SEMPU yang hampir SEMPU-rna (Part 1)

“Mbak ayo ke pulau Sempu ma anak2 PA (Pecinta Alam) nya Unair n Udayana?”, tawar Riska (adek kostku).

“Iyo tha? Sebenernya aku mau ke sana ama tmn2 SMP ku, tapi g tau jadi apa gag….”, sambil manyun antara pengen n ga.

Seminggu kemudian.

“Ayo mbak, aku melu low…”, kata Adis, adek kostku satunya, yang punya perawakan tinggi menjulang.

“Hah, kamu ikut? Ya wez liat entar dweh”, sahutku dengan nada yang bener2 mupeng.

“Mbak aku yo melu…”, kata Anggita (temen Riska yang masih anak mama banget) mantap.

Haduh….kalo udah kayak gini, bawaane pengen ngikut aja. Yang namanya berkunjung ke tempat2 baru menjadi sesuatu yang sangat menarik n ga bisa kutolak rasanya. Apalagi Sempu memang menjadi target kunjungan setelah Green Canyon. Berbekal kenekatan karena skripsi belum selesai dan ijin ortu yang ga dijelas-jelasin (kalo tau Pulau Sempu seperti apa dijamin ga boleh ikut beneran dweh)….berangkatlah Difana bersama adek-adek kost (aku paling tuwir lah kethoke.. -_-“)

Jumat, 2 April 2010

“Mbak… Ayo… Keretanya jam7…sekarang jam setengah 7 low…”, kata Riska sedikit manyun liat aku yang persiapannya paling nyantai.

“Iya2….”, segera mandi bebek lah aku, sungkan ma Riska… :p (persiapan paling lelet sendiri).

Di Stasiun Gubeng…

Keluar dari taksi, lari-lari menuju jalur 3, ke arah Malang Kereta Penataran. Anggita menelepon Dirja (Anak PA sekaligus orang yang mengkoordinasi keberangkatan).

“Hah? Keretanya bukan jam7 tha? O… jam 8? Hm… ga ngomong… aku kan jadi…#$%^78&*076*..”, begitulah omelan wanita. Dan aku bersyukur suka rodok nelat..jadi nunggu ga terlalu lama…hehehe… :p

P4021141

“Kereta Penataran jurusan Malang akan segera diberangkatkan.”

P4021147Akhirnya kami berenam naek kereta bertarif  4500 rupiah sekali naek ini. Busyet….rame nya setengah mati. Malahan dompet Dirja hampir dicopet mbah2 tua saking kondisi yang bener2 ga kondusif, untungnya bisa digagalkan. Berada dalam kereta, perjuangan pun dimulai. Aku harus berdiri diantara penyambung gerbong satu dengan gerbong yang lain. Baru pertama kali ini aku naek Kereta Penataran yang katanya temenku, kereta tersebut mengerikan. Tapi setelah liat dan kurasakan sendiri, nie kereta ga horor2 banget dweh. Bersih dan layak naek kok, meski desek2an dan gda nomer penumpangnya (ya iyalah, namanya juga kereta ekonomi). Setelah melalui dua stasiun, kami mendapat informasi dari beberapa temen yang terpisah (ga satu gerbong dengan rombonganku), bahwa di gerbong depan banyak kursi yang kosong. Posisi saat itu rombonganku berada di gerbong nomer dua dari belakang. Akhirnya, di perhentian stasiun berikutnya, keluarlah kami dan lari-lari menuju gerbong depan (demi mendapat tempat yang nyaman). Olah raga di pagi hari oy!!!! Aku yang bawa tasku sendiri (krang lebih 5kg lah) aja dah berat banget, apalagi anak2 cowok yang bawa galon, kompor, dll… Kalo kyk gini, bersyukur dweh jadi wanita…dimuliakan…xixixi.. Kami semua lari-lari (persis kebakaran jenggot) karena kereta sudah berbunyi lagi. Ampun… lariku terasa kencang banget, kayak dikejar anjing usia puber. Sampe orang-orang di stasiun itu bilang,”Dwuh… sak noe mbak2e… mlayu2…”

Harapan pun sirna karena setiap pintu gerbong dipenuhi manusia yang bertujuan sama. Menghabiskan liburan di Malang. Oh no… Mau naek lagi aja susah, apalagi dapet tempat duduk?? Walhasil, ga dibelakang ga didepan, kami semua berdiri. Berdiri dari Surabaya-Malang (kurang lebih 3 jam). Okey..aku dah siap untuk petualangan kali ini. Berdiri tiga jam?? Kecil…. Masih sanggup lah…  (menyenangkan diri sendiri)… Meskipun keringat tak berhenti mengucur…

Di kereta aku dapat kenalan (berdiriku sedikit terpisah dari rombongan), namanya mbak Reny, anak Farmasi UAD Yogya (ketemu aja ma orang Yogya, xixixi..) yang berasal dari Sulawesi. Tak lama kemudian kami malah ketawa ketiwi ngobrolin pariwisata di Sulawesi. Hayo suku apa yang terkenal di Sulawesi Selatan? Yup.. bener banget.. Toraja. Hm… aku belum pernah menginjakkan kaki ku disana. Pengen tau kuburan batu dan salah satu desa yang katanya masih mistik banget. Hm… pengen… (Akankah menjadi target liburan selanjutnya? Haduh… balik ke skripsi dulu dweh..).

P4021151

Naek kereta ekonomi sebenarnya menyenangkan. Orangnya bener-bener variatif. Aku suka mengamati orang dan membayangkan orang ini kebiasaannya ngapain dan ngapain (berimajinasi mode on). Ada bapak-bapak yang potongan rambutnya sangar banget. Aku dah negatif thingking, kalo nie orang pasti copet. 15 menit kemudian tiba-tiba dia ngbrol dengan wanita dan ketiga anak cewek yang ada disampingnya, yang kutau ternyata ibu dan anaknya. Hehehe… salah prediksi. Mereka mau liburan keluarga!!! Maaf ya pak… aku kan liat dari luarnya aja, dari jauh pula… Trus ada lagi, remaja pria yang mau menyalakan rokoknya, eh tiba2 orang didepannya melarang remaja pria tersebut dengan sangat tegas. Hm… Sip banget…!!! Enak aja ngerokok di tempat umum.. kalo mau ngrokok, ngrokok sono di tempat sepi, biar gag ngerugiin orang lain.

Sesampai di Stasiun Kota Lama, kami naek bemo yang sengaja di carter untuk rombongan dari Surabaya (kurang lebih 2,5jam). Jalan dan pak sopirnya berhasil membuat perutku mual-mual dweh. Untung gak sampe wek sor… :p

P4021157

Akhirnya tiba juga di Sendang Biru. Ternyata empat tenda sudah dipasang dan tim ku sudah tiba semua. Jumlahnya 15 orang, wanitanya cuma 7 gelintir. Hm… bau laut langsung mengundang ketenangan tersendiri. Meski saat itu Sendang Biru sedang surut (jadi keliatan karang dan kurang keren), tapi tetep aja aku, Adis, n Riska maen2 nyari kerang. Eh nemu pelangi di sore hari juga low (mitosnya ada putri kayangan yang turun mandi di bumi, hehehe.. semoga gda Jaka Tarub ya…)… ^^

P4021183

P4021185

Malam menjemput, kami ga langsung melakukan ekspedisi ke Pulau Sempu. Malam pertama, kami menginap di Sendang Biru yang masih padat penduduk. Dan malam itu cuacanya panas banget. Ampe aku yg biasanya betah panas, ga bisa tidur. Alhasil aku pun berdoa dengan pasrah dan khusyuk (menurutku low, he…), “Ya Alloh, turunkan hujan y Alloh… Ato ijinkan aku pasrah tidur dalam kegerahan ini ya Alloh…”. Dan setengah jam kemudian hujan pun turun. Hm… aku sangat menikmati anugrah yang diturunkan Alloh (yang rasanya) untukku malam itu.

P4021160

Lima menit pertama.

Hm….. Enak…. Nyaman…. Makasie Ya Alloh….

Lima menit kedua.

“Mbak… Kok airnya ciprat ke mukaku ya? Keliatane airnya masuk deh…”, kata Anggita, orang yang masih melek satu tenda bareng aku.

“Ah enggak… Airnya dari atap tenda itu low…”, jawabku sok logis, yang emang di atap tenda didesaign berjaring, sehingga ketika hujan deras, baru kerasa airnya.

Lima menit ketiga.

“Mbak….Airnya merembes mbak… Bocor mbak….”

“Ah enggak… Airnya itu dibawah tenda… ini kan terpal, jadi enak kayak kasur air..”, jawabku masih nyantai.

“Yuk..tidur lagi ngi…”, lanjutku yang emng masih terlena dengan cuaca malam itu.

Lima menit keempat

“Mbak… Kakiku basah mbak….”, kata Anggita mulai merengek.

“Ah masak sie… Enggak ah..udah bobok lagi gih..”

“Mbak, airnya itu masuk mbak….”, ujarnya sambil bangkit dari tidur dan memerika tas serta persediaan maem yang memang sengaja ditaruh di tendaku. “Mbak beneran mbak…liaten tha…”

“Ya tho? Hah?? Loh… Iya… Hah.. Tas ku… Tas kita… Eh makanannya…  Adis, Riska, bangun!! Eh temen2 di tenda lain…..$%(748*^&$^*%#@*)”

Akhirnya malam pertama dilewati dengan usung2 barang di tempat yang aman. Tenda kami kebanjiran luar biasa, hampir gda barang terselamatkan dari air (baca:basah mua –mamel dot kom-). Keribetan ga hanya terjadi pada timku saja, tapi juga terjadi di tepi pantai yang saat itu banyak orang mancing. Hujan malam itu deres banget. Padahal, menurut informasi yang kuperoleh, beberapa hari itu ga turun hujan, tapi entah karena doaku yang berberangan dengan kuasa Tuhan atau apa, malam itu air mengguyur kawasan Sendang Biru dan Sempu dengan menawan. Untung malam itu kita ga tidur di Pulau Sempu yang memang gda penduduk sama sekali. Di zona aman aja kita masih cerewet banget, apalagi kehujanan di ruang terbuka. Alhamdulillah ada musolla yang seketika itu ramai. Mau ga mau, kami umpel2an layaknya di pengungsian (jadi merasakan penderitaan mereka).

To be continue….. ^_^



17 Responses to “SEMPU yang hampir SEMPU-rna (Part 1)”

Leave a Reply