Indahnya “Padang Bulan”

Huahhh… (sambil molet mengangkat kedua tangan), akhirnya selesai juga bacanya.. Akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu di rumah..maksudnya aku udh jarang banget di kostan.. Jadi yang biasanya di kostan bisa ‘melahap’ buku sebanyak-banyaknya, beda lagi ceritanya kalo lagi dirumah. Disuruh ini itu, bikin waktu baca untuk satu novel saja harus rela kutempuh hingga berminggu-minggu lamanya. Bagaimana pun penasarannya..aku harus ikhlas nge-pause ritual baca dweh kalo disuruh orang tua (yo kudu manut rek!).

Okey..tapi ga nyesel lah..akhirnya novel Andrea Hirata yang terdiri dari dua bagian pun berhasil ku qatamkan. Pertama-tama, fokus dulu yuk ama sampulnya yang bolak-balik. Bentuknya unik, meski sebenarnya novel ini bisa dijadikan satu jilid (ga usah jadi dwilogi gt low maksudku). Tapi keliatannya penerbit “memaksa”, untuk membagi novel ini menjadi dua bagian (ben kethok akeh be’e :p). Jadi pada bagian pertama sampulnya di depan novel, dan pada bagian kedua sampulnya ada di belakang novel. Ngerti mksdku ga?hehe..cekidot aja yuk… 😀

IMG_1553

Seanjutnya langsung ke pembahasan novel ini ya.. Awalnya, novel dwilogi ini kupikir bebas dari bayang-bayang novel tetralogi terdahulunya, cerita baru lah.. Eh, ternyata salah besar aku. Dwilogi ini masih menceritakan seputar kegiatan ‘Ikal’ sepulang dari Prancis dan kembali ke desanya di Bilitong. Bedanya, pada bukunya kali ini, dia sudah tidak membahas teman-teman seperjuangannya di Laskar Pelangi, tapi lebih banyak bercerita tentang tetangga perempuannya. Pada dwilogi ini, bagian pertama yang berjudul “Padang Bulan”, lebih banyak menyampaikan perjuangan Ikal untuk mendapatkan A Ling (orang pertama yang dikagumi Ikal waktu SD). Bagi para pengikut “Laskar Pelangi”, novel jilid keempat yang berjudul “Maryamah Karpov” mengingatkan kita bahwa percintaan Ikal dan A Ling tidak mendapat restu dari Ayah Ikal. Ketidak setujuan Ayah Ikal lebih dikarenakan A Ling adalah keturunan Tionghoa asli, dan Ikal yang melayu tulen. Hal tersebut merupakan jurang pemisah yang susah untuk disatukan, dan Ikal sangat sangat kecewa. Dia pun berniat kawin lari dengan A Ling. Nah..belum sampai niatan itu terlaksanakan, A Ling mendadak hilang, beserta keluarga besarnya. Menurut desas desus yang beredar, A Ling telah dipaksa kawin dengan pengusaha muda bernama Zinar yang sangat kaya raya, ganteng, cerdas, dan merupakan pendatang baru di kampungnya. Tentu saja Ikal patah hati. Sudah dirumah sering dimarahi ibunya gara2 keliatan nganggur, sekarang pujaan hatinya pun pergi digondol orang. Maka yang terlintas dipikirannya hanyalah merantau ke Jakarta.

Namun belum sempat kapal berangkat, Ikal pun mengurungkan rencananya tersebut. Dia ingin untuk terakhir kalinya, kalah secara terhormat demi mendapatkan A Ling. Berbagai cara ia lakukan, seperti mendatangi toko Zinar (untuk tau seberapa menawannya Zinar), hingga menantangnya di meja catur. Padahal, jangankan bermain catur secara handal, menyusun buah catur saja Ikal tidak bisa. Tapi bagi orang melayu (terlebih di daerah tempat tinggal Ikal), catur adalah paduan antara seni, psikologi, pengalaman, bakat, sains, taktik, kecerdasan, dan adalakanya keberuntungan (Andrea Hirata; 158). Jadi kalo memenangkan permainan catur di acara 17 agustusan, maka orang tersebut akan sangat disegani. Seperti cerita-cerita sebelumnya, Ikal adalah orang yang pantang menyerah. Oleh karena itu, Ikal minta bimbingan secara rutin dengan teman kuliahnya (ketika dia di Perancis), seorang Grand Master perempuan tingkat dunia, Nochka namanya (para penyuka catur, apa bener dalam kehidupan nyata ada grand master yang bernama Nochka?hehe..penasaran aku..). Pelatihan itu ia lakukan melalui media internet, chatting. Sebelum pertandingan dimulai, yang ia lakukan adalah mengintai cara bermain Zinar, kemudian melaporkannya pada Nochka. Setelah di analisis, biasanya Nochka memberi tau Ikal agar menggunakan teknik ini dan itu, caranya seperti ini dan seperti itu. Begitu terus-menerus sampai  tiba saatnya bertanding. Pada saat yang ditentukan, Ikal pun sangat percaya diri menghadapi Zinar. Tapi hal itu tak berlangsung lama, karena dalam waktu 20 menit, Ikal pun kalah telak 2-0.

Setelah merasakan putus asa yang tidak karuan, akhirnya dia kembali ke rencana semula, merantau ke Jakarta. Persiapan pun dilakukan secara matang, sudah pamit kesana kemari, lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tuanya, dan tentu saja hatinya masih dilanda perasaan kecewa yang teramat sangat. Tepat ketika dia akan berangkat, tiba-tiba sosok yang sangat disayanginya itu nongol dengan membawa undangan. Dalam undangan tersebut, Zinar memang mempelai lelakinya, tapi ternyata bukan A Ling mempelai wanitanya. Dia hanya bekerja di tempat Zinar dan desas desus tersebut salah total. Dan tentu saja, Ikal tak jadi brngkat ke Jakarta (dan perasaannya sangat bahagia!). Di akhir bagian pertama ini menyiratkan bahwa, sekalipun ayahnya tidak menyetujui keputusannya, tapi dia akan selalu berusaha untuk meyakinkan ayahnya, bahwa A Ling adalah perempuan yang tepat untuk Ikal.

“Seperti impian diam-diamku selalu, hujan pertama jatuh tepat pada 23 Oktober sore, pada hari kudapatkan lagi A Ling dan ayahku. Hujan membasahiku. Kurentangkan kedua tangan lebar-lebar. Aku menengadah dan kepada langit kukatakan: Ini aku! Putra ayahku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk ditaklukan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Tak kan pernah menyerah. Takkan pernah!” (Andrea Hirata: 254).

Haduh….cinta…cinta…kalo dibahas ga akan pernah habis…

(Ada lanjutane oey..sabar ya…).



2 Responses to “Indahnya “Padang Bulan””

  • indahfaruk Says:

    aku udah tamat. dalam 2 hari. hehe. sibuk2nya skripsi malah sempet baca novel..

    aku mikir juga gtu. si Enong pasti ga ada embel2 novel tetralogi sebelum e. secara aku ga baca. eh ujung2nya ada di ikal dan maryamah karpov..

    pusing bacanya. kebanyakan catur. aku kan ga paham. hehe. 😀

  • diva Says:

    hehehe..podho nyot…jarang ada wanita yang bisa catur..hihihi..

Leave a Reply