SEMPU yang hampir SEMPU-rna (Part 2)

Sabtu, 3 April 2010

Pagi yang cerah menyongsong. Cerah?!? Ralat… Pagi yang mendung mengundang masih menggelayuti Sendang Biru dan Sempu. Rencana awal kita berangkat pukul 6 pagi, ternyata molor hingga pukul 8 pagi, karena rintik-rintik hujan enggan meninggalkan jejaknya. Akhirnya nekadlah kami. Sebelum ekspedisi dimulai, kami mendapat pengarahan dari orang pemerintah tentang eksistensi Pulau Sempu itu sendiri sebagai salah satu Cagar Alam di Indonesia.

P4031192

P4031191

Pulau Sempu adalah pulau di bagian selatan Indonesia. Luasnya kurang lebih 800 hektar. Banyak hewan liar yang memang sengaja dilestarikan, misalnya macan tutul yang kurang lebih berjumlah 5 ekor. Ada buaya, monyet, kijang (bukan tipe mobil low), ular beraneka ragam, dan hewan lain yang jumlahnya cukup banyak. Status Sempu sebagai Cagar Alam membuat pulau ini terbebas dari kerakusan manusia yang biasanya (tanpa sengaja) merusak alam ciptaan yang Kuasa. Tak ada penduduk yang diperbolehkan untuk menjual belikan (mengkomersialkan) tanah milik negara ini. Jika ijin dengan surat resmi, larangan berkemah di Pulau Sempu pun wajib dipatuhi (seperti rombongan kami). Hanya orang-orang bandel aja yang mendirikan kemah disana.

DSCN1388

Namanya juga Cagar Alam, jadi pemerintah tak berkewajiban untuk memperbaiki kawasan yang telah rusak sendiri karena seleksi zaman. Semisal, ada satu hektar kawasan di Sempu tersebut rusak, pemerintah tak harus memperbaikinya, jadi tugas mereka hanya menjaga sebisa mungkin yang ada dalam Pulau Sempu (baca: dibiarkan begitu saja). Tak ada yang bisa dibawa keluar ataupun dibawa masuk. Satu-satunya hewan yang pernah dibawa masuk, yaitu ular Boa. Aku gtau kepentingan apa hingga si Boa dimasukkan ke Sempu. Mungkin untuk mengurangi habitat hewan lain yang jumlahnya melebihi batas atau yang cukup merugikan. Dulu pernah ketauan, ada orang bawa hewan liar keluar kawasan, dan dia dikenai denda yang setimpal. Tentu saja hewan hasil tangkapan tersebut dikembalikan ke habitatnya. Aku berharap, Sempu tetap menjadi salah satu Cagar Alam yang statusnya tidak berubah menjadi tempat pariwisata. Gimana ga kuatir kalo seandainya sepuluh tahun kemudian, setelah statusnya berganti menjadi tempat pariwisata, pantai yang terkenal dengan keasliannya ini berubah menjadi ladang sampah persis di salah satu pantai yang pernah kukunjungi. Belum lagi tangan-tangan manusia, yang usil menangkap hewan-hewan limited edition. Oh… Tidak…Faktor-faktor tersebut sangat mungkin terjadi… Dan aku termasuk salah satu manusia yang sangat menyayangkan hal tersebut. Lebih baik seperti ini dweh kondisinya…

Setelah pengarahan yang dirasa cukup, akhirnya kami dilepaskan juga. Menyebranglah kami dari Sendang Biru ke Sempu dengan perahu tradisional yang mampu mengangkut 15 orang seharga seratus ribu sepaket (baca: pulang pergi). Perjalanannya ga lama, sekitar 10 menitan. Yang lama itu ngantrinya, giliran diberangkatkan. Nah itu yang nelayannya umeg ae… Sebenernya jaraknya deket banget, tapi gag mungkin lah belum apa-apa dah renang duluan. Hehehe… padune males dan ga mungkin untuk buat renang.

DSCN1396

P4031193

DSCN1407

P4031200

Nyampe di bibir Sempu, senyum masih merekah. Rasanya tantangan sedang menunggu, ga sabar rasanya bersatu dengan hutan terlebih dahulu untuk kemudian menikmati pantai yang very secret keberadaannya. Teman-teman keliatan bersemangat banget, meski rintik hujan belum reda juga. Sekitar tujuh meter dari tempat kami mendarat, senyum yang semula merekah di bibir kami masing-masing mulai luntur karena penglihatan kami. Gimana ga luntur, hutan tersebut menjelma menjadi medan yang benar-benar membelalakan mata kami. Hutan yang berdebu di musim kemarau, menjadi kali-kali kecil di tiap cekung rongga akar pohon yang satu dengan yang lain, di musim hujan. Warnanya persis susu Milo, becek dan kentel. Huwa… Tau kondisinya kayak gitu, pasti dandananku ga rapi2 amat dweh… (katanya temenku ak kyk mau nge mall…lha aku gtau medan low…dipikiranku twuh dateng2, nyebrang, foto2 lah..). Maksudnya ga pake jeans dan ga pake tas putih. Paling pas pake celana kain n sandal eiger persis kyk yang dipake temen2 PA (keliatan banget kalo pengalaman, ga kyk aku yang pake sandal crog2an tanpa gerigi di solnya, yang bisa membuat si pemakai meluncur bebas). Kesalahan besar nih. Tapi apa mau dikata, hal-hal kecil seperti itu bukan saatnya dikeluhkan. Pilihannya ada dua. Tempuh atau tidak. Dan tim ku gda yang menyerah. Semua bersiap untuk maju ke medan perang. Dan ternyata memang aku yang pertama jatuh gedebuk, buk, duduk. Hik… Sakit dan malu. Mental rodok down… Apalagi kabarnya perjalanan nyampe di Pantai Segoro Anakan (pantai indah pertama yang bisa dijumpai) baru bisa ditemui, setelah jarak tempuh kurang lebih 3 jam dengan jalan kaki. Jadi agak nyesel malam sebelumnya menginginkan hujan. Terkadang doa itu bener2 harus dipikirkan, ga boleh sak det sak nyet. Dan pelajaran penting yang kudapat saat itu, liburan musim hujan, ga lagi dweh.

DSCN1417

DSCN1419

DSCN1420

DSCN1422

Setapak demi setapak kami lalui. Berkali-kali terdengar keluhan, β€œYa Alloh… Ya Alloh.. Ya Alloh.” Dan keliatane aku, diantara rombongan yang paling sering jatuhnya. Setelah aku yang bak buk bak buk, lama kelamaan banyak juga yang kepleset. Gag cuma cewek aja, yang cowok2 juga jatuh. Bahkan sandal2 kami tak jarang yang pedhot (termasuk pemakai eiger juga,,,xixixi). Sandalku yang kurasa ga aman untuk jalan di atas susu coklat Milo, harus rela kulepaskan terlebih dahulu. Ndelamaklah aku (wong ndeso temenan). Gak peduli bagaimana sakitnya telapak kaki menancap di akar pohon, karena yang ada dipikiranku saat itu, jalani apa yang ada didepanmu, Difana! Okey… Cantik-cantik sudah tidak berlaku. Saatnya kekosroan berperan. Celana berwarna abu2 terang telah sukses berwarna coklat lempung tanpa tahu bisa dicuci bersih kembali seperti semula. Tas putih pun tak berbentuk, bentuknya. Dan perjalanan dibuat semenyenangkan mungkin. Sayang kami tak melihat hewan liar satu pun. Umumnya hewan-hewan tersebut tinggal di tengah hutan. Padahal perjalanan kami merepet ke pinggir hutan karena tujuan kami sedari awal adalah pantai. Jadi yang ada disekitar kami adalah hutan dengan kerimbunan dan kerindangannya. Tim kami gda yang istirahat blas waktu berangkat low, gda yang minum sekedar melegakan dahaga, semua konsentrasi pada jalan yang rusak serta rasa penasaran yang cukup besar. Menurutku hebat!! Bahkan pemandu kami mengacungi jempol untuk stamina srikandi yang ikut kali ini. πŸ™‚

DSCN1441

DSCN1443

DSCN1439

DSCN1431

Menit demi menit, jam demi jam kami dilalui, akhirnya kami sampai juga di Pantai Segoro Anakan!!!! Hore…hore..hore… Pantai nya indaaaahhhhh…banget…!!! Sayang saat itu sedang rame (maklum libur panjang), jadi banyak tenda-tenda yang merusak pandangan. Ada sekelompok orang yangΒ  melakukan diklat suatu organisasi, orang pacaran di tebing2, foto2 prewed, dan kami yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda kepentingannya, hanyalah bermain-main, hehehe… Namanya juga liburan! Jadi, suasananya ga ekslusive dweh. Padahal faktor sepi di pantai bisa jadi nilai plus tersendiri low. Lebih nyaman sepi menurutku. Tapi gpp lah…yang penting bisa beristirahat sejenak… Eman juga ngeliat airnya berubah jadi keruh karena teman2 merendamkan tubuh yang terkena lumpur di pantai. Oiya… ada tebing yang bisa dipanjat untuk menatap Pantai Selatan juga low… Hm.. so sweet..! Anggita yang memang anak mama, nyampe pantai langsung nangis, xixixi… Riska, Inung, Adis main2 air pantai, dan teman2 yang lain masak, sedangkan aku yang capek dan gampang lelap langsung duduk, berbaring, dan tertidur nyenyak.

DSCN1448

P4031202

DSCN1449

DSCN1472

DSCN1477

DSCN1470

Setelah puas main-main di Segoro Anakan, tim kami dimintai ketua, Mas Cepi namanya, untuk kumpul sejenak. Hari sudah sore, pukul 4 kalo ga salah. Dia menawarkan kepada anggota kelompoknya untuk melanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya. Disinilah terjadi pro-kontra yag cukup sengit. Persediaan kami ketika brangkat hanyalah untuk makan siang yang ternyata sudah habis dilahap sesaat sesudah kita nyampe di Segoro Anakan. Rencana awal kami memang tidak menginap di Sempu, karena memang tidak diijinkan oleh bagian yang berwenang. Mereka-mereka yang membuat tenda di Sempu itu tidak menggunakan surat ijin (baca: liar) dan kalo misalnya salah satu mereka hilang, pihak yang berwenang tidak memiliki kewajiban untuk mencari mereka yang hilang tersebut. Tapi, jika kami balik ke Sendang Biru saat itu, sangat tidak dimungkinkan, karena jarak tempuh dan waktu yang sudah hampir petang (stamina juga sech). Temen2 dari Udayana kebanyakan menginginkan pulang, karena sebenarnya tujuan mereka ingin melihat satwa liar yang berhubungan dengan kuliahnya -FKH- (ya iyalah, Segoro Anakan menjadi pemandangan yang biasa untuk mereka yang berdomisili di Bali, wajar aja kalo pengen pulang), tapi susah menemukan satwa seperti keinginan mereka. Sedangkan temen-temen dari Unair menginginkan perjalanan dilanjutkan, dan aku salah satu nya yang menginginkan perjalanan berlanjut. Argumenku saat itu, sangat rugi kalo perjuangan kami yang ga mudah itu ternyata hanya untuk melihat satu pantai trus langsung pulang. Kapan lagi kami bisa kesana? Malam pun sebentar lagi menyapa, emngΒ  mau jalan malem2 di hutan dengan medan seperti itu? Dan keputusan pun diambil dengan pilihan perjalanan diteruskan ke pantai selanjutnya.

DSCN1459

DSCN1464

DSCN1471

Huah… seneng dweh bisa lihat pantai lain yang katanya lebih indah dan sepi dibandingkan dengan Segoro Anakan. Padahal saat itu cadangan makanan kami menipis, tidak membawa tenda satu pun (padahal masih dibayang-banyangi hujan deras), tidak membawa pakaian ganti, dan yang pasti capek semua. Perjalanan akan dilanjutkan ke Pantai Kembar satu, Pantai Kembar dua, dan kami akan menginap di Pantai Panjang yang katanya ada tempat seperti goa, cocok untuk kami berteduh. Padahal baju sudah full lumpur, air pantai, dan pabrik keringet (beneran dweh, aroma tubuh ku sndiri wktu itu kayak kambing, huwek).

Masalah makanan dapat kami atasi dengan cara meminta konsumsi dari tenda satu ke tenda yang lain, dengan alasan yang jujur (bener2 melas banget dweh). Dan kami mendapat makanan banyak dari tmn2 ITS Teknik Perkapalan, satu kresek item besar low!!! Alhamdulillah…mereka malah seneng bisa memberi kita pasokan kebutuhan, karena mereka akan segera kembali ke Sendang Biru dan pemberian itu meringankan beban tas mereka. Hore….!!! Ada mie… Eh mie… low mie… dan (ya) mie… Oalah.. isinya hampir semua mie!!! Untung masih ada roti sebungkus dan roti kering sebungkus lagi. Bersykur…bersyukur…namanya dikasih itu kan semaunya yang ngasih. Lagian di tempat seperti itu, makanan apa lagi sie yang bisa diharapkan selain mie instan???

Ada satu pelajaran berharga, yang kudapat dari kelompok baru ku ini, terutama dari anak2 PA. Mereka benar2 serius menghormati alam seperti memperlakukan ibu bapaknya sendiri. Semua sampah yang telah kami buat, mereka kumpulkan, ditempatkan di glangsing besar dan kemudian mereka tenteng kemana-kemana. Termasuk dalam perjalanan yang akan kami tempuh selanjutnya, yang medannya memang lebih curam. Aku merasa malu. Aku pikir, dengan membuang sampah pada tempatnya di mana pun aku berada itu sudah cukup! Ternyata, ada yang lebih mencengangkan. Menurutku itu langkah yang mengharukan untuk melestarikan keindahan alam yang dilakukan anak muda2. Andai saja temen2 lainnya mampu melakukan hal yang sama… Usia bumi mungkin bisa sedikit lebih panjang…. Salut untuk mereka. πŸ™‚

P4041241

To be continue…. πŸ™‚



9 Responses to “SEMPU yang hampir SEMPU-rna (Part 2)”

  • anggita Says:

    kq fotoQ seng nangis d upload seh……..

  • Mas Hakim Says:

    Subhanallah…Menarik-menarik…:) “dorana” the adventure, eh “difana” ^_^….semoga ceritanya semakin berwarna di setiap langkahnya…..hidup sempu island, hidup INDONESIA…

  • cencen Says:

    ralat! beautiful morning.. ^_^

  • diva Says:

    @anggita:hahahaha…ekspresif nggi.. :p
    @mas hakim:hidup!!! πŸ™‚
    @cencen:klo kmrin ya beautiful morning…hehehe…^_^

  • Djay Says:

    Alhamdulillah!!!!
    ada juga yg punya optimis thinking…..

    weh,,,
    jenengku ga ono…
    sing motret aku
    TT
    foto ku mek siji pisan

  • diva Says:

    @jay:xixixi..iya2.. jay ini yang paling jangkung temen2..dia yang berjasa moto2 aku…oiya..dia juga anggota PA.. πŸ™‚

  • Djay Says:

    waduh telat ciag…..
    hohohhoo…

    sedikit ralat:
    PA unair ada dewe loh,,,
    qt dari Tramp Backpacking Community
    Observe, Conserve, n Enjoy
    πŸ™‚

  • putri Says:

    akuu sukaa poto anggi waktuu nangisss..
    hahahaa…
    nggilaniii,,,

  • diva Says:

    @jay:lebih baik terlambat daripada tidak..hehehe…
    oalah…Tramp Backpaking Community…kok gda singkatane sich..kepanjangen bingung ak.. @_@
    @puti:xixixi..ojo nggono tho..nggono2 kuwi yo koncomu low.. πŸ™‚

Leave a Reply