Bukan bodoh…Tapi penakut…

Udah baca pembahasan bagian pertamanya tho? (Lek belum, baca edisi yang dibawah dulu ya..hehe). Lanjut ke bagian kedua yuk… Pada bagian yang kedua dalam novel dwiloginya Andrea Hirata ini berjudul “Cinta di Dalam Gelas”. Sebenarnya, setelah menuntaskan novel ini, aku agak bingung dengan judul-judul yang tertera pada masing-masing bagian. Keliatannya kok ga sinkron dengan isinya ya? Atau mungkin aku yang ga bisa cerna mksdnya?hehehe,,,

IMG_1554

Pada bagian yang kedua, Ikal lebih banyak menceritakan tentang Maryamah. Maryamah dikenal dengan nama Enong di desanya. Diceritakan, Maryamah ini adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal tertimbun longsoran timah ketika dia duduk di kelas 6 SD, beberapa hari setelah Ayahnya membelikan kamus bahasa Inggris satu miliyar. Oiya, Enong ini suka banget dengan pelajaran bahasa Inggris. Jadi ketika ayahnya berniat membelikan kamus (yang harganya tidak murah), Enong sangat senang.

Dalam masyarakat Melayu, anak pertama dituntut untuk memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi terhadap adik-adiknya. Maka dari itu, dia harus rela melepaskan bangku pendidikannya demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga (padahal dia termasuk anak yang cerdas di sekolah). Tapi, dia tak ingin adik-adiknya putus sekolah seperti dirinya. Dan ditengah-tengah kondisi yang menjepitnya, Enong masih mempunyai sebuah mimpi. Dia ingin bisa berbahasa Inggris. Tak lebih. Kutipan dibawah ini adalah secuplik semangat Enong untuk teman-temannya ketika harus berpamitan pada teman-temannya.

“Suatu ketika nanti, kita akan berbicara bahasa Inggris!” kata Enong menghibur teman-temannya.

“Aku akan bekerja dulu di Tanjong Pandan. Kalau dapat uang, nanti aku akan kursus bahasa Inggris,” semangatnya meluap. Mendengar itu, teman-temannya malah makin deras tangisnya (Andrea Hirata: 31).

Disini, Ikal menceritakan sosok Enong yang sangat gigih. Berkali-kali ia ditolak kerja di kota karena postur tubuhnya yang kecil dan tidak menarik.

“Namun, tak semudah sangkanya. Juragan menyuruhnya pulang dan kembali ke sekolah. Banyak yang mengusirnya dengan kasar. Ketika ditanya ijazah, ia hanya bisa menjawab bahwa ia hampir tamat SD. Ia pun ditampik untuk pekerjaan rumah tangga atau pabrik karena tampak sangat kurus dan lemah. Penolakan ini ia alami berkali-kali, selama berhari-hari” (Andrea Hirata: 32-33).

Frustasi jelas membayangi anak ini. Bayangkan!!! Dia sudah berniat kerja untuk membiayai adik-adiknya, yang ada malah penolakan dimana-mana. Karena dipepet oleh keadaan, maka dia melakukan pekerjaan yang tak mungkin menjadi mungkin bagi seorang wanita.

“Sampai di rumah, ia mengambil pacul dan dulang milik ayahnya dulu, lalu segera kembali ke danau. Ia menyisingsingkan lengan baju, turun ke bantaran dan mulai menggali lumpur. Ia terus menggali dan menggali. Ia berkecipak seperti orang kesurupan. Keringatnya bercucuran, tubuhnya berlumur lumpur. Ia mengumpulkan galiannya ke dalam dulang, mengisinya dengan air, dan mengayak-ayaknya. Sore itu, pendulang timah perempuan pertama di dunia ini, telah lahir.

Pekerjaan mendulang timah amat kasar. Berlipat-lipat lebih kasar dari memarut kelapa, menyiangi kepiting, kerja di pabrik es, tukang cuci, atau sekedar menjaga toko.

Pendulang timah dipanggil kuli mentah, artinya kuli yang paling kuli. Jabatan di bawah mereka hanya kuda beban dan sapi pembajak” (Andrea Hirata: 49).

Enong memang dapat memetik keuntungan dengan pekerjaan yang ia kerjakan, tapi tidak sedikit orang yang berusaha mencelakai ataupun membohongi  hasil kerja kerasnya (wez.. Jan,,, Tego banget orang-orang yang diceritakan di buku ini..haduh,,,). Dan ketika sudah dewasa, Enong pun harus rela diloncati adek2nya untuk menikah terlebih dahulu. Maklum.. Enong tidak terlihat seperti wanita karena badan-badannya sangat kekar persis kaum adam. Hingga adeknya sudah nikah semua, tinggallah dia berdua dengan ibunya. Ibunya pun tak tinggal diam. Enong pun dijodohkan dengan seorang yang sangat suka bermain catur, Matarom namanya. Meski ga sreg.. Enong pun manut aja ma ibunya.

Oiya.. Karena Enong berhasil mencari uang sendiri, ia pun mengikuti kursus bahasa Inggris. Meski awalnya ditolak karena usianya terlampau banyak, nyatanya semangatnya mampu meluluhkan hati direktur tmpt dia ingin les. Dan yang sangat mengesankan, ia termasuk dalam jajaran murid terbaik.

“Ibu Indri, direktur khusus, naik podium dan berpidato. Pada akhir pidatonya, ia mengumumkan lima lulusan terbaik. Lulusan terbaik pertama adalah seorang wanita muda Tionghoa berkaca mata tebal yang tampak sangat cerdas. Hadirin bertepuk tangan untuknya. Terbaik kedua, seorang anak muda Melayu kelas dua SMA. Lulus ketika dan keempat juga adalah anak-anak kelas tiga SMA.

“Lulusan terbaik kelima,” kata Bu Indri. Ia menunda menyebutkan namanya mungkin karena sangat istimewa. Wajahnya tegang bercampur gembira. “Maryamah binti Zamzani.” (Andrea Hirata: 30).

Pernikahan Enong tidak berjalan mulus. Rasa-rasanya dia diciptakan Tuhan dengan cobaan-cobaan yang sangat sulit. Ibunya meninggal karena memang sudah tua. Enong pun mengalami perceraian karena Matarom sering bermain tangan jika emosinya meledak. Dia pun sering meninggalkan Enong demi permainan catur yang sangat digemarinya. Nama Matarom terkenal karena dia sangat menguasai permainan ini. Hampir setiap tahun Matarom selalu menjadi juara tujuh belasan. Catur-caturnya yang terbuat dari perak membuatnya semakin ditakuti lawan.

Menurutku, bagian ini yang menjadi daya tarik novel dwilogi Andrea Hirata. Cerita Enong yang gigih untuk belajar dan tidak menunjukkan sikap pantang menyerah dalam melawan takdir. Terkadang dia menangis, bersikap cengeng layaknya perempuan pada umumnya. Tapi ketika fajar menyingsing, kekuatannya untuk berjuang mengarungi hidup datang kembali. Terkadang Ikal malu atas semangat yang ditunjukkan Enong. Dan kali ini  Enong ingin bisa bermain catur agar dapat melawan mantan suaminya. Tentu saja Ikal tertawa, karena catur adalah permainan yang tak mudah, lebih susah dari pada belajar bahasa Inggris. Masalah tidak berhenti sampai disitu, munculnya pemain catur perempuan menjadi sangat kontroversi. Bagi orang Melayu, perempuan dalam ajang permainan catur hanya berfungsi sebagai penyaji kopi dan makanan ringan. Dalam sejarah, baru kali ini ada pecatur perempuan. Karena Enong memaksa, maka Ikal pun mengabulkan permintaan Enong. Begitu juga dengan warga lainnya, Enong boleh bermain catur asal memakai burka (biar wanita dan  laki-laki ga bertatapan lama-lama). Ikal pun masih meminta bantuan Nochka melalui metode yang sama, bljr catur lewat chating.

Setelah mempelajari cara bermain Enong, Nochka sangat terkejut dengan cara bermain perempuan ini. “Belum pernah kulihat hal semacam ini. Ada energi dari setiap langkahnya. Ada pula pola pertahanan yang unik”. Sungguh aku terkejut. Pandangan seorang grand master rupanya tak sama dengan pandangan seorang awam. Di mataku, tindakan Maryamah adalah serampangan. Grand master berpendapat lain. “Bukan, bukan serampangan. Dia menggerakkan buah catur sesukanya karena untuk pertama kalinya ia bisa menjadi pengendali. Ia bisa menentukan nasib para perwira, dan senang bisa menjadi penentu kapan rajanya akan hidup atau mati. Ia merayakan kebebasan. Mungkin lantaran sekian lama hidupnya tertekan. Gerakan teliti bentengnya adalah mekanisme naluriahnya untuk bertahan. Papan catur adalah refleksi hidupnya.” (Andrea Hirata: 61-62).

Meski tidak mudah, akhirnya Enong pun berhasil menduduki sesi final, bertarung melawan mantan suaminya. Nochka pun sengaja datang untuk melihat aksi Enong. Tidak hanya itu, ia pun berhasil mengalahkan mantan suami secara telak. Banyak yang tidak menyangka bahwa Enong bisa melakukan hal tersebut. Demikian juga dengan suaminya. Tapi nyatanya fakta berkehendak lain. Enong tak memiliki tujuan lain selain mengalahkan suaminya. Setelah ia menang, ia merasa bahwa dendamnya terbalaskan secara terhormat dan dia sangat puas. Selanjutnya ia mengajarkan bahasa Inggris di desanya. Sedangkan Ikal, kembali menjadi pelayan penyaji kopi di warung Pamannya.

“Maryamah adalah pribadi istimewa yang tak punya tabiat mengasihani diri. Ia tak pernah mengiba-iba. Kupandangi guru kesedihan itu. Hari ini aku belajar satu hal penting darinya bahwa jika tidak bersedih atas sebuah kehilangan menimbulkan perasaan bersalah, hal itu merupakan kesalahan baru sebab kesedihan harusnya menjadi bagian dari kebenaran.

Pertemuan dengan Maryamah hari ini meletupkan semangatku. Aku telah melihatnya belajar bahasa Inggris dengan susah payah, tanpa merasa ragu akan usia dan segala keterbatasan, dan dia berhasil. Sekarang, ia siap berjibaku menguasai catur, dengan tekad mengalahkan seorang kampiun seperti Matarom. Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut”. (Andrea Hirata: 103).

Melalui paragraf di atas, secara tak langsung, penulis ingin menyampaikan pentingnya menjadi pemberani. Orang yang tak mau belajar itu sesungguhnya belum tentu bodoh, tapi ketidak sanggupannya menjadi sikap penakut yang tidak mau belajar. Menjadi pemberani itu penting dalam segi kehidupan, termasuk dalam belajar.

Andrea Hirata selalu bisa mengobarkan semangat-semangat lewat tuturan kata-katanya secara sederhana. Kita lihat saja pada tetralogi sebelumnya. Yang disorot bukan tokoh Ikal, tapi tokoh-tokoh pendukung lainnya, yang tak bisa meneruskan pendidikannya (Lintang). Sangat disayangkan bagi seorang Lintang yang diceritakan begitu pandainya tiba-tiba harus putus sekolah karena harus bekerja membiayai hidupnya seorang diri tanpa ada orang tua mendampinginya. Begitu juga pada dwiloginya ini. Persoalan putus sekolah karena tidak ada biaya masih menjadi latar belakang novel ini. Sedikit banyak sebenarnya Andrea menyentil pemerintah dengan cerita-ceritanya yang menyentuh hati, yang sebenarnya sangat mungkin terjadi (dan tentu sangat banyak) di bagian pelosok Indonesia. Negeri kita memang kaya, tapi begitu banyak yang masih di bawah garis kemiskinan. Banyak kalangan kelas elit berlomba-lomba memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak halal, sedangkan orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari saja terkadang masih sering kita jumpai. Klasik, tapi memang kenyataannya seperti demikian. Orang baik memang banyak, tapi orang jahat pun tak sedikit. Tinggal kamu pilih yang mana? 🙂



2 Responses to “Bukan bodoh…Tapi penakut…”

Leave a Reply