Tetap Mencintaimu…Wahai Garuda!!!

Kalau mau dibilang sedih..pasti hari ini seluruh Indonesia pencinta bola sedang berduka cita. Pasalnya kemarin tim kesayangan kita dibantai 3-0 tanpa balas oleh Malaysia. Mungkin karena saya penonton wanita, jadi nontonnya pake perasaan. Andai aja kekalahan yang kita terima itu pertandingan antara Indonesia vs Thailand ato Indonesia vs Philipina, mungkin sakit hatinya ga sesakit sekarang *berkaca-kaca. Sungguh, pertarungan antara Indonesia vs Malaysia itu seperti perang dingin yang setiap saat bisa meledak. Musuh bebuyutan yang seakan-akan memang ditakdirkan untuk tidak pernah akur. Kedua negara selalu berlomba-lomba menguasai segala hal. Perbatasan wilayah, kewarganegaraan, kebudayaan, dan lain-lain. Tidak bisa dipungkiri dan harus diakui, kondisi kita sekarang sedang “kalah” dengan negara tetangga. Mengutip kata-kata dosen saya, Indonesia memang memiliki berjuta masa lalu yang menawan, tapi Malaysia memiliki jutaan masa depan yang cerah *waduh, iki ngomongne bola opo ngomongne dendam kesumat tho??*

Berawal dari perjalanan mulus tim Garuda menuju final yang tak pernah kalah, membuat masyarakat yakin 100%, kalo Indonesia juga akan berjaya di negeri Jiran. Bahkan Rajagopal yang katanya asli made in Malaysia pun ga ingin jumawa mengumbar janji kemenangan *tp kulitane nya low gag Melayu punya twuh..keturunan India Bombay gitu..berarti kan ga 100 %?? :p. Dia menargetkan Malaysia unggul hanya 1-0. Ketika saya liat dia di wawancarai by phone dan memberikan pernyataan tersebut, saya cuma senyum tipis sambil mbatin, “Tenang..km akan diganjar 2-0 lah ma tim Merah Putih, lha wong di laga pertama aja km dibantai 5-1 gitu..hahahaha”. Beneran, saat itu saya sombong sekali! (Tertawa culas lah pokok’e). Dan saya yakin, banyak sekali suporter yang melakukan hal sama seperti saya *nggolek konco. Rasanya saya gemes banget sama Malaysia. Saya tidak perlu mengurai kenapa kegemesan ini ada dititik klimaks, karena mungkin anda-anda sekalian memiliki alasan kegemesan yang berbeda-beda, tapi tetep aja..sama-sama gemes!!!

Bayangkan..gara-gara permainan tim Indonesia yang menawan, keuntungan-keuntungan pun berdatangan untuk pengusaha-pengusaha di Indonesia. Sebut saja pengusaha konveksi. Beberapa hari yang lalu saya berniat belanja barang-barang yang berhubungan dengan bola yang bisa dijual di etalase Tosono Futsal. Gak ngira…dikios-kios Pasar Grosir Kapasan, tertulis “Kaos Timnas Kosong”. Tapi ada sie satu toko yang masih menjual 1 glangseng  baju timnas. Dan bisa ditebak..pembeli membludak, dan hanya dalam hitungan menit kaos-kaos itu tandas. Beruntung saya dan ibu saya mendapat 2 kaos *dan pastinya gag untuk dijual tapi dipake sendiri, hehehe. Untuk pertama kalinya juga, saya merinding melihat lautan merah yang memenuhi Gelora Bung Karno untuk mendukung kesebelasan negeri. Gila…gara-gara bola, sila ke 3 Pancasila jadi kerasa banget #Persatuan Indonesia. Teman-teman serta saudara-saudara saya pun sangat antusias berburu tiket final untuk tanggal 29 Desember *padahal biasane juga biasa ae. Sayang, PSSI tidak mempersiapkan manajemen yang baik untuk urusan pertiketan. Ada yang ampe tewas karena mengantri. Ada yang marah-marah sampe merusak stadion sendiri #padahal itu dibangun atas uang rakyat. Calo-calo menawarkan  harga yang setinggi langit. Nah loh.. kekurang disiplin negara kita malah bisa merugikan negara kita sendiri loh. Sebenarnya saya malu. Sangat malu.. Disaat negara lain sedang sibuk melakukan perbaikan di segala lini, Indonesia malah sibuk untuk “menghancurkan” diri sendiri. Dan aku yakin pasti kita diketawain ma negara tetangga twuh. Sekarang sedikit evaluasi yuk! Buat para penonton, kalau ga bisa nonton di Gelora Bung Karno mbok ya jangan ngotot, stadion itu low udah uzhur. Dari pada ntar kepenuhan trus jebol kan gag lucu. Yang ga dapet tiket karena merasa “dicurangi” ataupun dimonopoli “orang atas” ya udah. Makan aja twuh tiket-tiket yang dipatok dengan harga melangit, “orang atas”. Toh kita juga masih bisa nonton bareng dirumah, ditemani dengan secangkir teh hangat. Untuk pengurus PSSI, perbaiki manajemennya ya. Kalo antrinya duluan, mbok ya dilayani yang duluan. Jangan “melelang” tiket!! Jangan pula ada takut ato sungkan-sungkanan, kalo disiplin ga dimulai dari sekarang, kapan lagi?? Ini untuk negara kita bersama low.. Bukan negara kakek lu doank!!! *eh kok malah nyoroti PSSI? Mengutip kata-kata salah satu Presiden Amerika, “Bukan negara bisa memberikan apa untuk kita, tapi apa yang bisa kita berikan untuk negara”. Trus apa dunk kontribusimu ??#ngomong di depan cermin#nyengir sendiri#

Eh, kembali ke pertandingan Indonesia vs Malaysia yuk. Indonesia yang takluk dengan Malaysia pun memiliki versi sendiri agar “dimaafkan” masyarakat Indonesia. Merasa dirugikan dengan laser yang disorotkan pada Markus dan pemain-pemain lini pertahanan, sempat membuat pertandingan terhenti sejenak sebelum telur Malaysia akhirnya menetas menjadi 3 butir. Saya tidak tahu, supporter Malaysia beneran mengarahkan sinar laser itu ato gag, tapi kalo sampe beneran terbukti.. Alamak.. Pasti malu lah negara yang memiliki sebutan harimau malaya ini dengan cara bermain seperti itu. Bukankah FIFA selalu mengusung semboyan “Fair Play”?? Itu ditindak lanjuti gag ya??

Selain faktor kecurangan supporter, faktor pelatih pun merupakan suntikan semangat yang ga bisa dianggap kecil. Rajagopal pandai bener mbaca celah-celah yang harus diperbaiki. Pemain Malaysia rupanya belajar dari kesalahan dan bermain cukup percaya diri. Kebalikannya, saya pikir pemain Indonesia terlalu “mendongakkan kepala”. Mungkin karena liputan media yang hiperbola hingga bikin mereka merasa “wah”, dan lupa kalo lawan mereka bukan lawan yang enteng #alias nggampangne.Tapi harus diakui, kemarin tim Malaysia bermain cukup baik. Mestinya timnas bisa bermain lebih bagus dari kemarin. Faktor capek, down, ato tegang, mungkin itu juga yang mempengaruhi mereka #heran ak, kok kemarin permainannya pada longgar semua. Terlepas dari itu semua, ini adalah sebuah pembelajaran kecil bagi timnas kita. Setiap pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Semoga kekalahan ini bisa membuat mereka lebih rendah hati dan terpicu semangatnya. Amien.

Ada satu hal yang bikin saya risih tiap kali nonton bareng. Pasti kalian nemuin kan supporter yang sok-sok an nasionalis dengan serentetan pujian..yang bilang bangga lah dengan darah Indonesia yang mengalir di tubuhnya, yang berlebihan memuji-muji striker maupun arsitek pelatih lah..itu kalo menang… Tapi kalo gag menang…hujatannya..mbooookkk…mentholo tak kethak karo sepatu!!! Yang benci Indonesia lah, menyesal dilahirkan di Indonesia lah, ga bangga lah.. Misuh2.. Haduh.. Katanya nasionalis, tapi ternyata lek menang thok!! Yo akeh tunggale yo!!! Yang namanya “cinta” itu harus disaat senang maupun susah #terlebih pas susah sech. Lha ini pas susah malah dihujat, ditinggal!! Haduh.. Parah!! Saya ga kuat kalo Indonesia harus dihina dina. Apalagi kalo mbaca clometannya Malaysia lawan Indonesia #rasane puanas banget atiku!

Pertandingan belum usai, tanggal 29 Desember adalah babak penentuan. Saya sangat yakin kalo Tim Indonesia bisa melakukan yang terbaik untuk hari itu. Rebut kemenangan dengan cara yang terhormat kawan!! Jangan mau terprovokasi untuk melakukan kecurangan-kecurangan yang sudah dilakukan supporter negara tetangga. Tidak dengan laser maupun lempar-lemparan yang bisa menimbulkan tawuran. Cukup ciptakan gol-gol cantik seperti biasanya. Terbang yang tinggi wahai Garuda! Kepakkan sayapmu selebar mungkin! Kalian pasti bisa! Kalian pasti mampu! Semua untuk negeri kita. Indonesia Raya!!!

NB: Buat supporter yang berniat nonton langsung di GBK, jauhkan pikiran kalian untuk balas dendam ya! Karena masalah gag akan selesai kalo bales-balesan gitu! Intelek dikit napa? Kita yang berdoa..Timnas yang berusaha. Mencoba percaya dan ikhlas yuk!! 😉



Leave a Reply