Kenangan

Hallo semua.. Tumben nih saya bisa nulis malem-malem, hehe.. Dikarenakan suami lagi lembur di kantor, Fazna juga sudah tidur, gara-gara td siang ga mau tidur siang, jadi saya bisa me time sekarang, mumpung hari Sabtu sih, jadi saya ngebolehin Fazna untuk ga tidur siang.

Btw, sebenarnya saya ga ingin menulis apa pun tentang dia, sekarang, lusa atau kapan pun. Tapi ga tau, rasanya ada yang mengganjal gitu, datangnya timbul tenggelam. Padahal sudah cerita ke suami, ke sahabat deket, relaksasi (sendiri), tapi tetep berasa ada luka yang menganga. Mungkin saya terlalu melekat dengannya, mungkin saya terlalu ketergantungan dengannya, atau mungkin saya yang terlalu melankolis alias lebay. Tiap mengingat dia atau ngomongin dia, saya selalu nangis, ga bisa ga. Pura-pura kuat, ujung-ujungnya juga nangis (seperti saat ini). 

Sudah hampir lima bulan yang lalu dia pergi, tidak mengabdi lagi pada keluarga kami. Setelah kurang lebih 4 tahun dia selalu hadir membantu kami, tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi. Sedih dan berat rasanya tanpa ada dia di hari-hari kami. Siapa lagi kalau bukan Ayu, nanny-nya Fazna. Ya, akhirnya kami hanya berjodoh di tahun keempat saja, ga lebih. Saya tidak akan menjelaskan kenapa dan kemana dia pergi, tapi untuk yang kedua kali ini saya berusaha untuk tidak mengharapkan dia kembali. Dia sudah memilih, dan dia harus bertanggung jawab dengan pilihannya.

Yang paling membuat saya terharu adalah mengingat kedekatan bocah dengan nanny-nya. Diajak lari-lari, disuapin, dimandiin, main-main, hampir setiap saat mereka ber-quality time bersama. Dengan kesibukan saya yang berdagang online, kehadiran Ayu sangatlah membantu saya untuk mengisi aktivitas Fazna sehari-hari. Hampir tiap hari Fazna selalu ke kamar Ayu di belakang. Dan ketika Ayu pergi, Fazna ga pernah sekali pun mau ke (mantan) kamarnya Ayu.

“Mama.. Mungkin Mbak Ayu sudah ada dirumah ya? Ayo telpon mbak Ayu mah, aku kangen,” katanya beberapa saat yang lalu saat kami di mobil, selesai mudik dari Jawa. Fazna tiba-tiba bilang gitu, dan seketika juga mata saya berkaca-kaca. Mungkin Fazna terbiasa disambut nanny-nya kalau habis dari luar kota, dan dia masih berpikir yang sama, akan bertemu dengan nanny-nya setelah lama ga bertemu.

“Mah.. mah.. Ada mbak Ayu! Kok mbak Ayu lama sekali ya pulangnya…,” katanya di lain waktu, sewaktu kami tak sengaja melihat video liburan kami tahun lalu dan nampak masih ada Ayu yang menggendong Fazna, atau

“Ini mbak Ayu pakai jilbab.. Aku sayang sekali sama mbak Ayu,” celotehnya setelah menggambar sesosok perempuan di buku gambarnya.

Ya.. Tugas Ayu yang utama bukanlah bersih-bersih, karena tugas utamanya adalah mengajak Fazna bermain. Tenaga ekstra Fazna membuat kami harus saling bergantian untuk menemani Fazna. Kadang masih teringat jelas bagaimana lugunya dia ketika pertama bertemu dengan kami. Saya mengajari dia dari nol, mengajari semua yang sudah menjadi kebiasaan saya. Ah Ayu.. Mengingat semua dari awal sesungguhnya lebih menyayat-nyayat hati. Tapi saya belajar untuk mengurai kembali penyebab-penyebab kesedihan saya. Dan ternyata saya sedih bukan karena tidak ada lagi yang bersih-bersih, menyetrika, atau memasak lagi, tapi yang membuat saya sedih adalah menyadari kenyataan bahwa Fazna terlalu sayang dengan Ayu.

Fazna adalah anak kecil yang masih bersih hatinya. Kepergian Ayu menyisakan hikmah yang besar untuk saya pribadi. Selama ini saya telah membiarkan Ayu untuk menjadi “dunia”-nya Fazna. Dan ketika Ayu pergi, “dunia” Fazna serasa hilang. Inilah puncak kesalahan saya (bukan kesalahan Ayu). Hingga saat ini saya masih berusaha mengisi dan merebut kembali “dunia” Fazna yang hilang tersebut dengan berbagai macam aktivitas, dan tentu saja pelukan yang lebih banyak.

Sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengan Ayu. Kami masih sering whatsapp satu dengan yang lain. Dia juga masih sering menanyakan Fazna. Tak jarang PP-nya gambar dia dan Fazna, mungkin disana dia juga sedang kangen. Tapi yang jelas, selama dia mengabdi pada keluarga kami, kami nyaman, kami merasa cukup, dan tak ada satu pun barang kami yang hilang. Selalu ada hal-hal yang baik, yang bisa kami petik dari dia, semoga begitu pun sebaliknya.

Alloh menakdirkan sesuatu itu pasti ada maksudnya, berkhusnudzon kepada-Nya adalah yang utama. Alhamdulillah Fazna sekarang sudah sekolah, jadi dia punya teman-teman yang bisa diajak bercanda selain mama dan papanya. Mungkin akan ada nanny yang lebih baik dari Ayu untuk lebih baik dalam menjaga Fazna kedepannya. Ya.. Alloh adalah sebaik-baik pengatur hambanya.. Yang penting nurut saja..

Kata Ustad Hanan Attaki, kalau ingin hidup bahagia, ridho saja! Ridho saja dengan semua yang sudah diatur oleh-Nya..

Bismillahhh..

Dari seorang ibu yang sedang me-recovery perasaannya..

 



Leave a Reply