Spiritual Kritis dalam My Name is Khan

Beri applause yang hebat untuk dunia perfilman India!!! Udah liat My Name is Khan belum? Yang pemeran utramanya Sahrukh Khan dan Kajol itu low? Kalo belum nonton, rugi banget. Pribadi, sejujurnya aku paling ga suka film fiktif. Tau sendiri kan ciri khas film India yang kalo adegannya kangen ma pacar, eh tiba-tiba muncul dweh rombongan penyanyi n penarinya. Ga berhenti sampe disitu, abis gitu tariannya sama semua dengan orang yang lumayan banyak, ga cowok n ga cewek, nyanyi bareng-bareng pula! Haduh…kayak gini nie yang bikin aku rodok krik..krik..krik.. Tapi karena aku banyak mendengar komentar positif tentang film ini, akhirnya nontonlah aku… Dan memang ga rugi nonton nie film..meskipun ga sampe bikin aku nangis bombay, minimal buat aku berkaca-kaca lah…

Kalo dah nonton My Name is Khan, cermati film ini dweh, materinya polifonik banget. Ada banyak wacana  yang bisa kita analisis, lebih dari sekedar sisi melankolisnya. Dari sisi lingkungan pergaulan, kebudayaan suatu negara, dan yang sangat mencolok adalah dari segi agama. Yup, agama.

Orang India tak jauh beda dengan orang Indonesia yang kehidupan agamanya selalu berdampingan antara Islam, Nasrani, dan Hindu. Begitu juga dalam film ini. Khan adalah nama khas laki-laki India muslim (kalo di Arab, Muhammad gitu lah…). Dia adalah seorang yang mengalami syndrom ga bisa liat warna kuning dan ga bisa denger suara keras (aku lupa nama syndrome syndrom apa..hehehe). Jadi peran Sahrukh Khan itu kayak orang autis gitu.. Tapi dia sangat cerdas. Perannya mampu merekam semua suara dengan baik dan berulang-ulang. Meskipun cerdas, tetap aja dia memiliki kelainan yang ga bisa disekolahkan di sekolah umum. Walhasil dia disekolahkan ibunya pada seorang profesor tua (privat gitu). Melalui profesor tua ini, dia memperoleh kepintarannya.

Tapi jangan pernah lupa, tak ada yang bisa menandingi kasih sayang seorang ibu. Anak yang terlahir itu bagaikan kertas kosong yang dengan mudah diwarnai oleh kuas-kuas sesuka orang tuanya. Demikian juga dengan Khan kecil. Ibunya berhasil membuka wawasan keagamaan yang menakjubkan untuk anak kelainan seperti dia. “Warna agung” yang diturunkan dari seorang hawa. Tak ada yang membatasi agama itu benar atau salah karena yang ada hanyalah orang yang berbuat baik dan jahat. Titik. Pedoman itu pula yang dia pegang kuat ketika Khan dewasa merantau di negara adikuasa, Amerika, setelah ibunya meninggal.

Disana dia bekerja sebagai sales obat-obat herbal India di perusahaan adik kandungnya yang telah lebih dulu merengguk kesuksesan di Amerika. Tanpa sengaja dia menawarkan produknya di sebuah salon milik Mandira (Kajol) yang beragama Hindu. Meskipun Khan terlihat aneh, tapi janda beranak satu ini mulai suka dan memutuskan untuk menikah dengannya. Adek kandung Khan sebenarnya sangat menentang pernikahan beda agama tersebut. Tapi kegigihan Khan untuk mempertahan pandangannya (yang ada hanya orang baik dan orang jahat) tak terpatahkan, sang adek pun tak kuasa menolak keputusan Khan.

Awalnya salon milik Mandiri ini ramai dikunjungi orang-orang Amerika yang puas dengan pelayanan Mandira. Tapi sejak ada ledakkan teroris terhadap gedung kembar WTC 11 September 2001, keadaannya berbalik 180 derajat. Salon milik Mandira yang pada nama dinding tokonya menjadi Mandira Khan (nama family nya berubah karena sudah menikah dengan Khan) menjadi sepi, bahkan pendapatannya pun minus. Hal ini membuat keluarga kecil dan baru ini merasa ditampar pipi kirinya.

Anak lelaki semata wayang Mandira pun tak lepas dari ejekkan teman-temannya (aku juga lupa nie nama anaknya,,,). Ayah sahabat karibnya yang bekerja menjadi wartawan telah tewas tertembak ketika sedang bertugas di antara peperangan kaum muslim dan Yahudi. Dan mulai saat itu, dia tidak mau berteman dengan anak Mandira. Anak Mandira yang tidak sensitif pun ingin suatu penjelasan kenapa persahabatan mereka renggang. Ketika anak Mandira memaksa meminta jawaban tersebut, sahabat karibnya merasa terganggu dan mulai terjadi keributan kecil di tengah lapangan sepak bola. Ternyata keributan kecil itu mengundang kakak-kakak kelas mereka yang berbadan besar dan berwajah garang untuk ikut campur dalam urusan mereka berdua. Peristiwa tersebut menjadi serius karena anak Mandira tewas akibat tawuran yang dilakukan kakak-kakak kelasnya.

Sejak saat itu, Mandira merasa menyesal kenapa harus menikah dengan seorang muslim, yang namanya mencolok sekali untuk dimusuhi orang-orang Amerika. Dia mengusir Khan dan memberikan syarat bisa kembali kepada Mandira jika sudah bertemu dengan presiden Amerika, dan mengatakan bahwa Khan bukanlah teroris. Dan Khan menyeriusinya.

Sepanjang perjalannnya untuk bertemu dengan sang presiden, perjuangannya tak bisa dipandang sebelah mata. Dia selalu melakukan perilaku yang baik, tak pandang bulu, entah kepada yang muslim maupun non muslim. Sisi dramatis pun mulai terasa ketika dia menolong korban-korban kebanjiran dan harus tinggal di gereja. Dia pun sangat menentang pandangan Islam fanatik yang bisa membahayakan umat manusia sepenuhnya.

Disinilah letak spiritual kritis yang hendak diusung dalam film ini melalui seorang Khan. Apa yang dimaksud spiritual kritis? Spiritual kritis adalah sejenis sikap kritis terhadap kebenaran yang dibawakan setiap agama. Menurut pemegang spiritual kritis, tak seorang pun bisa mewujudkan kebenaran hari ini, sebab kebenaran yang ada hari ini hanyalah penyelenggaraan kekuasaan semata-mata (Bilangan fu: 452).

Hampir sama dengan theme yang diusung ibunya Khan kan? Hari ini permasalahannya bukanlah benar ataupun salah dalam beragama, tapi yang terpenting adalah perbuatan baik dan jahat. Jika kita tetap berkutat pada hal-hal sempit seperti benar atau salah, yang ada, agama menjadi berwajah mengerikan. Sedangkan, jika kita selalu berusaha melakukan perbuatan baik, niscaya kita tak hanya disayang Sang Pemilik Hidup, tapi juga disayang sesama makhluk. Bukankan agama yang baik adalah agama yang membawa wajah kedamaian (Simfoni dalam Diri)? Aku yakin Rasul selalu menyebarkan bahasa Islam dengan bahasa cinta. Agama Islam adalah agama kasih sayang. Gak mungkin agama yang pemeluknya paling besar di dunia dan mudah mendapat sorotan kaum yang haus pada kebaikkan, berwajah mengerikan. Dulu, agama adalah sebuah tempat berteduh. Namun, sekarang sebagian wajah agama sudah penuh kecurigaan dan perkelahian (seperti yang terjadi pada anak Mandira). Pada wajahnya yang dalam, semua agama berbahasakan cinta. Hanya karena kemalasan berlatih, kemudian manusia dibawa pergi oleh kemarahan dan keserakahan sehingga agama menjadi berwajah tidak indah (Simfoni dalam Diri; 222). Wacana apa yang digunakan media untuk membuat Islam menjadi ikon teroris di kancah dunia? Sungguh keji..benar-benar keji..

Dan hal ini pula yang terjadi pada Khan. Hanya karena dia orang India yang bernama Khan, dia mendapat perlakuan “istimewa” dari orang-orang yang tak mau tau tentang benar salah dan baik buruk. Di akhir cerita, Khan berhasil bertemu dengan Presiden Amerika, dan Mandira mengakui kesalahannya pada Khan. Mereka pun tetap menjadi sepasang suami istri yang berbeda agama, yang tentu saja menghargai keyakinan masing-masing.

Bener2 film yang berkualitas… Mengusung tema agama Islam yang menggugah…bukan dari Arab,,tapi dari India…negeri tekstil terbaik… :)(NB: menurut tabloid terkenal salah satu Indonesia, sewaktu Sahruk Khan tiba di bandara di Amerika, sempat bener-bener ditahan gara-gara nama belakangnya Khan… hm…)



10 Responses to “Spiritual Kritis dalam My Name is Khan”

Leave a Reply