Memahami Syekh Siti Jenar

Tema skripsi saya yang ingin saya selesaikan pada semester ini (semoga ga molor..amien..) adalah tentang seluk beluk spiritualitas yang mengacu pada salah satu novel yang cukup membuat saya berdecak kagum, karangan teranyar dari Ayu Utami. Yup.. Bilangan Fu. Bilangan Fu menyimpan banyak kata kunci yang bisa dikuak, tapi rupanya saya lebih tertarik untuk membahas spiritualitasnya saja, dibanding harus memikirkan modernitas atau militerismenya. Spiritualitas adalah sebuah konsep untuk menemukan apa yang bisa membuat hati tentram, sedangkan spiritualisme sendiri condong pada ajaran. Ngerasa enjoy aja menulis dengan tema yang cukup menarik (menurut saya low..). Jadi akhir-akhir ini buku yang saya baca ga jauh-jauh tentang Tuhan yang ada dalam Al-Qur`an, Tuhan dalam Al-Kitab, Tuhan dalam Weda, Tuhan dalam hati, kejawen, ortodok, serta mitos-mitos yang mengikuti aliran kepercayaan.

Buku berjudul Syekh Siti Jenar pun tak luput untuk saya beli dan saya baca (sapa tau ada hubungannya dengan spiritualitas yang saya cari). Syekh Siti Jenar sudah saya kenal sejak beberapa tahun yang lalu, tapi bedanya dulu hanya dari permukaannya saja saya mengenal beliau. Yang saya tau, beliau seorang muslim yang pada akhirnya dipancung oleh wali songo karena diduga mengajarkan “aliran sesat”. Okey..saya pikir saat itu wajar saja untuk seorang yang memang mengajarkan “aliran sesat”, pancung saja, habisi saja, selesai.

Sedikit pengetahuan saya bertambah, ketika saya mengikuti teater kampus, yang pada waktu itu bingung memilih naskah apa yang bagus untuk ditampilkan. Teater tersebut menjadi salah satu mata kuliah wajib bagi anak sastra. Sayangnya naskah Syekh Siti Jenar tidak jadi ditampilkan (padahal waktu itu saya sudah merasa tersihir oleh cerita yang ada dalam naskah), entah karena apa. Setelah saya baca, saya  bingung, dalam naskah disebutkan bahwa murid-murid Siti Jenar ini suka membikin keonaran, suka berontak, dan suka mbangkang pada pemerintahan kala itu (alasannya apa saya masih lum tau..). Tapi setelah menjalani hukuman pancung, yang ada darahnya Siti Jenar ini beraroma kasturi, yang kita tahu wangi paling semerbak di akhirat nanti (padahal kalo inget aroma kasturi itu inget wangi-wangian yang dijual bebas di ampel itu low..duuh..rodok ga suka ma wangi-wangian itu). Tak hanya itu, dalam naskah ini pun para wali tak ingin jika masyarakat umum (yang masih mempercayai mistik) melihat kenyataan bahwa darah orang yang diduga “sesat” ini beraroma kasturi, sehingga jenazah Siti Jenar di ganti dengan bangkai anjing yang kudukan. Wih..kok tega banget ya para wali Alloh ini.. Udah dipancung, sekarang jenazahnya diganti bangkai anjing lagi..kejam banget..(maaf.. ini pikiran dangkal difana saat itu). Keberpihakkan yang semula ada pada wali songo kini berganti pada Siti Jenar.

Tapi akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah setelah membaca buku ini. Memang harus ada jarak dengan pembacaan nie. Informasi harus dijadikan sebagai sebuah data. Bukan kebenaran yang ditelan bulat-bulat. Awalnya Siti Jenar ini adalah muslim yang biasa saja, yang taat dan tak dianggap “menyalahi” aturan agama. Tapi dia adalah sosok yang haus akan ilmu agama, oleh karena itu dia belajar hingga ke timur tengah. Sepulang dari sana, dia menjadi seorang sufi yang mampu menyihir orang lewat kata-kata maupun logika. Timur tengah adalah gudangnya orang-orang sufi. Karena Siti Jenar ini adalah orang cerdas, dia mampu memahami karangan-karangan al-Hallaj, Ibnu Farabi, maupun Ibnu Arabi dengan baik. Dia pun akhirnya menyebarkan pandangan sufinya kepada orang-orang Indonesia, terlebih Jawa.

Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Selain itu, Siti Jenar menyatakan bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima: syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan setelah kematian.

Siti Jenar juga berpendapat, bahwa Alloh itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Menyatu dalam tubuhnya dengan istilah manunggaling kawulo gusti (bersatu dengan Tuhan). Perlu diingat, Islam memiliki empat tingkatan yang perlu ditapaki setingkat demi setingkat. Beruntung Siti Jenar ini melalui tingkatannya dengan benar. Empat tingkatan tersebut yang pertama adalah Syariat. Yang dimaksud dengan syariat adalah dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti sholat, zakat, haji, dll). Jika hal ini sudah dilalui, maka jalan yang kedua adalah jalan ke tarekat dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu. Setelah jalan melalui tarekat berhasil dilampui, menginjak ketiga adalah jalan hakekat. Hakekat ini berisi tentang hakekat manusia dan kesejatian hidup akan kita temukan. Dan yang terakhir, yang keempat adalah ma`rifat, kecintaan kepada Alloh dengan makna seluas-luasnya. Ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap “hakekat” dan bahkan “ma`rifat” kepada Alloh (kecintaan yang sangat kepada Alloh) (Rekonstruksi Jejak Spiritualitas Syekh Siti Jenar, 2009: 95-96).

Mengerikan memang jika orang yang masih nol pemahamannya tentang Islam langsung diberikan tataran tentang hakekat dan ma`rifat. Mengingat pada masa itu masih banyak masyarakat Jawa yang masih memeluk agama Hindu-Budha. Kalau boleh beranalogi, tingkatan syariat dan tarekat adalah mangkok besarnya, sedangkan hakekat dan ma`rifat ini adalah isi dari mangkok besar tersebut. Bisa dibayangkan kan, kalo wadahnya saja ga kokoh, wadahnya saja masih kecil, atau wadahnya aja tak beraturan trus di kasih isi yang beraneka ragam larutannya, mau jadi apa? Belum kalo ada zat (yang tak tahu prosentase “keganasannya”) beserta pelarut yang juga tak tahu berapa beratnya, yang ada wadah ini sendiri yang kewalahan dan “hancur”. Demikian juga dengan pemahaman Siti Jenar yang condong pada tasawuf. Disinilah letak perbedaan Siti Jenar dan para wali. Siti Jenar mengajar berdasarkan kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu Arabi, dan Ibnu Farabi, sedangkan Wali Songo mengajar berdasarkan kitab Imam Ghozali, mazhab Hanafi, Maliki, Hambali, serta Syafi’i. Jika Siti Jenar mengajarkan “isinya”, Wali Songo mengajarkan “mangkok”nya.

Sehingga setiap ada kerusuhan-kerusuhan yang selalu menjadi biang keroknya adalah santri Siti Jenar. Mereka melakukan kerusuhan dengan harapan bisa meninggal dunia, karena hidup ini diibaratkan sebagai mayat hidup. Oleh karena itu, murid-murid Siti Jenar lebih suka mati daripada hidup lebih lama. Kerusuhan yang dilakukan murid-murid Siti Jenar membuat aparat keamanan kewalahan melakukan penertiban. Murid-murid Siti Jenar lebih suka melakukan perlawanan dan rela mati dalam kerusuhan. Kematian bagi mereka merupakan hal yang baik, karena hidup sesudah mati adalah hidup yang sesungguhnya. Lepas dari penderitaan dan sebutan sebagai mayat hidup. Hm… Seandainya waktu itu Siti Jenar bisa menggunakan metode yang tepat bagi para muridnya, maka sudah barang tentu akan lain jadinya. Ia menyamakan muridnya sama dengan murid-murid yang ada di Bagdad yang pemahaman keIslamannya sudah cukup tinggi. Sedangkan di tanah Jawa, pengetahuan agama Islamnya masih sepotong-sepotong.

Dan mengenai sejarah para wali yang mengganti jasad Siti Jenar dengan bangkai anjing, maka perlu dikritisi terlebih dahulu. Para wali adalah orang-orang suci, mereka lebih tau mana yang salah dan benar, jadi sangat gak mungkin kalau para wali Alloh ini melakukan penghinaan seperti yang sudah disebutkan. Kita juga harus menelusuri naskah-naskah yang menyebutkan jalan ceritanya seperti demikian. Bisa saja, naskah itu hasil karangan murid Siti Jenar yang ingin menjatuhkan citra para wali. Dari banyak sumber yang disinyalir memang sejarahnya berbeda-beda, ada yang katanya Siti Jenar ini bunuh diri (lek menurutku kok gak mungkin, sosok yang bisa berpikir sampe pada tataran ma`rifat kok menginginkan kematian yang sangat dibenci Alloh), ada yang dipancung kemudian rohnya terlihat oleh banyak orang (mistis), ada juga yang ujug-ujug darahnya beraroma kasturi, dll. Ingat…informasi jadikanlah sebagai data. Kebenaran tetap ada pada diri kita masing-masing.

Bagaimana pun kejadiannya, saya yakin mereka adalah orang-orang suci. Siti Jenar orang yang sangat mencintai Alloh, demikian juga dengan Walisongo. Mereka saat itu hanya ingin menyebarkan agama Islam dengan seluas-luasnya. Dan ternyata Alloh sudah menakdirkan jalan ceritanya seperti itu.

Wallahualam.. Semoga mereka selalu dalam dekapan Sang Maha Memberi Nafas… Amien..



23 Responses to “Memahami Syekh Siti Jenar”

  • cencen Says:

    ayu utami ayu utami.. bikin geger aja 😀

  • diva Says:

    loh…yang tak rangkum ini tentang syekh siti jenarnya akhiiii….jadi gegernya zaman dulu…kapan2 tak pinjemi bukunya biar lebih jelas… ;p

  • Anonymous Says:

    “Dan ternyata Alloh sudah menakdirkan jalan ceritanya seperti itu.??”
    menurut saya mereka sendirilah yg membuat jalan ceritanya seperti itu…coba dipahami lagi…^^

  • diva Says:

    “mereka”?who`s that?

  • defidancow Says:

    bagus.. tp g sependapat sama tang 1 ini..
    “Kebenaran tetap ada pada diri kita masing-masing.”
    kalo kebenaran ada pada masing2.. ada bnyak kebenaran donk? ma’af kalo ada kata yang salah…. ^^V..

  • cencen Says:

    sesungguhnya kebenaran sudah ada pada setiap manusia sejak manusia lahir.. sifat sifat Allah yang ditiupken ke dalam jiwa yang fitri.. hanya saja banyak manusia mencari pembenaran di atas keraguan bahkan kebatilan.. yang membuat kotornya jiwa

  • defidancow Says:

    cen: mantafff.. like this.. ^^Q..

  • danz Says:

    yah bener juga tuh cerita lw…
    tapi ini pemahaman untuk orang yang sudah memiliki tingkat agama yang gag bisa dianggap remeh..
    tentunya orang-orang makrifat dan hakekat….
    kalau masih cupu ma syariatnya aja gag bakal bisa memahami apa yang telah dilakukan oleh syekh siti jenar…
    dan dia dikalahkn oleh sunan kalijaga yang menganut aliran kejawen,waktu itu syekh siti jenar ditanya aku akan mengakuimu “manunggaling kawulo gusti,jika bisa lepas dari sinawangku” akan tetapi syekh siti jenar lari kemanapun baik itu masuk ke dalam bumi maupun masuk kedalam lautan tetap bisa terlihat oleh sunan kalijaga…

  • diva Says:

    @def:kebenaran menurutmu belum tentu benar menurutku…n sebenarnya nurani bs memberikan kebenaran yang paling benar…(kok rodok mbulet ya?xixixi..)
    @danz:oiya tha?ak malah gtau versi yg itu..setau ku cerita nya wktu manggil twuh gini:
    “Saya mencari Syekh Siti Jenar”, kata Sunan Bonang.
    “Syekh Siti Jenar tidak ada,,yang ada Tuhan”, kata Siti Jenar.
    Kemudian setelah berdiskusi dengan para wali lainnya, datang lagi dweh Sunan Bonang,
    “Saya mencari Tuhan”, kata Sunan Bonang.
    “Tuhan tidak ada, yang ada Siti Jenar”, kata Siti Jenar.
    Balik lagi dweh Sunan Bonang ke para wali, berdiskusi kembali. Setelah mendapat keputusan, baru balik ke kediaman Siti Jenar.
    “Saya mencari Tuhan dan Siti Jenar”, kata Sunan Bonang.
    Setelah digituin, Siti Jenar baru mau menerima undangan para wali.

  • defidancow Says:

    satu2nya harapan menemukan kebenaran hanya dengan akal dan nurani..
    aq merasa blum benar2 mencari.. karena untuk itu pasti butuh pengorbanan besar dan tanggung jawab..
    seperti bilal, seperti keluarga yasir.. aq g akan bisa seperti mereka.. (~.T)..

  • gto Says:

    “mereka” yo orang2 dalam cerita itu donk..sopo maneh? 0_o”
    Manusia mempunyai kuasa untuk berusaha menentukan jalan hidupnya,,,dan seringkali manusia melihat sesuatu yang simpel dengan sudut pandang yang rumit dan berlebihan..

  • gto Says:

    @defi: sbnernya mayoritas dari umat muslim ini sangat mengerti batas salah dan benar,halal dan haram,surga dan neraka,,Berpikir dari luar kotak dan terlihat bahwa Islam itu simpel,mudah,jelas,realistis,..Hanya saja,cukup sulit untuk tidak bergerak melewati batas…wkwkwk

  • defidancow Says:

    gto: whekekeke.. betul2.. cukup realistis.. ^^V.. thanks.. (aq suka diskusi tanpa emosi kayak gini.. belajar perang pemikiran..)

  • Elsa Says:

    HAH?
    arek sastr wajib ambil teater?
    sejak kapan?
    hehehe untung jamanku mbiyen gak ngunu.

    btw, sepertinya ada kesalahpahaman antara syeh siti jenar sama walisongo. tapi yo mesti ae menang walisongo… lha wong walisongo ono songo, syeh siti jenar cuma single fighter!
    hehehehe guyon Rin….

    Syah siti jenar itu pada dasarnya “benar”… tapi caranya yang salah. dia kan orang yang wes puinter pol… sudah tingkat tinggi…
    kalo ilmu “tinggi” nya itu diajarkan ke rakyat jelata, orang awam… ya amburadul. rakyat jelatae gak ngerti… gak nyampe. jadi akhirnya diklaim mengajarkan hal yang salah….

    sebenarnya aku setuju sama syah siti jenar yang ngomong kalo dia itu Allah. maksudnya si siti itu bukan ngaku ngaku dia Allah, trus rakyat jelata disuruh nyembah si siti kan..

    aku pikir maksudnya si siti itu… allah “MELIPUTI” semua hal di dunia ini. “MELIPUTI” itu kan artinya ada di dalamnya juga, termasuk di dalam tubuhnya si siti.. juga di dalam tubuh kita… ada Allah dimana mana…

    (kok tambah mbuletisasi ngene aku yo?)

    tapi yo balik lagi…
    wallahualam ae wes. hahahaha

  • diva Says:

    mbak elsa:iyo mbak…dramaturgi maksudku… :p
    iya…manusia itu emng selalu ada salahnya…termsuk syekh siti jenar yang ilmu agamany tingkat tinggi…

  • Laila Says:

    Ini menurut analisaku sendiri, Out of Topic sih…(Kebiasaan!) Kalau salah mohon dikoreksi ya…

    Orang Jawa jaman dulu terkenal sakti-sakti. Maka para penyebar Islam Arab banyak yang musti belajar ilmu kesaktian dulu ke Persia sebelum datang dan berdagang ke Jawa, agar bisa mengalahkan preman dan perampok Jawa yang sakti, dan siapa tahu, mengislamkan mereka. Tidak heran di dalam buku sejarah dulu, penyebar Islam di Indonesia gak jauh-jauh dari kata: Persia, Gujarat.

    Persia (include Irak dkk)memang terkenal dengan ilmu klenik dan kesaktian jauh sebelum masa keislaman… Kayak di film 300 ntu lah…

    Walah, lakok ngelantur…Dif, aku kenale Siti Maesaroh, temen kental semasa SMP. he-he-he…

  • diva Says:

    wkwkwkw…aku kenale yo siti ulfah..nang kampusku…:P

  • gto Says:

    setuju sama mbak lailaa….
    heh..ayo reuni….arek2 ngajak kumpul,,ajak suamimu pisan..oyeeyyy

  • laila Says:

    @Difa: Huehehe…. Siti Laila ada ga sis? ;P

    @gto: Situ siapa ya? gito?

    Walah, suamiku angkatan 97 je…Di mana reuninya? Kalau di Jakarta kemungkinan besar ikut… Di sini mo ada reuni gedhe bulan agustus…

  • diva Says:

    @laila:ya wez…kamu tak panggil siti laila wez..xixixi…
    gto kuwi gentho la…koncomu 2-6… ^_^

  • laila Says:

    Apa aja deh say…Asal ga siti similikiti…:D
    Woooh…gentho to…. Kirain Gito…Tiwas bingung, soppooooo wi?

  • diva Says:

    wkwkwkw…gmn twuh kabar si similikiti mu itu?masih ke tomboy2an y??xixixi..

  • laila Says:

    Iya Dif…Masih lah…Eh, tapi tomboy2 jago masak loh..Aku wae kalah…:P

Leave a Reply