Review Melodi Damarabika

“Mungkin memang bukan pacaran, tapi kalau sudah dewasa kan tidak perlu menyebut kata cinta untuk tahu itu cinta. Hanya dengan terus bersama, dan tidak mau lepas dengannya, itu sudah bisa dibilang ada rasa. Dan kalau dia pun merasakan hal yang sama, itu bisa dibilang sebuah hubungan.” (Hal. 182)

Cinta memang tak bisa memilih. Tak juga bisa untuk dikendalikan. Dia hanya perlu untuk disadari. Begitu juga dengan cinta Rara dan Tyo. Dua orang dengan dua kepribadian justru bisa bersatu karena perbedaan itu saling melengkapi kelebihan mereka. Rara adalah wanita yang cerdas, yang bersahabat dengan buku tapi tak pintar bergaul, sedangkan Tyo adalah lelaki yang suka bermain musik, pintar bergaul, dan agak alergi dengan buku.

“Tak perlu terlalu memahami, kami hanya perlu ada untuk satu sama lain, meski dalam hening.” (Hal. 93).

Dua insan ini dulunya satu almamater ketika masih SMA. Menurut hemat saya sih, sebenarnya, dua orang ini sudah punya “rasa” sedari SMA, tapi mereka masih belum yakin atau malah mengabaikan rasa itu. Ibu-ibu mereka bersahabat baik, hingga Rara dan Tyo sudah merasa seperti saudaranya sendiri. Tapi kejadian di malam Prom Night menjadikan hubungan mereka retak. Ya, Tyo sebenarnya bermaksud melindungi Rara dari kejahilan teman-temannya, tapi maksud dan cara yang dilakukan Tyo salah menurut Rara. Rara mengganggap “penyelamatan” itu sebagai pengkhianatan atas persahabatan yang telah mereka jalin. Dan parahnya, “penyelamatan” itu dilakukan ketika Tyo dalam keadaan mabuk, jadi Tyo tak merasa itu tindakan yang fatal bagi hubungan mereka.

Tyo tetap tak menyadari bahwa Rara masih marah dengannya, hingga beberapa tahun kemudian akhirnya mereka bertemu kembali disaat Tyo sudah menjadi artis kelas dunia karena kelihaiannya dalam menciptakan lagu, bermain musik, dan tentu saja karena ketampanannya. Dia “bersembunyi” dari dunia keartisannya di dekat rumah Rara, di Jogja. Dan di situlah akhirnya mereka menjalin persahabatan lagi hingga berbuah cinta.

“Karena Ra, tanpa teman, puncak gunung sekali pun hanyalah tempat yang sepi. Dan Tyo sepertinya sedang berada di sana sendirian. Tanpa keluarga dan tanpa sahabat. Mungkin karena itu dia sembunyi dari dunia. Dan dia temukan lagi hangatnya keluarga melalui kita. Kalau semua memang sempurna dalam hidupnya, trus kenapa dia ada di sini hari ini? Mesti ono sing kurang.” (Hal. 104).

Mbak Keke, kakak perempuan dari Rara juga mengenal baik seorang Tyo, dan dia curiga kenapa Tyo seakan-akan “melarikan diri” dari kesempurnaan hidup yang dijalaninya. Belakangan baru diketahui bahwa Tyo memiliki perasaan dendam kepada ayah dan ibu tirinya. Dia beranggapan bahwa merekalah yang membuat ibu kandungnya tidak bahagia hingga akhirnya meninggal dunia. Padahal Tyo sangat dekat dan begitu mengagumi ibunya. Dia selalu mengingat apa yang ibunya sampaikan.

“Aku pikir rumah adalah tempat kita tidur dan berkumpul dengan keluarga. Tapi dulu, Mama pernah bilang, rumah yang sejati bukanlah sebuah benda, tapi sebuah sosok. Entah itu sahabat, pasangan, atau keturunan.” (Hal. 108)

Sebenarnya, buku ini intinya sangat ringan, karena bercerita tentang persahabatan, cinta, dan kasih sayang. Eits, tapi jangan salah, karena untuk menjadikan novel yang bagus dan “bernafas panjang” seperti Melodi Damarabika ini dibutuhkan penyatuan probematika yang lumayan berliku dan mampu membuat penasaran pembacanya hingga akhir.

“Aku percaya surga ada tingkatannya. Tapi aku ingin meraih yang paling tinggi. Yang ingin aku raih bukan ada di sisi Beliau, tapi menyatu dengan Beliau. Raga ini hanya kefanaan yang memberikan kita identitas sementara. Tapi yang sejati, tidak tersentuh, tidak juga terlihat. Jiwa. Sebenarnya, jiwa adalah identitas kita yang sesungguhnya. Jiwa yang merupakan bagian dari energi yang Beliau percikkan di jagat raya. Yang salah satu menjadi diri kita. Aku yakin, bahwa bumi ini adalah tempat kita untuk merasa senang dan sedih, tapi di tempat-Nya nanti, hanya ada satu rasa. Yaitu tiada rasa lagi. Jika belum begitu, maka perjalanan kita belum selesai”. (Hal. 163)

Saya pribadi tak menyangka, jika seorang tokoh Tyo yang kerap tidur dengan berganti-ganti perempuan akan mengungkapkan hal-hal demikian yang cukup “berat”. Meski dia terlihat cuek untuk sesuatu yang bersifat spiritual, tapi ternyata dia digambarkan sebagai sosok yang paham dengan konsep “manunggaling kawulo gusti”, seperti yang dibawa oleh Syeikh Siti Jenar, seorang sufi Islam dari tanah Jawa.

“Ternyata mereka semua benar, aku memang sakit, dan aku memang membutuhkan pertolongan. Akhirnya, aku tidak lagi menyangkal, aku menerima masalahku, dan aku belajar, mungkin masih terus harus belajar untuk mengatasinya. Tapi, kian hari, aku kian merasakan bahwa aku memang perlahan berubah”. (Hal. 285).

Tyo akhirnya berhasil disadarkan oleh Rara agar mau melakukan perawatan hingga terbebas dari penyakit batinnya yang kronis. Menerima adalah tahapan pertama agar sukses melalui ujian kehidupan. Dengan menerima bahwa semua adalah takdir-Nya, membuat hidup lebih enteng untuk dijalani.

Menikah. Happy ending. Begitulah akhir dari cerita mereka. Rara dipinang Tyo dengan cara yang super romantis. Agar lebih menghayati ceritanya, penulis, Mbak Ananda juga membuat soundtrack-nya yang bisa dinikmati pembaca lewat you-tube. Easy listening banget! Keren! Cek salah satunya di sini.

Buku yang bagus, sederhana dan kalimat-kalimatnya “dapet” banget, menempel tidak hanya di pikiran, tapi juga di hati. Sayang sekali jika pecinta cerita romantis melewatkan novel ini. Yuk teman-teman yang belum beli dan belum baca buku ini, segera dapatkan bukunya di www.pruram.com. Selain bisa mengambil hal-hal yang baik dalam novel ini, dengan membeli novel Melodi Damarabika berarti kamu juga ikut berdonasi untuk para Lupie (penyandang Lupus). Bismillah.. Semoga niat baik dari sang penulis diberi balasan yang melimpah oleh-Nya, aammiinn. 🙂



Leave a Reply