PENDIDIKAN, KELUARGA, DAN CINTA (Tiga Karya Andrea Hirata)

Andrea Hirata

andrea-hirata1Andrea Hirata adalah seorang penulis yang tergolong baru di kalangan sastrawan yang ikut mewarnai dunia sastra Indonesia. Melalui tulisannya, Andrea Hirata ingin memberikan semangat kepada setiap orang yang membaca karyanya. Dalam tulisan ini saya ingin membahas bagaimana korelasi antara pendidikan, keluarga, dan cinta yang banyak terdapat dalam novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor.

Orang yang berilmu lebih dihargai di mata Allah SWT dan di mata masyarakat, oleh karena itu secara tidak langsung Andrea Hirata seakan menyerukan “AYO SEKOLAH!!!”. Selama ini, karya sastra yang banyak beredar di masyarakat umumnya bertema cinta remaja, misalnya cerita tentang seorang laki-laki maupun seorang perempuan dalam satu sekolahan. Pada awalnya mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu, tapi lama-kelamaan pertengkaran itu berubah menjadi cinta yang mengharu biru. Meski masih terlalu hipotetik, karya Andrea Hirata dapat diterima secara luas karena pembaca kita jenuh akan sajian metropop bertema urban super-ringan, pornografi, hedonistik, dan mulai mendamba tulisan yang lebih berkapasitas. Andrea Hirata Andrea Hirata lahir di Belitong pada 24 Oktober. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains—fisika, kimia, biologi, astronomi—dan tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel-novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.

2097518144_0dfb64913aAndrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpaker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom. Novel-novel Andrea ditulis dengan gaya realis dan berhasil mencuri perhatian masyarakat secara luas melalui kekuatan cerita, pesan-pesan moral, dan metafora yang memikat.

Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi tercatat sebagai novel-novel best seller saat ini, bahkan novel Laskar Pelangi merupakan novel Indonesia pertama yang mampu mencapai best seller di luar negeri dan sudah difilmkan. Meskipun mengaku tidak memiliki latar belakang sastra, namun sebagaimana ciri khas orang Melayu, Andrea terbiasa mendengarkan cerita dari para orang-orang tua di kampungnya, yang bercerita tentang sejarah dan cerita-cerita klasik Melayu Belitung Daya tarik yang dimiliki seorang Andrea Hirata adalah dalam hal pemilihan latar, terutama latar daerah Belitong yang jarang sekali diimajinasikan seorang pembaca. Saya, sebagai orang awam yang jarang berkeliling Indonesia, seakan-akan melihat bagaimana Andrea merefleksikan situasi Belitong sebagai daerah Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tersebut. Saya pun jadi ingin melihat Belitong yang sebenarnya. Tuhan memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapal yang berlayar ke pulau itu tidak menyimpang ke Laut Cina Selatan, tetapi timah dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mercusuar bagi penduduk pulau itu sendiri.

Adakah mereka telah semena-mena pada rezeki Tuhan sehingga nanti terlunta-lunta seperti di kala Tuhan menguji bangsa Lemuria? Kilau itu terus menyala sampai jauh malam. Eksploitasi timah besar-besaran secara nonstop diterangi ribuan lampu dengan energi jutaan kilo watt. Jika disaksikan dari udara di malam hari Pulau Belitong tampak seperti familia cesar Ctenopore, yakni ubur-ubur yang memancarkan cahaya terang berwarna biru dalam kegelapan laut : sendiri, kecil, bersinar, indah, dan kaya raya. Belitong melayang-layang di antara Selat Gaspar dan Karimata bak mutiara dalam tangkupan kerang.

Tidak hanya di daerah Belitong, Andrea Hirata pun mampu mendeskripsikan perjalanannya ketika tersesat di daerah Bogor dan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi seseorang yang haus akan ilmu.

Sungguh menyenangkan tinggal di Babakan Fakultas. Baru pertama kali aku melihat kehidupan mahasiswa. Apalagi mereka adalah mahasiswa IPB, mahasiswa-mahasiswa pintar yang bermutu tinggi. Di masjid atau warung mereka bicara tentang ujian, rencana penelitian, bimbingan skripsi, dan praktikum. Ketika mereka bicara tentang kalkulus, kultur jaringan teori peluang, dan mekanika rinduku membuncah pada bangku sekolah.

Ketika dia di Prancis pun, Andrea mampu menggambarkan bagaimana daerah Edensor yang baru dilihatnya, namun seperti sudah mengenal daerah itu cukup lama dalam ingatannya melalui buku yang diberikan A-Ling ketika mereka masih di Belitong.

Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jejak anggur yang telantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku terpana dilanda deja vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bungan daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.

Bahasa Hipotetik

Bahasa Hipotetik, bahasa yang digunakan dalam ketiga karya Andrea Hirata ini adalah bahasa yang sederhana dan scientific, berbeda dengan bahasa sastra pada umumnya. Bahasa dianggap telah mewakili realita serta tempat persembunyian kepentingan. Bahasa juga menentukan prioritas suatu hal atas yang lain. Dalam pandangan modernisme subjek-objek, esensi-eksistensi, umum-khusus, absolut-relatif, dan lain-lain menunjukkan bahwa kata pertama menjadi pusat, fondasi, prinsip, dan dominasi atas kata berikutnya. Tokoh filsafat yang membahas tentang dekonstruksi bahasa adalah Jacques Derrida. JacquesDerridaSikap ini diambil mengingat ide, gagasan, dan konsep diungkapkan melalui bahasa. Pada perkembangan selanjutnya, dekonstruksi sering disalahpahami hanya terbatas pada masalah cara membaca teks-teks sastra, filsafat, naskah-naskah kuno, atau sejenisnya. Jika pengertian dekonstruksi hanya dibatasi pada masalah tersebut, maka ide itu menjadi tidak produktif bagi gerakan emansipasi. Dekonstruksi hendaknya tidak dilepaskan dari tanggapan atas problem sosial, politik, dan budaya yang mencari kemapanan dengan mengorbankan yang lain. Dekonstruksi digunakan sebagai strategi baru untuk memeriksa sejauh mana struktur-struktur yang terbentuk dan senantiasa dimapankan batas-batasnya serta ditunggalkan pengertiannya. Dekonstruksi pada ketiga karya Andrea Hirata yang beredar di masyarakat terletak pada keberaniannya mendobrak tradisi bahasa yang digunakan untuk menulis sebuah karya. Justru bahasanya yang banyak mengandung kata-kata ilmiah menunjukkan keintelektualan dari seorang penulis. Dengan begitu, keindahan sebuah karya tidak harus menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, namun juga bisa dengan bahasa yang lugas dan berbobot. Kecerdasan Andrea dalam mempersatukan bahasa sastra dan bahasa ilmiah tidak mengubah rasa seni yang ada dalam ketiga bukunya.

novel

Pendidikan, Keluarga, dan Cinta

Indonesia dikenal sebagai negara maju yang berpenduduk padat, sebagian besar warganya beragama Islam dan berada di bawah garis kemiskinan. Itu sebabnya penduduk Indonesia masih banyak yang buta huruf alias belum bisa baca tulis. Kesadaran akan pentingnya bersekolah masih minim di jumpai di pelosok-pelosok desa. Hal ini yang membuat Indonesia belum mampu menghapuskan angka kebodohan.

Namun pemerintah tidak tinggal diam, karena berbagai macam cara telah dilakukan, seperti mengadakan sekolah gratis, bantuan buku, bantuan peralatan sekolah (seperti meja tulis, bangku, almari ; hal ini pernah saya alami ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar), maupun tenaga-tenaga pengajar sukarela. Seharusnya, dengan keminiman paralatan sekolah yang ada, tidak menjadikan itu sebagai alasan yang mendasar. Semangat itulah yang ingin dikobarkan seorang pengarang.

Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika kami sakit, sakit apa pun : diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu ada tulisan besar APC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit. Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berharga yang layak dicuri. Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat lonceng. Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di papan tulis itu terpampang gambar matahari dengan garis-garis sinar berwarna putih. Di tengahnya tertulis : SD MD.

Pada kutipan Laskar Pelangi di atas, terlihat bagaimana minimnya peralatan yang dimiliki Sekolah Dasar Muhammadiyah. Tapi serba kekurangan itu tidak membuat mereka menjadi patah semangat, melainkan menjadi pacuan untuk mendapatkan ilmu. Justru kita yang bisa mendapatkan pendidikan jauh lebih baik mestinya harus lebih terpacu semangatnya.

Dan seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang rata-rata beranjak remaja mulai bekerja mencari uang, Arailah yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual kepada penjual ikan. Akar ini digunakan penjual ikan untuk menusuk insang ikan agar mudah ditenteng pembeli. Dia juga yang mengajakku mengambil akar purun (perdu yang tumbuh di rawa-rawa) yang kami jual pada pedagang kelontong untuk mengikat bungkus terasi. Waktu itu kami ingin sekali menjadi caddy di padang golf PN Timah tepi belum cukup umur. Kami masih SMP. Untuk jadi caddy paling tidak harus SMA.

Ditengah kondisi si Ikal yang serba kekurangan, dia harus bisa bekerja untuk mewujudkan mimpinya bersekolah di Prancis. Pekerjaan yang remeh asal halal pun dia lakukan, meski jumlah finansial yang dihasilkan tidaklah banyak. Sedikit demi sedikit uang hasil jerih payahnya pun dia kumpulkan.

Dalam perjalanan hidup seorang Ikal, Arai adalah sosok keluarga yang tidak bisa lepas dari masa remajanya. Dari buku Sang Pemimpi, Arai terlihat sebagai kakak Ikal yang selalu jadi penunjuk arah hidup Ikal. Tanpa Arai, kemungkinan besar kehidupan Ikal tak akan menjadi warna-warni.

Sejak melihat aksi Arai di bak truk kopra tempo hari, aku mengerti bahwa ia adalah pribadi yang istimewa. Meskipun perasaannya telah luluh lantak pada usia sangat muda tapi ia selalu positif dan berjiwa seluas langit. Mengingat masa lalunya yang pilu, aku kagum pada kepribadian dan daya hidupnya. Kesedihan hanya tampak padanya ketika ia mengaji Al-Qur`an. Di hadapan kitab suci ia seperti orang mengadu, seperti orang takluk, seperti orang lawan rasa kehilangan seluruh orang yang dicintainya…………… Kami berpelukan. Betapa aku merindukan sepupu jauhku ini. Seseorang yang sering kubenci tapi selalu kuanggap sebagai pahlawan. Arai jelas tampak lebih dewasa. Sinar mata nakal yang iseng itu tidak berubah. Tapi warna kulitnya terang.

Cinta adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tanpa adanya cinta, mustahil perdamaian dunia akan terwujud. Cinta pun dirasakan pula oleh Ikal ketika dia duduk di bangku sekolah dasar. Kejadian itu berawal ketika dia bertugas untuk mengambil kapur di sebuah toko keturunan cina. Saat itulah Ikal melihat kuku-kuku tercantik yang pernah ia temui. Dan ketika melihat wajah penjual kapur tersebut, dia seakan melihat bidadari yang sangat cantik, A-ling namanya. Cinta pada pandangan pertama, meskipun klasik, namun hal itu telah dialami Ikal. Meskipun jarak antara sekolah dengan toko penjual kapur tersebut cukup jauh, tapi dengan semangat menggebu-gebu Ikal selalu senang hati dalam menjalankan tugas yang satu ini. Namun cinta Ikal bukan cinta yang biasa saja. Bahkan ketika dia sudah bersekolah di luar negeri, dia tetap mengingat A-ling dan mencari keberadaan A-ling.

Belasan tahun cinta pertamaku dengan A-ling terkunci dalam diriku, lekat dan indah. Cinta A-ling menimbulkan perasaan seperti aku baru pandai naik sepeda. Ia seperti kembang api, seperti pasar malam, seperti lebaran. Cintanya mengajakku menulis puisi, cintanya adalah sastra. Sebaliknya, cinta Katya amat berbeda. Cinta Katya adalah kemistri. Cintanya memancing caudate nucleus dari sudut-sudut gelap otak, dan memantik simpul-simpul saraf yang mengorbankan ide-ide platonik.

Demikianlah, Andrea Hirata menghadirkan perlawanan terhadap kebodohan, menghadirkan keluarga sebagai aspek penting, dan mengejar cinta pertamanya hingga pelosok negeri. Ketiga novel Andrea Hirata ingin mengungkapkan bahwa dengan bermimpi dan usaha yang keras, apa yang kita inginkan pasti akan tercapai. Jangan pernah membunuh sebuah mimpi, karena semua yang tidak mungkin di dunia ini berasal dari mimpi.

NB: Ketika membandingkan ketiga buku karya Andrea Hirata ini, buku keempatnya “Maryamah Karpov” belum beredar dipasaran. Maaf jika kurang lengkap.. 🙂



2 Responses to “PENDIDIKAN, KELUARGA, DAN CINTA (Tiga Karya Andrea Hirata)”