Kritik atas Perahu Kertas

Aku suka sirik sama orang-orang di tipi. Bukan karena tampang ato gaya kehidupan mereka. Bukan pula ketenaran dan sekelumit masalah yang menaungi kehidupan mereka (ya iyalah). Tapi aku lebih sirik dengan yang namanya “kenyamanan”. Membawakan acara gosip, berhaha hihi sejenak dengan teman yang sama-sama presenter terlihat sangat tidak “kerja”. Sing of song ga sampe 5 menit jg terdengar menyenangkan. Keliling dunia dengan iming-iming mengetahui situasi dan kondisi negara lain tentu sangat menggiurkan (pekerjaan yang siapa pun pasti ga nolak). Memasak dengan berbagai kreasi menu ciptaan sndiri dengan rona tanpa terpaksa membuat semua orang ingin menjadi koki seperti dia. Pemain bola yang sangat bernafsu untuk membentangkan bendera negara di podium yang paling tinggi, dan aku yakin mereka memiliki niat yang ikhlas untuk menjadikan negaranya sebagai juara. Mereka semua sangat terlihat enjoy dengan apa yang keliatan di tipi. Bagaimana sebuah hobi bisa berjalan beriringan dengan pekerjaan. Yach.. Itu yang membuat aku sirik. Pekerjaan  yang menghasilkan pundi-pundi uang dan tidak jauh-jauh dengan hobinya sendiri.

Setidaknya, relasi antara hobi dan pekerjaan itu semakin terdengar penting setelah membaca novel “Perahu Kertas” karya Dee. Sudah lama aku ga baca novel bergenre populer. Ternyata buku ini memang kubeli hampir setahun yang lalu, dan akhirnya berhasil kuqatamkan beberapa minggu yang lalu pula. Awalnya cerita ini masih bisa bikin orang bertanya-tanya dan penasaran dengan endingnya. Tapi lama-kelamaan ga tau kenapa kok cerita nya jadi ga seru lagi ya. Aku lebih suka novel yang mengandung realitas hidup. Bagiku, cerita-cerita yang ga masuk akal itu seperti orang yang enggan menapakkan kakinya ke bumi. Kita semua tahu bahwa kita ga bisa terbang dengan (hanya mempunyai) sayap. Kita hanya bisa berjalan sesekali berlari kemudian melompat. Aku rasa cara itu yang bisa membuat kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Oke, mungkin kita bisa terbang, tapi dengan alat yang bisa dijelaskan dengan gamblang, bagaimana alat itu bekerja. Buku adalah guru yang tak pernah marah. Darinya aku sering mendapatkan solusi bagaimana harus menghadapi suatu masalah. Sudut pandang pencerita ketika menjadi “Tuhan”, membukakan pikiranku bahwa begitu banyak hal-hal yang tidak ketahui dari berbagai sisi yang berbeda.

Perahu Kertas ini bercerita tentang seorang perempuan ceria bernama Kugy yang kuliah di jurusan sastra (meh podho kyok aku ya, hihihi). Dia sangat hobi nulis. Bukan sembarang cerita yang ia tulis, karena dia baru merasa enjoy jika menuliskan sebuah cerita yang beraliran dongeng. Jangan salah, membuat cerita dalam dongeng itu juga ga kalah susahnya low jika dibandingkan dengan cerita novel bergenre “berat”. Bayangkan, orang yang sudah dewasa tiba-tiba harus memilih kata dan alur cerita yang sebisa mungkin dapat dicerna oleh anak kecil yang imut-imut itu, hehe. Kalo tetep mempertahankan bahasa “dewasa”, alamat pesan yang ada di dongeng ga akan bisa sampai pada si kecil dweh alias mubazir. Padahal dongeng adalah sarana yang efektif untuk menunjukkan moral mana yang baik dan buruk, yang bisa dibedakan dan diambil hikmahnya oleh si kecil sebelum tidur.

Nah.. ditengah-tengah cerita, Kugy ini bertemu dengan sodara sahabatnya yang bernama Keenan. Cowok berpostur indo dan sangat rendah hati ini mencuri perhatian Kugy. Bisa ditebak lah, keduanya sama-sama suka tanpa mengungkapkan perasaan satu sama lain. Keenan ini sangat pandai melukis. Baginya, melukis adalah kehidupannya. Keduanya sangat saling support. Hampir semua orang yang mereka sayangi, yang seharusnya mendukung bakat mereka, malah melihat sebelah mata hobi mereka. Kugy menulis, Keenan melukis. Kugy menulis dongeng dan Keenan yang merefleksikan dongeng Kugy dengan goresan-goresan pena yang mempesona.

“Waktu aku kecil, punya cita-cita ingin jadi penulis dongeng masih terdengar lucu. Begitu sudah besar begini, penulis dongeng terdengar konyol dan nggak realistis. Setidaknya, aku harus jadi penulis serius dulu. Baru nanti setelah mapan, lalu orang-orang mulai percaya, aku bisa nulis dongeng sesuka-sukaku.”

“Jadi..kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli, begitu?”

“Yah , kalau memang harus begitu jalannya, kenapa nggak?”

“Bukannya itu nggak matching?” tanya Keenan lagi, tajam.

“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Nggak bisa makan.” (Dee: 37)

Begitulah sepenggal pendapat Kugy ketika berdebat dengan Keenan. Kugy merasa perlu menjadi orang lain sebelum menjadi diri nya sendiri. Melakukan pekerjaan yang bukan hobinya dulu untuk mendapat pengakuan orang lain dan baru kemudian terjun di dunia yang sangat membuat dirinya nyaman. Aku rasa begitu banyak orang yang bekerja dalam tekanan (keterpaksaan). Begitu banyak orang yang bekerja, yang tak sesuai dengan mimpinya. Bercita-cita menjadi pemain musik terkenal ketika masih kecil dan akhirnya menjadi seorang manajer di sebuah perusahaannya. Dia memang bisa “makan” dari pekerjaannya yang sekarang, tapi roh nya serasa hilang. Aku yakin, diantara kalian pasti pernah melihat yang demikian kan? Dengan kata lain, mereka mengubur dalam-dalam bakat yang sudah diturunkan Tuhan untuknya demi pengakuan orang-orang disekitar mereka. Sangat sedikit sekali orang yang bisa hidup mandiri dari hobinya. Dan itu yang kunamakan ke-be-run-tung-an!!!

Awalnya Keenan sangat fokus dengan melukis. Meski kuliahnya asal-asalan karena dipaksa ayahnya, toh dia masih bisa mengerjakan dua kegiatan yang sangat bertolak belakang tersebut dengan baik. IPK cumlaude, lukisannya pun mendapat decak kagum dari teman-temannya (sekali lagi “hanya” decak kagum). Tapi ternyata ayahnya sangat tidak menyukai hobi Keenan. Hal tersebut dikarenakan ayah Keenan memiliki sebuah perusahaan ternama di Jakarta dan ingin mewariskannya kepada Keenan (umumnya kalo wiraswasta seperti itu lah..mewariskan). Dalam novel ini diceritakan berbagai konflik yang menerpa percintaan dan cita-cita mereka. Orang ketiga, keempat, kelima yang sangat mengganggu sekaligus terlihat cocok sempurna untuk Keenan maupun Kugy. Keenan yang bertengkar hebat dengan ayahnya, mengundurkan diri dari universitas, hingga minggat ke Bali. Dan untuk pertama kalinya, di Bali, lukisannya dihargai, dinanti, dan dicari orang (tentu tidak dengan waktu yang singkatlah). Tapi lagi-lagi takdir berkata lain, ayahnya stroke dan ia mau ga mau harus menjalankan bisnis ayahnya.

“Kamu kerja apa di sini?”

“Saya sedang bantu ayah saya, Mas. Beliau lagi sakit. Dan sekarang saya menjalankan perusahaannya. Trading company.”

Remi melongo untuk yang kedua kali. “Kamu …di perusahaan trading?”

“Nggak ada pantes-pantesnya, ya, Mas?” Keenan nyengir.

“Yah, mudah-mudahan cuma sementara. Ayah saya sudah mulai membaik kok. Tapi maish belum tahu berapa lama lagi saya harus terus kerja di kantor,”jelas Keenan lagi. (Dee: 386)

Di bagian lain pun Kugy harus berjuang untuk kehidupannya. Yippi.. menjadi pegawai kantoran.

“Kugy mematut-matut diri di kaca. Kegiatan yang telah dilakukannya bolak-balik sejak setengah jam yang lalu. Barangkali inilah rekor terlama ia bercermin. Selama ini bahkan ia jarang menggunakan jasa cermin karena tidak terlalu peduli apa yang dilihatnya di sana. Namun, hari ini, ia merasa ada yang benar-benar tidak beres. Ada yang salah dnegan rok selutut yang dikenakannya, dengan sepatu hak lima senti yang menempel di kakinya, dengan clutch bag itu, dengan rambutnya yang mendadak bervolume karena di roll sejak tadi pagi.” (Dee: 248).

Di akhir cerita, penulis lebih memfokuskan kisah percintaan mereka daripada mimpi-mimpi mereka. Sebagai pembaca amatiran, sebenarnya aku ingin mereka happy ending dengan mimpi-mimpi mereka. Keenan dengan pameran lukisannya dan Kugy dengan buku dongengnya yang sukses di pasaran. Tapi keliatannya penulis membiarkan imajinasi kita untuk dapat mengambil alih bagian akhir seperti apa yang kita inginkan.

“Perahu kertas bergoyang sendirian. Perlahan ditinggalkan perahu kayu yang bertolak kembali ke bibir pantai. Mengantarkan Kugy yang segera berlari turun memecah air. Seseorang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terentang, siap merengkuh lalu mengangkat tubuh mungilnya ke udara. Keenan.” (Dee: 434)

Setelah membaca novel ini, aku jadi mikir tentang impianku. Takdir sudah dipersiapkan Tuhan untuk kita. Takdir sudah menunggu kita. Ada takdir yang bisa dirubah dan ada yang mutlak tetap. Hanya tinggal kita dan dua cara. Yang pertama tetap bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Yang kedua, berusaha mencintai pekerjaanmu sekarang, yang nyatanya sangat berbeda jauh dengan mimpimu.

MENJADI DIRI SENDIRI. Kupikir itu dulu. Terus, bagaimana denganmu? 😉



18 Responses to “Kritik atas Perahu Kertas”

  • cencen Says:

    MENJADI DIRI YANG BERGUNA.. semua tergantung motivasiya kok.. bekerja untuk memberikan manfaat pada orang lain. Pada keluarga, teman, lingkungan sekitar dan orang lain. Kepuasan bekerja sebenarnya bukan karena kita melakukan yang kita suka *itu mah main main* tapi apa yang kita lakukan berguna bagi orang lain. Kalaupun ada yang mengatakan bekerja dari hobi sangat menyengankan tidak selamanya. Tekanan kerja jauh dari yang dibayangkan. Terburuknya kita menjadi membenci apa yang kita dulu kita cintai sebagai hobi karean tuntutan kerja tanpa diimbangi motivasi. Mari bekerja, mari berguna, mari berkarya. Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas.. SEMANGAT!

  • Firdaus Effendy Says:

    Boleh juga nih tulisannya. Terus terang saya belum punya kesimpulan. Pendapat Mbak Rin ada benarnya, pendapat Mas Cen dalam beberapa kasus ada benarnya juga. Hmmmm, Mbak Rin, boleh nggak tulisan ini saya muat di BLOG KERTOSONO? (ealah buntut2nya hehehehe)

  • azhar Says:

    Pernah seorang pastur bercerita, ketika sedang studi di Jerman, dia sangat merindukan pecel. Setelah selesai masa studinya dan kembali ke tanah air, beliau segera membeli pecel, ada euforia sesaat menikmati yang selama ini dirindukannya. Tapi setelah itu, pecelnya terasa biasa saja. Sepertinya memang sudah jadi sifat manusia menginginkan yang ‘jauh disana’. Semua hal, baik yang disukai atau tidak, pasti mempunyai titik kejenuhan. Kalo kata Tuhan, dunia itu tempat bermain dan banyak kesenangan yang menipu. Menurutku se, yang penting kebutuhan dasar terpenuhi dulu, syukur2 bisa lewat hobi. Sebisanya ndak usah tlalu serius, banyak bersyukur dan banyak bermain 🙂

  • indahfaruk Says:

    selain menjadi diri sendiri, kita harus mencintai diri sendiri juga. membuat kita merasa nyaman dengan apa yang ada di diri kita sendiri. caranya? mungkin salah satunya bisa bersyukur. bersyukur menjadikan kita lebih menerima apa yg Dia telah gariskan.

    so, kalo aku.. bersyukur atas pencapaian yg terjadi di hidup ini. baik yg sudah sukses maupun yang belum terwujud. 🙂

  • diva Says:

    @cencen:kayaknya ada yang curhat nie…”hobi bisa bikin tekanan darah tinggi”…hihihi…tapi kan lebih enak kalo melakukan hobi trus dapet uang… :p

    @firdaus:boleh..monggo… 🙂 jgn lupa ditulis asalnya dari mana biar ga disangka plagiat..

    @azhar n kenyot:iya…kadang sirik itu tiba-tiba muncul kalo ngeliat orang yang bisa mandiri dari hobinya..*soale aku belum menjadi seperti itu..
    nah..dalam novel ini..endingnya kayaknya mengarah kalo mereka bisa dengan mudah bertemu dengan “takdir”.. 😀

  • rizkianto Says:

    haduuh… pengen ngatamno tulisanmu, tapi wedi spoiller, soale durung moco novel’e, nek ngerti ending e lak ga seru T_T

  • diva Says:

    hahaha…emng kamu suka baca novel juga?ga ngira dweh gung..
    hihihi..

  • Firdaus Effendy Says:

    Ooo jelas Mbak Rin, pasti saya tulis lengkap sumbernya. Fotonya Mbak Rin saya pasang juga ya? (saya ambil dari profile fb) supaya BLOG KERTOSONO terlihat lebih bening, hihihihiiii.

  • diva Says:

    waduh..foto yang mana`e…tak sensore dulu..hihihi..

  • Firdaus Effendy Says:

    oke nanti sebelum saya publish, minta konfirmasi dulu ke mbak Rin, beres lah.

  • defidancow Says:

    nice story..

    keywordnya mungkin ikhlas n syukur..
    mimpi adalah yg membuat kita bergairah, jadi harus tetap di perjuangkan..
    bukan kah hidup harus bahagia??

    mengutip kata2 dari dosen “dont worry be happy, rilex dan yang lebih penting berdoa”

  • Diandra Says:

    Resensi ini bikin saya bilang, “LHOOOO?”
    pertama,Papa Keenan tdk suka anaknya mjd pelukis karena lukisan mengingatkan papanya pada cerita antara mama keenan dan pak wayan-mantan kekasihnya-.bukan semata2 karena ingin keenan jd pengusaha.
    Kedua,akhir mimpi Kugy dan Keenan sudah tercapai. yaitu dengan proyek bersama Kugy-keenan tentang buku dongengnya yang sudah punya penerbit dengan Keenan sbg ilustrasinya (buku dongengnya dibuat 2 versi lho).dan Keeenan telah mendapat restu papanya untuk menjadi pelukis.memang agak tersirat, tp kalau dibaca dengan lebih baik akan terjelaskan sempurna.
    Ketiga, akhir cerita ini jelas. sama skali tidak nanggung. dan indah banget. Kugy dan Keenan bertemu lagi (dengan dituntun “radarnya”) dan akhirnya mereka menikah dan Kugy hamil dengan nama anak mereka diawali huruf “K”. Dan ini yg paling penting, mereka berhenti menjadi agen karena tidak ada lagi mimpi2 yg ingin diungkapkan

  • Diandra Says:

    mereka berhenti menjadi agen karena tidak ada lagi mimpi2 yg ingin diungkapkan melalui perahu kertas. karena mereka berdua sudah menjalani mimpi itu bersama-sama (mimpi mjd penulis dongeng, pelukis dan mimpi ttg cinta mereka berdua).
    Dan yang terakhir, novel ini memang agak berbeda dari novel2 Dee yang lain. tapi ciri khas Dee tetap ada. salah satunya (yg mungkin membuat anda berfikir cerita ini tdk realistis) adalah, Dee selalu menggambarkan hubungan “magis” antara manusia dengan benda mati, dalam novel ini adalah perahu kertas dan dewa neptunus. dan Dee selalu menggambarkan mimpi2 yg sulit diterima tp sangat nyata. Kita semua pasti memiliki hal yg sama meskipun tak terakui. Seperti hubungan kita dengan Buku harian kita,dengan camera kita. Seperti cita2 tersembunyi kita, ada di puncak Himalaya mungkin. Kita pasti punya sisi2 tak realistis yg ingin kita capai. hanya mungkin kita sendiri yg ingin cepat2 kembali ke dunia yg sarat akan gravitasi ini. see….

  • diva Says:

    @diandra: km cerita berdasarkan novelnya atau film nya? soalnya kalo berdasarkan enkranisai, biasanya banyak yang dirubah sesuai keinginan sutradaranya.. ini resensiku berdasarkan pengalaman pembacaanku.. dan dari buku cetakan pertama.. 🙂

  • Diandra Says:

    disini film indonesia belum masuk, so sy belum menonton movie-nya, baik part 1 maupun part 2.sy komentar murni based on novelnya yg sy baca tahun 2009. Baca novel ini harus sampai epilognya lho, baru deh. ok? persis apa kata Jane Austen, “horizon itu terlihat di setiap halaman, termasuk halaman sampul”.begitu pula buku ini.

  • diva Says:

    @diandra: perlu diingat bahwa pengalaman pembacaan tiap orang itu berbeda-beda.. seinget saya, ketika saya mengupload tulisan ini ga da komen yang berarti.. tapi jadinya kok jauh banget dengan pengalaman pembacaan anda? *aneh
    cetakan pertama 2009 ya? saya kira yang saya baca cetakan pertama.. ntar deh waktu pulang ke Indo saya baca-baca lagi.. *kalo sempet 🙂

  • diandra Says:

    ya intinya harus jadi pembaca yg baik. termasuk pembaca komentar. 🙂

  • diva Says:

    terima kasih masih mau membaca tulisan usang saya.. 🙂

Leave a Reply