohon ketapang menyedihkan itu, tempat kita berjanji akan bertemu kembali, kupersembahkan untuk kayu bakar pesta perkawinanmu.” (Hal 218)

Di hari perkawinan Alamanda keesokan hari ia bahkan datang secara diam-diam, menyamar sedemikian rupa untuk bersalaman dengan Sang Shodanco serta Alamanda tanpa keduanya tahu, tapi Kliwon tahu bahwa semalaman Alamanda menangis. Bukti tak terbantah bahwa ia menjalani perkawinan yang tak dikehendakinya sendiri, bukti tak terbantahkan bahwa ia memilih suami yang tak dikehendakinya sendiri, dan pada gilirannya Kliwon tak lagi merasa marah pada Alamanda kecuali rasa sedih pada nasib malang yang menimpa orang yang dicintainya itu. (Hal 219)

“Akan kubuka mantra itu dan kuberikan cintaku untukmu jika kau menjamin bahwa laki-laki itu akan hidup,” kata Alamanda lagi dengan suara nyaring dan penuh kepastian. (Hal 328)

Keduanya berdiri dan tanpa seorang pun menyuruh yang lainnya, keduanya melompat dan saling berpelukan, menangis, namun tak lama sebab mereka telah tenggelam dalam ciuman panjang yang membara, sebagaimana pernah mereka lakukan di bawah pohon ketapang di depan stasiun kereta api. Ciuman itu membawa mereka ke atas sofa, dengan Alamanda berbaring terlentang dan Kamerald Kliwon berada di atasnya. Mereka membuka pakaian dengan cepat, dan bercinta dalam satu episode yang begitu gila dan liar. (Hal 371)

Saya ga menyangka akan menangis disalah satu bagian cerita dalam novel ini. Coba pembaca pikir, apa yang membuat kita “merasa” kehilangan seseorang? Kita akan “merasa” kehilangan seseorang jika kita awalnya begitu mengenal seseorang itu. Mulai dari gaya bicara, kebiasaan, tingkah laku, watak, dan lain-lain. Setiap tokoh dalam novel ini diceritakan begitu detail, apik, dan mudah diingat oleh Eka Kurniawan, hingga pembacanya seakan-akan mengenal baik semua tokohnya.

“Kaukah itu?”

“Aku datang untuk pamit.”

Maya Dewi menghampiri suaminya, menyentuhnya dengan sangat hati-hati, seolah sosok itu patung lilin yang mudah meleleh. Jari-jarinya merayap, menyentuh dahi lelaki itu, kemudian turun ke hidungnya, ke bibirnya, ke dagunya, dengan mata si penyentuh memandang dnegan tatapan keingintahuan seorang bocah. Ketika ia merasakan kehangatannya, merasakan bahwa ia hidup, ia semakin mendekat dan mendekapnya. Maman Gendeng memeluknya, membiarkan perempuan berkabung itu menangis di bahunya, membelai rambutnya, dan mencium pucuk kepalanya.

“Kau datang untuk pamit?” tanya perempuan itu tiba-tiba, sambil mendongak menatap wajah Maman Gendeng.

“Datang untuk pamit.”

“Kau akan pergi lagi?”

“Sebab aku sudah mati. Aku sudah moksa.” (Hal 427-428)

Pas ini saya tak kuasa menahan bulir-bulir air mata saya (halah). Percintaan Maman Gendeng dan Maya Dewi ini menurut saya percintaan yang paling agak normal. Gadis kecil yang penurut, sabar, sayang dengan suaminya, sampai-sampai suaminya bisa menahan diri untuk tidak ke pelacuran dan memperawani Maya Dewi disaat dia sudah siap. Dan ketika di ceritakan bahwa Maman Gendeng mati moksa kemudian bisa datang kembali kerumah Maya Dewi untuk berpamitan, disitu saya membayangkan betapa  bahagianya, merindukan orang yang sekiranya tak akan muncul kembali selamanya, tahu-tahu ternyata bisa bertemu kembali, hiks.. jadi baper (bawa perasaan)!

Betapa cinta dan benci sangat tipis perbedaannya. Ma Gendik begitu dendam dengan keturunan Stammler, orang yang menjadikan kekasihnya, Nyai Iyang, untuk menjadi gundiknya. Setelah mati, Ma Gendik menjadi roh gentayangan yang terus meneror anak cucu Stammler, hingga cicitnya mati semua tak bersisa. Mengerikan. Padahal kalau dipikir-pikir itu kan keturunan Nyai Iyang juga, orang yang dia amat cintai?

Sebelum baca novel ini, persiapkan mentalmu terlebih dahulu ya teman-teman!



Leave a Reply