Kebijaksanaan Suku Tengger

“Mencuri.”

“Mencuri apa?”

“Apapun.”

-Hening-

Itu adalah potongan dialog antara kami dengan seorang warga Suku Tengger yang membuat kami saling berpandangan. Beruntung sekali bisa ikut dalam penelitian dosenku (Bapak Listiyono Santoso) yang harus berinteraksi dengan mereka. Karena tidak semua mahasiswanya bisa ikut (tentu saja harus kompromi dulu dunk..xixixi).  Judul penelitian dosenku kemarin adalah “Kearifan Ekologis Tengger.”

PA250196PA250175

Tugas kami disana mewawancarai beberapa warga setempat tentang filosofi alam bagi mereka. Tanggapan mereka tentang lingkungan hidup memberikan kontribusi yang cukup penting dalam penelitian ini. Tak hanya itu, aku yang sudah lama tidak ke Bromo (terakhir aku masih teka, jadi lupa-lupa ingat gitu, hehehehe..) kembali menemukan suatu keistimewaan dari peradaban tradisional. Kalo katanya Pak List, “Menjaga tradisi tanpa harus menjadi tradisionalisme. Membangun masa depan dengan mempertimbangkan tradisi.” 🙂

Keren..benar-benar keren.. mereka terlihat nyaman dengan kehidupan sehari-harinya yang sangat sederhana. Salah seorang warga yang aku wawancarai kemarin bernama Pak Samiji. Kami menemui dia ketika sedang “ngarit” (mencari rumput untuk binatang ternak milik orang lain) bersama temannya. Dia terlihat welcome bgt ketika diajak ngobrol. Menceritakan bagaimana ketika dia panen, apa yang harus dilakukan jika Bromo “mengamuk”, proses pernikahan, sekolah yang dia tempuh, dan yang terakhir adalah moral.  PA240015

PA250143

Pak Samiji sudah mengerti arti penting dari sebuah bank, jadi ketika dia panen, selalu ada saja yang dia tabungkan. Kegiatan yang membutuhkan banyak dana di Suku Tengger adalah acara melahirkan, pernikahan, dan kematian. Selanjutnya, “membayar pajak” pada bumi dilakukan ketika panen saja. Jika sehari-hari mereka memiliki uang lebih (sekitar Rp. 18.000,-), maka dia segera ke bank untuk menabungkan uang tersebut. Jadi inget pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Kalo sudah jadi bukit, jadi gunung ga ya?? Hehehehe..

PA260218

Pernah sekali Gunung Bromo “mengamuk” dan sempat menggegerkan warga. Usut di usut, ternyata konon ada sepuluh pemuda yang melempari kawah Bromo dengan batu-batuan. “Penunggu” nya marah, kemudian sepuluh pemuda tersebut mati karena kena karma. Kepala mereka bonyok kena serpihan batu2 yang ia lempari sendiri sebelumnya. Cukup mengerikan ceritanya, apalagi tatapan serius dari bapak tersebut. Hi…

Menikah dini menjadi hal yang wajar disini. Ketika anak lelaki berusia 17 thun sudah siap menikah, maka menikahlah dia. Coba kalo di kota, umur 30 thun pun kalo belum mapan ya gak laku2, xixixi… Demikian juga dengan pihak perempuannya. Jadi umumnya mereka sekolah sampe smp thok… sma juga ada, tapi biasanya jarang yang mau meneruskan ampe sma. Pak Samiji sendiri menikah umur 18 thunan, dan penghasilan mereka dari berkebun, ngarit, dan bertani. Itu saja sudah membuat mereka lebih dari cukup. Rasa bersyukur bapak yang satu ini memang patut diacungi jempol. Merasakan nikmat yang kuasa tanpa mencela sedikitpun. Sekiranya gambaran tersebut tercermin dari bagaimana dia bersikap dan berbicara. Salut 🙂

PA250156

Agama mayoritas Suku Tengger adalah Hindu. Hampir di setiap depan rumah terdapat pura kecil tempat mereka beribadah. Tapi aku cukup melihat banyak perbedaan dengan agama Hindu di Bali. Jika di Bali, Pura nya penuh dengan sesembahan, tapi kalo Pura di Tengger ga sebanyak itu. Terus korelasinya? Hehehe.. ada yang mau kasih tau aku?? Sebenernya pengen nanya2 hal tersebut… tapi aku sungkan… bukankah agama adalah hal yang sensitif??

Satu lagi yang unik dari Suku Tengger, tanah-tanah di sekitar gunung Bromo masih murni milik warga setempat. Tidak sembarang investor bisa membeli ataupun memiliki tanah-tanah tersebut. Syaratnya cuma satu harus menikah dengan warga sekitar. Hayo… Sapa yang mau berinvestasi tanah di sana?? Tapi harus menikah dulu dengan orang Tengger low y.. hehehehe… Percampuran produk kota dengan produk Tengger twuh jadine gmn y?? :p

Kesalahan terbesar yang tidak bisa ditolerir suku Tengger adalah “Mencuri”. Setau ku memang rumah-rumah warga itu gak dikunci, ditinggal begitu saja. Binatang ternak juga diberi makan ala kadarnya, tapi lagi-lagi kandangnya tidak dijaga seketat di kota low. Aman menjadi unsur yang dominan disini.

“Kalo ketauan mencuri diapain pak?”

“Dibawa ke kepala adat.”

“Trus diapain?”

“Dinasehati.”

“Thok?”

“Thok.”

—Saling berpandangan antara aku, Vegol, dan Mas Edi—

Keren ya… Mencuri hukumane adalah nasehat. Gitu aja  menjadi sangsi moral yang membuat pencuri jera. “Nasehat” membuat ia malu dengan warga-warga lainnya, sehingga dia tidak akan mengulanginya lagi. Kalo misalnya yang mau dicuri itu “besar”, maka dia dikenakan hukuman bayar semen sebanyak 20 sak (harga 1 sak 42.ooox20=840.000), harga yang cukup besar di daerah seperti ini. Kemudian semen2 hasil denda, dipergunakan untuk kepentingan warga. Jika kepala adat tidak sanggup menangani pencuri tersebut, jalan satu-satunya ya dipenjara. Tapi hal itu sangat jarang terjadi, ketika sudah ketahuan mencuri dan mendapat teguran kepala adat, kemudian dikucilkan masyarakat setempat,dijamin pencuri itu tak akan mau berniat melakukan hal yang serupa. Koruptor di nasehati thok gitu ampuh ga y?? :p

PA260212

Kalo mengingat kesalahan terbesar di dunia ini adalah MENCURI, jadi inget bukunya The Kite Runner, sudah ada yang baca blum?? Ketika pembicaraan Baba dengan Amir di halaman 34-35, seperti ini:

“Hanya ada satu macam dosa, hanya satu. Yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu. Kau paham?”

“Tidak, Baba jan.”

“Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri, Amir. Orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, baik itu kehidupan orang lain ataupun sepotong naan….. Aku mengutuk mereka. Dan kalau aku berpapasan dengan mereka, semoga Tuhan melindungi mereka.”

Ternyata belajar menjadi seorang yang bijaksana itu tidak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah (The Kite Runner), ngobrol dengan bapak asal suku Tengger ini cukup membuat kami terdiam. Merenung. Memikirkan tindakan-tindakan kami yang sudah terlewati waktu. 🙂

PA250150



10 Responses to “Kebijaksanaan Suku Tengger”

  • cencen Says:

    gaya bercerita difana enak dibaca ya.. ^^
    tapi kok fotonya gak dipajang sekalian? 🙂

    ternyata mereka suku yang sangat taat ya.. potret kehidupan warga asli yang mungkin bisa sangat bertolak belakang dengan “budaya” yang terbentuk di urban. Memang penting kiranya harus ke tempat seperti ini. Salah satu aset berharga.. satu dari kearifan Indonesia 😉 (NB: Kapan aku bisa ke sana????!!! )

  • diva Says:

    udah tak pajang nie..tapi kok ga se rapi kamu ya??piye carane biar rapi?? 🙁

    hehehe..makanya..jalan2 dunk…kencannya ma kompi aja… :p

  • ephiel Says:

    hmm.. jd ngerti kehidupan org bromo.
    bagus. tulisannya enak dibaca. ealah, trnyata jurusan sastra y Difana nih, kata Cend. hihi..
    keep posting ya..

  • surya aditya Says:

    asyik fan baca tulisanmu.. keep posting

  • diva Says:

    @adit:keep reading ya.. ^_^
    @ephiel:iya…sastra indonesia..kamu kenal chendi dmn?sastra jugakah? 😉

  • rizza Says:

    keren dif….
    bisa belajar nulis di kamu dunk…

  • Reny Rahmawati Says:

    Hmm…
    Maaf ya non, baru sempat berkunjung ke websitemu..

    Cantik, bagus…
    Aku jadi pengen..

    Tapi aku pengen ksh pendapat,
    harusnya waktu kemaren berkesempatan berkunjung n wawancara ma suku tengger, kamu tanya aja tentang ‘hindu’…
    kenapa kok sedikit berbeda dengan yang di Bali???
    Tergantung dari cara kita bertanya dan menyampaikan..supaya mereka tidak tersinggung…
    aku lo jg jadi ikut penasaran…

  • diva Says:

    iya sech..sebenernya ak juga penasaran, pengen nanya, tapi berhubung sungkan, jadi diem aja. tapi waktu aku nanya dosenku, sebenernya mereka kurang paham tentang agama Hindu (agama mereka ya agama Tengger). Dulu zamannya Soeharto kan agama diwajibkan dibagi menjadi lima, jadi mereka mau ga mau harus memilih masuk klasifikasi yang mana, akhirnya mereka mengakui Hindu. Alhasil memang ada perbedaan dengan Hindu di Bali. Katanya sie gitu,,,

  • listiyono Says:

    bukannya kurang paham..dalam konteks ini orang Tengger merasa lebih nyaman dengan Hindu sebagai agama karena memiliki kesamaan ritual (asli) sebagai keturunan Majpahait dan Singasari..yang membedakan antara Bali dan Tengger itu soal ritualnya..jadi dalam soal agama (bisa) jadi sama…tapi memang saya pernah berasumsi bahwa keterlibatan negara begitu dominan jadinya mereka akhirnya harus memilih sebuah ‘agama’ formal

  • diva Says:

    @pak list:hm….gitu..makasie pencerahannya pak.. ^_^

Leave a Reply