Sisa Sepotong Cinta

“Asem….!!! Brengsek!!! Cukup.. Cukup… Aku sudah cukup bersabar dalam hal ini. Aku bersumpah dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, menginginkan kejadian paling buruk menimpanya. Aku percaya akan hukum karma. Hidupnya pun tak akan tenang dihantam awan. Bukan Clara namanya jika tidak bisa membuat detik dalam kehidupannya menjadi tak berarti. Cuih!”

“Tapi..sebenarnya bukan itu maksud dari seorang yang begitu mencintaimu. Ingatkah kau bahwa dia selalu mengantarkanmu kemana pun kau pergi. Mengajarkan sesuatu yang susah menjadi mudah. Tak lupa, selalu membawa kan bekal untukmu dipagi hingga malam hari.”

“Itu dulu. Kini cintanya menguap begitu saja.”

“Karena kamu tak merawatnya.”

“Aku merawatnya kok.. Mencoba untuk menjadi pupuk atau air segar baginya.”

“Pupuk yang sudah tak layak pakai dan air keruh”.

“Ya kalau itu yang kamu mau terserah. Aku hanya ingin dia lebih menderita daripada yang aku alami sekarang.  Aku mengutuk dia dalam kepedihanku. Huh!!”

Clara nampak menggerakkan gigi atas dan gigi bawah. Nampaknya dia sangat geregetan melihat sesosok foto laki-laki yang selama ini menghiasi dompet Roxy putihnya. Dipandangi dan dibelai-belai foto itu. Antara geretan dan rasa ingin bertemu nampak dari raut mukanya. Kemudian raut wajahnya berubah. Nampak dari sudut mantanya ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah dari tadi ia pendam.

“Coba pikirkan lagi akibat dari tindakan yang tak kau pikirkan matang-matang. Sebenarnya dia masih sangat mencintaimu. Dia pun begitu karena salahmu sendiri.”

“Salahku?! Salahku?! Enak saja kau bilang seperti itu. Aku sudah memberikan apa yang sepantasnya kuberikan. Cinta, perhatian, kasih sayang, waktu, dan inikah balasannya??”

“Perhatian?! Kasih sayang?! Kemana saja kau selama ini, jika dia menginginkan sosok teman di waktu senggangnya. Kemana saja kau selama ini, jika dia sedang jatuh dan membutuhkan support dari orang yang dia sayangi. Kemana saja kau selama ini, jika dia sedang ingin memanjakan kau selayaknya putri raja.”

“Aku hanya menghilang. Dan tidak berniat melepaskannya. Sungguh aku tak berniat melepaskannya.”

“Tapi secara naluriah, cara bersikapmu seperti –Cepat pergi. Aku muak dengan mu-“

“Hik…. Hik.. Bukan.. Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya bosan dengan keadaan, bosan dengan rutinitas, bosan dengan ritual yang begitu-begitu saja. Aku hanya memberikan jeda pada hubungan ini. Yang paling kusesalkan adalah kenapa harus dengannya. Aku bisa memaklumi, jika dia dekat dengan yang lain. Tapi kenapa harus dekat dengannya. Ini menjadi pukulan telak yang pernah aku alami. Harga diriku jatuh dan terinjak-injak.”

“Karena dia wanita yang baik Clara.”

“Baik dari apanya. Dia adalah wanita penggoda lelaki.”

Melenguslah Clara. Pandangannya kini beralih pada tiga sosok manusia yang tampak bahagia. Dilihatnya foto-foto yang berisikan tiga orang itu. Kemudian Clara mengambil peniti, dibuka separo dan langsung ditancapkan pada muka yang bukan wajahnya ataupun wajah mas Aftha. Clara terlihat sadis dengan tindakannya. Tajam sekali melihat sosok gadis yang fotonya ia lukai. Geram dan marah.

“Dia bisa memahami lelakimu dengan cara yang berbeda.”

“Tapi kenapa harus Angel?? Bukankah dia sudah seperti saudaraku sendiri. Aku pikir dia mediator terbaik di dunia. Selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Memahami setiap cela permasalahanku dan Mas Aftha. Ternyata kelakuannya tak lebih dari seorang maling pasar. Pencuri.”

“Ucapanmu tidak sopan. Api cemburu membuatmu menjadi teman syetan.”

“Tak peduli jika kini aku menjadi teman syetan. Seorang syetan pun lumrah. Tapi rasanya kesalahan ini juga tidak murni karena Angel. Lelaki brengsek itu juga tak kalah layaknya seorang pecundang. Pasti dia juga mengemis-ngemis cinta. Menceritakan kecuekkanku pada wanita penggoda itu untuk menarik simpati.”

“Sekali lagi kutegaskan padamu. Dia sebenarnya sangat menyayangimu. Tak berniat untuk membuatmu terluka. Ingatkah kau jika dia menantimu bertahun-tahun untuk satu kata,”Ya” darimu?”

“Ya.”

“Kau juga masih menginginkannya kan?”

“……..sedikit.”

“Eh.. Gak,,,sudah gak banyak seperti dulu…”

“Tapi kamu tak bisa membohongi dirimu sendiri.”

“Ya… Aku masih sayang dengannya. Jadi….yang salah tetap si penggoda itu. Aku mau melabrak dia saja. Akan kudatangi dia, kutampar dan kugunakan sisa-sisa ilmu karateku. Pasti dia bonyok2 semua.”

Clara tersenyum sinis. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Rasanya ia ingin memuntahkan kekesalannya dengan tertawa terbahak-bahak. Mundur, mundur, dan mundur hingga dia terjatuh ditempat tidur. Berlahan-lahan tawanya mereda. Kini ia benar-benar ingin beranjak dari tempat tidurnya.

“Aku harus menemuinya penggoda itu sekarang.”

“Untuk apa?”

“Untuk memberi pelajaran.”

“Seperti apa?”

“Ya itu tadi… Memukulnya hingga aku puas.”

“Hasilnya??”

“Kepuasan.”

“Dan??”

“Balas dendam.”

“Tak pernahkah kau berpikir bagaimana anggapan orang-orang jika itu kau lakukan? Lihat dirimu dikaca. Kau tampak anggun dengan jilbabmu. Tak merasa rugikah kau, jika orang-orang kini beranggapan –Clara adalah wanita yang bandel dan tak tau aturan?- Kau yakin ingin menemuinya untuk mencelakainya?”

“Why not?”

Clara pun berniat mandi. Meskipun dia berdiri dengan kondisi yang terhuyung-huyung. Kemarahannya masih jelas terlihat. Kamar tempat ia berkubang selama tiga hari nampak seperti kandang sapi, berantakan. Kamar mandi miliknya tak terurus, bau apek tercium hingga tempat tidur. Namun Clara enjoy dengan semuanya. Dia pun segera melepas satu per satu pakaiannya dan menyalakan shower bersuhu hangat. Tapi Clara terdiam. Sesekali dia mengedipkan matanya, berpikir, melamun.

“Aku kangen dengan Mas Aftha.”

“Ya, kamu memang masih mencintainya.”

“Dia berkhianat denganku. Dengan seorang teman yang sudah aku anggap saudaraku sendiri. Tapi untuk apa ya aku harus melakukan tindakan bodoh seperti itu? Bukankah jika ia merasa bahagia dengan wanita yang dipilihnya, lebih baik aku menyingkir dari kehidupan mereka. Bukan sebagai seorang penghalang.”

Tiba-tiba air matanya jatuh lagi. Kali ini dia menangis dengan tatapan kosong. Melamun dan menangis, merosot hingga terkesan jongkok. Kemudian ia membentuk bulatan-bulatan air di atas keramik kamar mandinya.

“Tugasku sekarang bukanlah mengurusi mereka berdua. Sudah cukup mereka mengkoyak hatiku yang hanya satu ini. Sekarang aku hanya berdoa untuk mereka, semoga diberi ganjaran yang setimpal, biar Tuhan yang membalasnya. Sedangkan tugasku sekarang adalah bagaimana aku menjalani kehidupan selanjutnya dengan semaksimal mungkin. Aku sudah lelah dengan penghinaan mereka. Aku juga sudah capek jika mengingat bagaimana canda gurau mereka nampak didepan mataku.”

Wajah Clara bersih setelah mandi. Aura kecemburuan yang sempat meletup-letup tampaknya mulai mereda. Dia pun merapikan kamarnya. Barang-barang pemberian Mas Aftha dikumpulkan satu demi satu. Kotak coklat yang puluhan jumlahnya, boneka panda putih ketika pertama mengikrarkan ikatan cinta, hingga catatan-catatan kecil berisikan buaian cinta hasil keisengan mereka berdua pun mulai dipunguti.

“Sepertinya aku memang tak patut menghujami dia dengan cercaan-cercaan. Kotak coklat ini memberikan arti penting akan ketelatenannya memenuhui keinginanku. Boneka pandanya selalu ku peluk ketika aku merasa kesepian. Dan sms lewat kertas ini membuat gadis di seluruh antero sekolah menatapku iri. Aku mengingat masa-masa itu.”

Secercah senyum ia simpulkan di sudut bibirnya. Raut mukanya tenang. Rupanya mandi membuat pikiran Clara lebih terbuka. Dibaca tulisan-tulisan di notes kecilnya. Lagi-lagi ia tertawa keci dan matanya berkaca-kaca.

“Aku ingin segera melupakannya.”

“Iya, lebih baik kamu melupakannya dan tidak usah mengurus mereka lagi.”

“Bye.. Bye Mas Aftha.. Bye.. Bye.. Angel…Meskipun berat, aku akan berusaha memaafkan kalian. Tapi sebelumnya aku juga minta maaf..jika untuk masa-masa yang akan datang, aku tak ingin menemui kalian lagi.”

Barang-barang pemberian Mas Aftha pun ia kumpulkan menjadi satu di dos yang super besar. Dengan susah payah, akhirnya Clara bisa menaikkan dos yang beratnya sekitar tujuh kilo itu untuk disimpan di lemari paling atas. Didepan cermin sekarang. Dilihat wajahnya dengan detail. Ia pun mulai tersenyum dan menata rambut.

“Aku akan berusaha menghadapi hidup ini sendiri, hingga akhirnya datang seorang pangeran kecilku yang sebenarnya.”

“Pasti pangeran kecil itu akan datang, Clara.”

“Pasti”

“Pasti……”



2 Responses to “Sisa Sepotong Cinta”

Leave a Reply