wAniTaku

Pergilah, katamu padaku. Dan aku diam bergeming menatapmu. Pergi, katamu lagi sembari menatap wajahku dengan berkaca-kaca. Dan aku masih tetap melihatmu tak percaya. Pergi.. aku mohon, suaramu lirih tapi cukup menamparku pelan. Benih kebimbangan muncul berupa air yang keluar dari matamu. Ingin kuseka air matamu kala itu, memelukmu. Andai kau tau apa yang kurasakan saat itu, aku yakin kau akan memberikan kesempatan yang lebih besar padaku. Aku juga bisa melakukan sesuatu lebih dari yang kau bayangkan. Aku tetap diam berdiri tak bergerak sedikitpun, dan kau membalikkan badan, berlari kencang meninggalkanku sendiri.

Peristiwa itu hampir lima tahun lalu dan tiba-tiba saja muncul di pikiranku setelah bertemu denganmu malam ini. Kita di tempat yang sama, diposisi yang sama, tapi dengan penampilan yang berbeda. Lenganmu yang mungil sudah tak dapat kulihat lagi sekarang. Tanda lahir yang ada di lehermu berbentuk lingkaran kecil juga tak nampak. Kau kini menggunakan penutup kepala, berwarna kuning, persis dengan kulit wajahmu yang kuning langsat. Nampak lebih gemuk dengan pakaian yang cukup longgar untuk badan seukuranmu. Penampilan barumu membuatku ingin leluasa memandangmu seperti beberapa tahun yang lalu. Kau duduk di depanku, menolak untuk menatapku. Di restoran ini kita pernah menghabiskan waktu bersama, meskipun tidak berdua. Kini kita bertemu lagi, berkumpul dengan teman-teman yang sama. Aku memesan menu kesukaanmu atas nama diriku dan kau terlihat terkejut karena aku masih ingat kesukaanmu. Tapi nampaknya kau tidak ingin diperhatikan sehingga memilih menu yang lain. Aku kecewa, mungkin kau tau aku kecewa, hingga akhirnya kau mengajakku bercakap walau hanya sejenak. Senang rasanya mendengar suaramu, mendengar sapaan sama seperti 12 tahun yang telah berlalu meski dengan perasaanmu yang berbeda. Aku merasakan dinginnya sapaan itu, sungguh berbeda hakikatnya. Rasa kikuk menyergapku untuk memulai obrolan denganmu. Lama sekali penyediaan makanan itu, sehingga kebosanan melanda. Lama tak berjumpa membuat kami bersepuluh mulai menceritakan aktivitas yang dijalani sekarang. Sesekali aku mengarahkan pandanganku padamu, kau nampak sangat anggun dan elegan. Tempat duduk yang tak jauh darimu, membuatku bisa mencium parfum melati berbentuk keong warna biru kesukaanmu. Sesekali juga aku mendengarkan kau berbisik-bisik pada Raisha yang duduk disampingmu dengan polosnya. Terdengar suaramu yang serak, suara yang selalu aku ingat. Kulirik dirimu dengan pelan dan pandangan kita pun bertemu. Kau tersenyum, menimbulkan lesung pipit yang manis. Aku pun juga tersenyum, mungkin otot pipiku tercipta untuk tak bisa memunculkan kemarahan meski telah kau sakiti hingga hati ini jadi serpihan-serpihan benda yang tak berarti.

12 tahun yang lalu, kita pernah saling memiliki. Tak pernah ada kata ikatan janji setia sehidup semati seperti perempuan dan laki-laki pada umumnya. Tapi kita pernah bermimpi, berlomba-lomba mencapai setinggi-tingginya dalam berkarir. Saat itu kita masih berseragam abu-abu putih. Kau dan aku. Rambutmu yang hitam bertekstur gelombang membuat aku ingin berlama-lama merencanakan kehidupan lima belas tahun kedepan denganmu, masing-masing kehidupan. Memang kau nampak enggan memikirkan pernikahan dini. Ambisi dan kecerdasanmu waktu itu mampu menginspirasiku untuk menjadi seorang laki-laki yang sukses seperti sekarang menurut orang-orang disekitarku. Kemana-mana kita selalu berdua, hingga banyak yang menyangka kita sepasang kekasih. Aku senang dengan sangkaan itu, tapi kau selalu cemberut jika ada orang yang beranggapan begitu. Kadang kau seperti anak kecil yang manja dan aku bisa menghadapi dirimu yang seperti itu. Terkadang juga kau bersikap sangat dewasa, jauh melebihi usia mu saat itu, dan aku hanya diam merenungkan pemikiranmu.

Ketika masa abu-abu putih berlalu, universitas kita pun berjauhan. Intensitas pertemuan berkurang namun telepon selalu menjadi andalan di setiap aktivitas kita. Kau masih menggangapku sebagai sahabat sejati seperti pertama bertemu, hanya membutuhkanku sebagai luapan emosimu sesaat. Seiring tahun demi tahun berjalan, aku merasakan ada yang berubah didirimu. Kau mulai didekati lelaki-lelaki yang sering kau ceritakan padaku. Aku cemburu, tapi kau tak merasa, atau pura-pura tak merasa. Aku tak mau kehilangan wanitaku. Aku tak mau jika kau tiba-tiba tak memberikan perhatianmu padaku. Aku menginginkanmu seutuhnya.

Tepat dihari ulang tahunmu yang ke-24 aku melamarmu di tempat yang sekiranya tak pernah kau lupakan. Semua kupersiapkan dengan matang. Cafe romantis, kata demi kata yang kuhafal diluar kepala, hingga kostum yang kugunakan. Dan kau menolakku. Tak hanya menolak, kau menginginkan diriku keluar dari kehidupanmu selamanya. Aku tak habis pikir dengan keputusanmu. Aku mengajakmu menjalin hubungan yang sekiranya wanita dambakan, tapi ternyata usahaku sia-sia. Bertahun-tahun lamanya aku memendam perasaan sayang padamu, yang kutahu kau pun sedikit banyak menyimpan juga. Giliran ku ungkapkan perasaanku, kau malah menangis, menyarankan agar membunuh cintaku padamu. Kutanya alasan kenapa kau menginginkan ku pergi, kau menjawab karena tak ingin menyakitiku lagi. Tau kah kau saat itu hatiku benar-benar hancur. Jika saja aku tau akan berakhir seperti itu, mungkin selamanya tak kan pernah kuungkapkan perasaan yang menghantuiku bertahun-tahun, agar aku bisa selalu menjadi sahabatmu, yang bisa mendengarkan canda tawa dan kesedihanmu. Aku menyesal membuatmu menangis. Aku menyesal kejadian itu justru tergores di hari sakralmu. Aku tau penolakan itu membuatku kecewa, sakit, dan hancur. Tapi lebih dari itu, tak mendapatkan kabar darimu membuatku sakau hampir mati. Dan sejak saat itu aku tak pernah menghubungimu sesuai pintamu.

Entah bagaimana akhirnya teman-teman berhasil mengajakmu ikut dalam reuni kecil ini. Rindu ini terobati dengan melihat lesung pipit di pipi kananmu yang hanya sebelah. Aku merindumu, bahkan hingga detik ini. Andai kau tau, perasaan ini tak akan pernah berubah hingga sekian puluh tahun kedepan. Di darahku selalu ada namamu yang mengalir lembut mengarungi sungai arteri-arteri dalam tubuhku. Meskipun kau berlari dari genggamanku, meskipun kau bukan tercipta untuk menemani hidupku yang mungkin sangat singkat, tapi aku yakin dengan perasaanku. Menghadirkan dirimu dalam setiap kali aku bernafas membuat segala masalahku terasa lebih ringan. Aku mencintaimu Nadia, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Tak dengarkah kau aku bicara seperti itu padamu berkali-kali dalam dadaku? Usia kita sama-sama menginjak 29 tahun, tapi kau juga belum menemukan pendamping hidup. Beberapa bulan lagi aku akan menikah dengan seorang wanita menarik yang tak kalah dengan dirimu, tapi entah mengapa hanya dirimu yang selalu mengetuk pintu hatiku. Aku sungguh menginginkanmu. Tapi kebekuan hatimu tak bisa ku lelehkan hanya dengan pernyataan cinta ataupun segala kemapanan yang kutawarkan. Benar-benar wanita terunik yang pernah ada.

Nadia, aku mencintaimu. Aku menantimu. Aku akan selalu setia menunggu uluran tanganmu untuk menjadikanku tempat sampah usang sekalipun.

Sekali lagi, Nadia, aku mencintaimu.



14 Responses to “wAniTaku”

  • ayuseite Says:

    well…great story…^^,
    tetep menuliskan karya terbaikmu yak…semoga bisa menjadi asma nadia,pipit senja, atau helvy tiana selanjutnya tentunya dengan karakter difana inside…^^,

  • cencen Says:

    too dramatically beauty

  • Dian Indah Shofarini Says:

    nadia, judul lagunya ada band..

    ingatkah???

    nadia yang diplesetin jadi Difana??? 😛

  • Anonymous Says:

    ending yg menakutkkan.. (~,~),,
    kenyot jahat.. jahat.. jahat..
    (pengen ngomong d dpn knyot dari pagi ampe pagi lagi..)
    biar..

  • Dian indah shofarini Says:

    Lho lho lho?

    Ni yg k0men d atasku siapa ya?

    Kok? Aku jahat? Sbelah ndine?? *semacam bingung. Celingak celinguk..

    Yowes, lek emg mw ngmg d dpnq dr pagi ampe pagi lg yo m0nggo. Ak tak kberataan..

    Tidur aja aaaah..
    Ngantug. Uda mw tengah malem euy.

  • laila Says:

    wah bagusnya…..(pertama baca, kupikir wanita itu namanya Difana, habis ciri-cirinya mirip. Hehe..=D )

  • diva Says:

    @mbak ayu:waduh…ketinggian mbak… >_< tapi makasie dweh doanya… ^_~
    @cencen:mosok tho?
    @kenyot:ora nyot…dhudhuk aku kuwi…nadia kuwi jeneng seng muncul ujug2 neng pikiranku…spontan dweh tak tulis…
    @anonymous:iyo…sopo tho iki?
    @laila:dhudhuk la…mosok aku duwe lesung pipit dan berambut item?gag lah… ^_^

  • defidancow Says:

    pancen medeni ending’e.. hhhiiii..

    dadi eling maneh nyot..
    “nadia kau keindahan wanita.. pujaan setiap pria..”

    (hehehe,, jd mrasa komyol.. ket diyen brati aq konyol..)

    nadia akhirnya menemukan cintanya..
    3jempol de buat crita yang ini..

  • diva Says:

    @defi:hayo..nadia mu sopo hayo…kok tiga jempol?satu nya kancrit..hehhe…ga bisa dipungkiri kalo cinta seperti ini ada di sekitar kita… 🙂 makasie kunjungannya…

  • defidancow Says:

    nadiaq?? hehehe.. jadi malu..

    4jempolq untuk pengarang “padang seribu malaikat”.. tokoh utamanya inspirasiq..

    aq kan setia berkunjung..
    mestinya aq dapat payung cantik..
    (lagi butuh payung ni..)

  • reny Says:

    Nadia, aku mencintaimu. Aku menantimu. Aku akan selalu setia menunggu uluran tanganmu untuk menjadikanku tempat sampah usang sekalipun.

  • diva Says:

    @defi:terima kasih kunjungannya…
    @reny:heh?nyapo ren??

  • Rizza Says:

    Bagus bgt critanya..kalo dbikin buku aq pasti jd pembeli pertamanya hehe..
    Buat kenyot n toje..bukane nadia itu..titititttt y?

  • diva Says:

    @rizza:hehehe….berlebihan kamu… :p

Leave a Reply