Teman Main Kirana

Entah kenapa, tulisan yang berbau parenting di zaman sekarang sangat laku sekali. Entah karena pendidikan zaman ortu kita yang kurang benar, atau publik mulai kehilangan panutan untuk mendidik anak, atau memang semakin derasnya informasi yang masuk untuk ibu-ibu baru tanpa filter kebenaran yang hakiki (halah). Menjadi orang tua memang ga ada sekolahnya. Kita sebagai orang tua dituntut untuk learning by doing. Nah begitu pun dengan saya. Saya pun tak luput dari “harus” membaca tulisan-tulisan tersebut untuk mendidik anak saya yang menurut saya paling tepat. Saya lebih suka membaca buku tentang parenting langsung daripada ndengerin “katanya-katanya”. Seperti tulisan Teh Kiki dengan homeschooling yang diusungnya, Ayah Edi yang sangat pengertian dengan anak dominan otak kanan, (ada satu lagi yang saya lupa namanya gara-gara bukunya di lemari bawah, wekekeke) mengajarkan bagaimana mental wirausaha sedari kecil. Semua tulisan-tulisan itu baik jika sesuai dengan kondisi orang tua dan anak.

Kali ini kita bahas bukunya Teh Retno Hening yuk! Jujur, buku ini saya ketahui dari teman SMA saya. Fotonya seling seliweran di instagram, tapi baru nggeh ketika teman saya posting bukunya. Maklum nih, saya kebanyakan baca buku sastra akhir-akhir ini, jadi ga nggeh kalau ada buku bagus. Isinya sih ringan, tapi mempraktikkannya sungguhlah tak seringan membacanya, hehehe. Bu Retno ini punya IG dengan follower sudah mencapai 1M dan tinggal di Oman. Jauh dari sanak saudara, punya anak 1 (dan beberapa hari yang lalu melahirkan anak keduanya), tanpa asisten rumah tangga, tentu tantangannya lebih berat. Tapi hal itu menjadi berkah karena dia menulis, dan membagikan curhatannya kepada ibu-ibu baru. (Duh.. jadi inget awal-awal nikah tinggal di Auckland. Penuh tantangan tapi sekaligus nganggenin!)

Anak pertamanya yang bernama Kirana ini sungguh lucu dan menggemaskan. Meski saya punya anak perempuan sendiri, tapi kalau sudah lihat anak perempuan yang putih dan gendut gitu kok ya masih gemes juga.. wekekeke.. Trus karena sering ngepoin IG-nya, jadi bisa ngerti langsung gimana seorang ibu (suaranya Bu Retno ini renyah banget kalau ketawa) menertawakan ulah anaknya yang cerdas itu. Intinya jadi lebih bersyukur sih!

Di dalam buku ini ga cuma berisi curhatan aja ya, ada resep makanan simple (hal 135-138), permainan-permainan yang mudah dibuat sesuai umurnya (hal 112-134), dan juga motivasi-motivasi untuk ibu baru yang “bingung harus bagaimana”.

“Untuk semua ibu dan calon ibu, dan untuk diri saya sendiri, yakinlah ketika Alloh memberikan kepercayaan dan menitipkan anak kepada kita, Ia pasti juga memberikan kemampuan untuk kita membesarkan dan mengasuhnya. Kita hanya perlu yakin dan percaya” Happy Little Soul hal vii. Ini kata-katanya nampol banget untuk ibu-ibu yang punya anak aktif macam saya. Masya Alloh.. Ngajari Fazna itu berasa butuh energi ekstra dibanding ngajari keponakan-keponakan saya yang lain. Tapi disyukuri dan dijalani, berarti saya sesungguhnya kuat dan mampu untuk mendidik anak aktif (menyugesti diri sendiri, hehehe).

Kirana dalam buku ini adalah anak yang suka menggaruk tubuhnya sampai berdarah dan memiliki jam tidur yang berantakan (kayaknya kalau sudah mulai sekolah gini, jam tidur untuk mulai teratur ya). Ini juga tantangan tersendiri bagi Bu Retno, apalagi sekarang Kirana sudah punya adik ya, semakin ditunggu nih buku selanjutnya. Karena kalau ditanya, Fazna kok ga dibikinin adik baru? Loh.. Kalau bikin mah rutin.. Wkwkwkw.. Ga pake KB pula, tapi memang belum di ACC “arsitek kehidupan”, kapan punya anak kedua. Jadi, untuk sementara fokus dengan Fazna. Lumayan nih kalau buku Bu Retno selanjutnya membahas tentang ibu dengan beranak dua, bisa jadi pelajaran buat saya kedepannya.

Membaca buku ini telah “memaksa” saya untuk menulis dan merincikan apa-apa yang membuat saya marah dan memikirkan solusinya. Jam-jam rawan marah saya muncul ketika persiapan Fazna ke sekolah. Dibangunin males-malesan, sarapan cuma sesuap, mandi dan berganti pakaian yang lama, jam masuk sekolah yang mepet, akumulasi itu sudah bikin saya stress dan akhirnya berujung marah-marah. Tapi akhirnya mulai saya siasati. Agar Fazna bangunnya ga malas-malasan, bangunin si bocah agak pagian dengan nyalain TV yang berisi acara anak-anak. Bangun seger, sarapan bisa agak banyak dengan rentang waktu yang agak lama, mandi dan berpakaian masih bisa santai, serta mengantarkan Fazna dengan tidak terburu-buru. Fazna membutuhkan kurang lebih satu jam untuk siap-siap. Jadi, setelah saya menuliskan dan mempraktekkannya, solusi jam rawan marah saya cuma satu, bangun pagi! Ga boleh terlambat membangunkan si bocah kalau ga ingin marah-marah. Hehehehe.. Alhamdulillah.. Semoga ritme sehari-hari bisa semakin baik lagi. Aaaammiinnn..

Buat pembaca yang belum menikah atau sedang menanti buah hati, buku ini bisa dijadikan asupan yang bergizi ya, agar kita tahu teorinya, jadi ntar ada bayangan ketika sudah menikah dan memiliki anak.

“Berbahagialah, Ibu. Anak yang bahagia pasti dibesarkan oleh seorang Ibu yang tidak lupa berusaha membahagiakan dirinya juga. Berbahagialah karena, bagaimanapun, anak-anak yang dianugrahi Alloh adalah langkah penguat yang akan selalu membersamai kita”, hal 194.

Bismillahhhh…



Leave a Reply