A Letter from Her for Him

Berkawan dengan seseorang itu harus ikhlas memayungi dia di kala hujan, ikhlas memberikan tempat yang sejuk di kala panas menyengat, dan juga ikhlas menyediakan waktu kosong untuk mendengar segala keluh kesahnya. Demikian juga dengan temanku yang bernama Intan ini. Dia bingung untuk menceritakan masalahnya secara langsung padaku, tak sempat katanya. Tempat tinggalnya pun berbeda provinsi denganku, maka dari itu dia menuliskan sebuah email untukku berupa luapan perasaan yang tengah dirasakannya ketika dirundung masalah. Masalah cewek apalagi kalo bukan cowok. Awal mula bukan maksudku untuk mau membeberkan masalahnya, tapi aku cuma ingin menunjukkan, bahwa roda kehidupan itu berputar, kadang di atas kadang juga dibawah. Dia ingin selalu di atas, dia ingin selalu menang, dia ga mau di bawah. Hm… dia seorang wanita yang idealis (padahal menurutku dia orang yang ga perfect2 bgt, kekurangannya jelas keliatan mata lah), tapi dia sering ceroboh. Jarang bisa mengalah, makanya aku sebagai kawan yang tau wataknya dengan baik, yang bisa menyeimbangi keteledorannya dalam menggampangkan masalah, mau berbagi masalah dengannya.

——————————————-sssssssssss—————————————————

Selasa, 25 Mei 2010

Buat Nana, teman yang setia untuk mengingatkanku

Memiliki hubungan special dengan orang yang jarak nya jauh dan waktu yang ga bisa diprediksi memang susah susah gampang ya Na… Meskipun kamu sudah memperingatkanku dari awal, tapi aku gak menggubrisMu –maaf-. Semisal, hanya pengen sekedar makan malam bareng, yang ada juga delivery. Pengen jogging bareng, yang bisa dilakuin olah raga sendiri. Pengen ngeliat lahapnya dia makan, yang ada juga cuma muncul dalam imajinasi. Pengen dianterin ke toko buku,yang ada naksi. Itukah yang disebut pengorbanan? Semoga saja itu memang yang disebut pengorbanan ya Na… Aku skrg tersenyum Na, bukan tersenyum senang, tapi tersenyum getir. Kenapa aku punya perasaan mendalam seperti ini ya? Aku kangen dengan dia Na.. Kangen banget.. Dia memang bukan yang pertama, tapi aku ingin dia yang terakhir. Aku cuma harus menata hati, mungkin Alloh sudah sangat cemburu hingga seringkali aku meninggalkanNya dalam bentuk sejuta alasan. Ya Alloh…bolehkah aku kembali lagi padaMu? Bolehkah aku menatapMu lagi? Bolehkah ak menemuiMu lagi? Ternyata aku lemah ya kawan…aku cuma wanita yang selalu meminta padaNya…selalu menyusahkanNya…selalu…dan selalu…

Keinginanku semula yang gigih itu sekarang menjadi tanda tanya besar manakala masalah demi masalah muncul Na.. Cara serta bahasa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah menjadi aspek penting untuk sebuah hubungan. Terkadang aku sendiri sebagai wanita yang idealis susah untuk meminta maaf jika melakukan suatu kesalahan, malas “berkaca”. Pribadi yang buruk. Tidak mengakui kesalahannya. Ting tong! Dan memang itu aku. Banggakah kamu? Tidak..aku tidak bangga Na.. Aku yang sengsara. Perasaan egois selalu menghantuiku, persis ghost buster. Tapi aku ingin belajar Na.. Aku ingin tumbuh dewasa disampingnya, aku ingin mengganti masa yang seharusnya ak bisa menjadi penyemangatnya, aku ingin menjadi sosok yang nyata dia harapkan. Aku ingin Na… Aku ingin melihat dia jadi kakek gembul (dengan uban di seluruh rambutnya dan kerutan di wajahnya) yang selalu membangunkanku ketika fajar menyapa. Aku juga berharap hembusan nafas terakhir, yang benar-benar memisahkan aku darinya, Na. Apakah kamu kecewa dengan hubungan yang kamu jalani hingga saat ini? Enggak Na..aku yakin ga nyesel dengan semuanya (aku tau apa yang kau pikirkan Nana sayang.. makanya udah tak jawab twuh).

Sebenarnya masalahnya sepele Na, sepele sekali. Aku tau aku yang salah Na, tapi entah kenapa perasaan egoisku ga bisa turun ya Na, aku ga bisa meredam kejengkelanku sendiri. Iya.. iya.. Aku yang salah…. Dulu aku sempet marah banget, dia ga sengaja ketiduran waktu kami enak2an sms Na. Tidur. Ketiduran. Iya..yang dulu pernah kuceritain ke kamu itu low.. Kan itu bukan untuk pertama kalinya, tapi hasil akumulasi dari beberapa kejadian yang sama sehingga entah pas itu ak mau “dapet” (jadi sensi) alhasil yg ada aku marah besar ma dia. Dan kemarin Na, aku mengulangi kesalahan yang sama. Bedanya dulu dia yang ketiduran, sekarang aku yang ketiduran. Dan tau gak Na, aku ketiduran ampe tiga kali Na!!!! Ampun dweh Na… Dalam waktu gak sampe sehari Na… Aku emng kebangetan kalo disuruh bobok, aku emng doyan bgt kalo disuruh bobok (kebo banget!! Pasti kamu pengen manggil aku gitu kan? Terserah kamu Na…yang penting jangan kemana-mana, baca curhatku dulu ampe habis!). Dan tentu aja dia marah Na. Marah besar, lebih besar dari marahku dulu. Sempet hampir baikan, tiba-tiba nada smsnya ga enak lagi. Aku tersinggung Na. Aku paling ga suka dikasari, aku paling ga suka dikalahin, aku paling ga suka dipojokin, tapi sudah terlanjur Na…

Dia meragukan impian untuk hidup denganku Na. Aku sedih Na. Aku ngerasa kehilangan separoh jiwaku Na (jangan tertawa, aku sedang gak bercanda). Aku harus gimana Na? Aku ga mau kehilangan dia hanya karena masalah sepele, ketiduran. Tapi dia segera mengambil benang merah dari semua masalahnya ini, menyimpulkan semaunya. Begini katanya: pertama, kalo aku ketiduran berarti aku ga menghargai dia (negasiku: aku benar2 tertidur karena capek tanpa ada maksud apa2). Kedua, aku terlalu menggampangkan masalah (negasiku: aku ingin semua segera membaik, ternyata dia ingin menyelesaikan masalah dengan berdebat dulu, ya jelas aku kalah dan emosiku muncul lagi). Ketiga, dia menyatakan ga bisa hidup dengan seorang wanita yang ga patuh ma suami (negasiku: putus asa!).

Aku jadi inget perintah Alloh yang melarang kita untuk mendekati zina. Mendekati saja  dilarang. Mungkin ini penyebabnya, semakin lama semakin tau aslinya. Padahal bisa saja yang kurasakan ini bukan maksud dia (alias salah paham). Imajinasi semakin jauh, tapi fisik gag bisa melampui lebih dari batas yang dihalalkan. Tapi mau gimana lagi… Nana… Apa yang mesti kulakukan?? Aku sudah minta maaf padanya, aku sudah mengakui kesalahanku, aku sudah berusaha merendah lebih dari batas yang tak biasa kulakukan, tapi kenapa masalahnya jadi runyam ya.. Dia sudah terlanjur gak ingin meneruskan harapannya. Dia sudah terlanjur untuk gak mengharapkan ketenangan dariku lagi.. Nana.. aku mesthi gimana Na??? Andai aku bisa pergi dan menemui nya sekarang,, Tapi aku ga punya keberanian untuk itu Na.. Aku bukan perempuan yang suka mengambil resiko, aku selalu memilih kondisi yang aman-aman saja, aku… aku… aku… Nana.. Aku butuh kedatanganmu Na… Kenapa sie kamu harus kuliah di tempat yang jauh dariku. Dia juga jauh dari aku. Padahal kau tau Na… Aku ingin kamu memelukmu Na.. (sebelum datang seorang suami yang bisa memelukku dengan mesra, dengan cinta, dan yang pasti dengan halal). Na.. aku boleh nangis kan.. :'(

Mungkin hal yang bisa kulakukan sekarang adalah pasrah. Berdoa dan meminta yang terbaik untuknya. Jika dia sudah gak kuat dengan sikapku, aku rela melepaskannya. Jika dia sudah gak mengharapkanku, aku rela mengikhlaskannya. Jika dia memang ga tercipta untukku, mau ngotot kayak gimana lagi aku?? Na.. Misalnya semua memang harus terjadi, doain aku bisa tetap berdiri tanpa dia ya.. Doakan dia juga, semoga segera mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku… Yang pasti.. aku bersyukur.. pernah sedekat ini dengan orang yang benar-benar ku harapkan…I very Luv Him, Na…

Intan

——————————————ssssssssssssssss—————————————————

Itulah sepenggal email yang dia kirim tadi pagi untukku. Kalau Intan sudah muncul kekanak-kanakannya, ya seperti itu dia. Semaunya sendiri, meskipun di posisi yang salah, selalu saja mencari cara agar orang lain juga ikut salah. Aku tau dia sudah ga separah dulu waktu SMA. Aku ingat sekali mantannya yang diperlakukan seperti “cecunguk”. Aku orang muslim, dia juga muslim, ajaran karma jelas ga da dalam Islam. Tapi sepertinya karma berlaku dan sedang ada di pihaknya. Aku tau dia sedang belajar.. belajar “merangkak” untuk bisa “berdiri tegak” menyenangkan orang-orang disekitarnya. Cuma butuh kesabaran untuk bisa mendampinginya, menunggunya bisa “berdiri” itu. Aku yakin, orang yang sabar itu pasti yang akan dipilihnya, aku yakin, hanya orang telaten saja yang bisa memahaminya. Aku sangat sayang Intan seperti adekku sendiri, karena aku ga punya adek. Tapi yang lebih kusayangkan lagi adalah jika hubungan Intan dengan someone itu kandas di perjalanan. Karena yang ku tahu, dia ga pernah sesayang ini kepada seorang lelaki. Tapi lagi-lagi sayang itu berbenturan dengan egonya. Aku ga habis pikir kenapa dia bersikeras dengan sifat buruknya. Andai aku boleh menamparnya, mungkin aku sudah menamparnya hingga memar agar dia sadar bahwa dia salah. Intan… Intan… Semoga kamu segera dewasa dan mendapatkan orang yang berhak mendapatkan kedewasaanmu. Amien.



10 Responses to “A Letter from Her for Him”

  • cendhika Says:

    terima kasih atas ceritanya.. terima kasih banyak sudah mau berbagi

  • laila Says:

    I won’t involve my self on other’s personal thingies here, But..

    Hanya ingin bilang:
    1. You’re such a very good friend, Difa…
    2. Temanmu ini, siapapun namanya, bakat nulis.. Suruh aja dia bikin blog sis…:)

  • defidancow Says:

    jadi pengen nangis.. (T_T).. setelah senin slasa yang menyakitkan.. membaca crita ini, ditemani capucino favorit, sebatang rokok n dengerin lagu enak..
    rabo sempurna.. nice story..
    “dan menarilah seindah2nya kawan.. yakinlah kau adalah penari terhebat di muka bumi, hal yang membuat bidadari surga iri”

  • diva Says:

    @cencen:okay…
    @laila:amiennn…semoga bisa jadi temen baikmu juga la… 🙂
    dia bkin blog?hm..saranmu ntar tak sampein orgnya dweh… 😉
    @todje:aku pengen membuat bidadari iri padaku..tapi ga pake menari2 lah..hehehe.. ^_^V
    @kenyot:tengkyu kenyot… :*

  • laila Says:

    Ofcourse.. You’re one of my 10 ten friends, dear…

    Everytime I miss you and the other good friends, I will visit your websites, or just watch your photos…

    Seeing your pictures feels warm in my heart and puts a huge smile on my face…You, Dian, and the others….:)

    Punya account gmail ga Dif?
    Yahoomu tak invite gak bisa…:(

  • diva Says:

    same with me…if i open my blog…i open ur blog too… 😉
    ada.. difanaajah@gmail.com

  • laila Says:

    Thanks a lot, lovely Difana…:)

  • ayuseite Says:

    great story… jd terharu… T.T

  • diva Says:

    @laila:ur welcome honey… ^^
    @mbak ayu:nasib LDR ya mbak..jd bisa memahami cerita… 🙂

Leave a Reply