Pengorbanan

“Ayahhh…. Kita mau kemana?”, tanya si anak dengan wajah polosnya.

“Ke tempat yang sekiranya kamu bisa bermain dengan bebas nak”, pandangan ayah masih lurus ke depan.

“Berarti kita akan ke toko mainan seperti beberapa bulan yang lalu?”, tanya si anak lagi dengan mata yang tampak berbinar-binar.

“Bukankah kau belum pernah masuk toko itu?”, dahi sang ayah yang sudah keriput tampak lebih mengerut. Tua.

“Iya ayah… Ardi memang belum pernah masuk ke toko itu… Tapi melihat mainan yang bertumpuk-tumpuk di toko itu, Ardi senang yah..”, giginya yang rata terlihat mulai tumbuh. Meskipun tak sehat dan berwarna putih kekuningan.

Sang ayah hanya bisa tersenyum kecil. Kekhawatiran yang semula dia simpan dengan rapi, sebenarnya bisa dipahami dari sorot matanya. Dia terharu melihat keceriaan anaknya yang baru berumur 6 tahun tersebut. Ingin sekali sang Ayah berbicara banyak hal dengan Ardi, tapi Ayah tetaplah orang yang tertutup. Selalu ingin terlihat baik-baik saja didepan buah hatinya.

“Lalu kenapa kita membawa tas sebanyak ini ayah?”

“Sapa tau perjalan kita membutuhkan baju yang banyak untuk menghangatkan tubuh-tubuh kita, sayang.”

“Perjalanan kesana kan tidak jauh Ayah. Dulu cuma butuh sehari, eh dua hari ya yah?

“Dua hari anakku.”

“Kenapa semua baju-bajuku dibawa yah?”

“Mungkin kita bisa menemukan rumah baru yang nyaman, yang lebih besar dari rumah kita yang dulu.”

“Tapi bukannya rumah lama kita masih bisa ditempati yah?”

“Iya… Ayah bosan dengan rumah yang lama.. Tak ada salahnya kalo kita nyari rumah sambil jalan-jalan tho?”

Si anak nampak kebingungan.

“Tapi Ardi senang tinggal disana yah. Kalo mau hujan-hujanan tinggal buka pintu rumah, air-air kecil itu langsung kena tubuh Ardi low. Kalo mau maem, tinggal beli tempe ma karak di warung Mak Nik depan rumah. Kalo mau mandi tinggal buka pintu belakang… Airnya deras kalo sedang hujan, bisa berenang. Tapi kalo lagi panas, airnya berwarna cokelat ya yah? Ardi belum salam ma Piko yah, pohon jambu yang biasa Ardi naiki.”

Sang ayah menghentikan langkah kakinya, berbalik, kemudian berjongkok menghadap anaknya.

“Ayah marah?”

“Tidak anakku.”

“Kenapa berhenti jalan yah? Kalo mau cepet sampe di toko mainan itu kan harus cepat jalannya.”

“Iya.”

“Kapan-kapan boleh balik lagi kerumah yang banyak lubangnya itu ya yah? Ardi ingin makan buahnya Piko dan masih ingin mainan air di belakang rumah yah.”

“Jika Tuhan mengijinkan, kita bisa balik kesana nak. Tapi akan sangat sulit membangun kembali rumah yang berdinding seperti ayaman itu.”

“Tapi bisa kan?”

“Semoga ya sayang.”

“Loh, ada air di mata ayah. Ayah nangis? Ato gerimis ya? Tapi kok cuma dekat mata ayah thok ya?”

“Iya.. sedikit gerimis nak… Yuk cari tempat yang ga kena air yuk.”

Tak ingin terlihat cengeng, sang ayah segera mengalihkan pembicaraannya. Mereka berdua pun segera mencari toko kosong. Sekitar pukul enam sore waktu itu. Udara dingin cukup menusuk tulang. Cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat mereka susah menebak, akankah hari itu hujan atau cerah.

“Ayah, apakah kau bawa jaket biru ku yang tebal?”

“Sudah aku bawa kok, mungkin ada di tas hitam ini, sebentar ya.”

“Ayah, jaket ayah yang berwarna abu2 pemberian orang yang punya restoran besar itu dimana yah?”

Terdiam.

“Ayah sudah tidak memerlukannya lagi nak. Kemarin ada yang suka dengan jaket itu, jadi ayah kasihkan deh. Tapi kamu suka dengan makan malamnya kan?”

“Sangat suka yah!!! Ayah dapat makanan darimana itu? Enak sekali udang gorengnya.”

“Ayah beli kok. Khusus untuk kamu biar cepet gede.”

“Darimana ayah dapat uang banyak, bukankah uang ayah tinggal lima ribu?”

“Ehm…. Iya…. Maksud ayah tadi, ayah dikasih rejeki ma orang karena membersihkan tamannya.”

“O…. Ayah ga kedinginan? Ardi sangat kedinginan yah. Jaket ini kurang tebal.”

“Enggak.. Ayah ga kedinginan… Pakai saja baju-baju ayah yang besar itu.”

Ujung-ujung tangan ayah yang besar membiru kelabu warnanya. Tak jauh beda dengan kakinya. Bibir ayah pun nampak pucat. Kedinginan.

“Ayah…”

“Ya nak…?”

“Ardi laper…”

“Ardi ingin makan apa?”

“Sup hangat bikinan ibu.”

Ayah memejamkan mata cukup lama. Pikirannya kembali ke masa lalu.

“Ayah, Ardi kangen ma ibuk.”

“Sama, ayah juga kangen ma ibuk.”

“Ibuk disana sedang apa ya yah?”

“Mungkin sedang membuatkan sup hangat seperti yang kau inginkan.”

“Bisakah ayah mencarikan sup yang mirip dengan buatan ibuk?”

“Mungkin bisa.”

“Benar yah?”

“Ya, jika kau mau. Tapi apa kamu berani kutinggal sendirian disini?”

“Berani yah. Ardi sudah besar kok.”

Ayah mencium kening putranya. Begitu sayangnya dia pada Ardi, sehingga sejauh permintaannya bisa dijangkau, pasti akan dituruti.

“Tidurlah, mungkin ayah akan datang sebentar lagi dengan membawakan sup hangat yang mirip dengan buatan ibu.”

“Aku tunggu yah….”

Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Ardi merasa kangen sekali dengan ayahnya. Kemudian si bocah ini berlari dan memeluk Ayahnya.

“Ayah jangan lama-lama ya? Ardi lapar tapi juga tak ingin sendirian yah.”

“Iya sayang…setelah dapat sup hangatnya… Ayah akan cepat-cepat kembali.”

Ayah pergi dengan kebingungan. Hanya ada uang seribu dalam kantong bajunya. Dia berniat mengemis dan membelikan sup hangat paling murah yang akan diberikan untuk Ardi. Berkali-kali dia berbohong untuk menyenangkan dan menenangkan putra semata wayangnya tersebut. Setahun yang lalu istrinya meninggal karena sakit. Hal itu menjadi pukulan yang dahsyat untuk anak sekecil Ardi yang sedang butuh perhatian dan kasih seorang ibu. Kerjanya yang serabutan pun membuat ia harus diusir dari gubug tua tanpa sertifikat yang bocor ketika hujan dan kedinginan dikala musim angin. Jaket satu-satunya pun ia gadaikan untuk membelikan makanan kesukaan Ardi sebagai hadiah ulang tahun. Alhasil ayah kedinginan.

Dua jam berlalu dengan sangat lambat. Ardi sudah mulai merasakan perih dalam lambungnya. Berkali-kali ia meminum air hujan yang ia tampung dalam kedua tangannya yang mungil.

“Ayah…dimana kau? Hujan semakin deras. Aku kedinginan dan lapar. Hik..Hik..”

Tiba-tiba ia menangis. Perasaannya tak nyaman. Tapi kemudian terlelap.

Keesokan harinya dia menyadari, jika pelukkan kemarin malam adalah pelukan terakhir dari ayahnya tersayang. Musibah mendatangi ayah sewaktu dia sedang tertidur pulas . Dan tangisnya menjadi ketika tau jenazah ayahnya tergeletak tak jauh dari tempatnya menunggu kemarin malam.



15 Responses to “Pengorbanan”

  • rizza Says:

    kok tragis men to dif critane…
    dasar anak satra…
    sekarang jadi pinter nulis ya…
    paling gara2 keseringen nulis diary…
    uda berapa rak diarymu???

  • intana Says:

    ya ampun ini cerita bikun merinding aja sist….
    hiks…
    jadi kangen bapakku juga…

    hm…apik banget nah….
    4 jempol buat kamu.cerpen pendek tapi dapat membuat emosi diaduk-aduk…

  • diva Says:

    @rizza:wez pirang rak ya??hehehe..iyo..kethoke aku kakehan nulis diary, makane crito ku koyok curhat ya…
    @nduz:hm..sebenernya aku masih merinding tentang mimpimu yg bertemu ayahmu dengan payung yang kau bawa nduz…waktu kamu cerita dulu, rasanya pengen nangis aku… :'(
    kalo kangen si bapak..doain setiap saat y nduz…doa anak yang solekah selalu nyampek insyAlloh…luv u sis..

  • emm Says:

    wihh sedihnya serasa baca novel judulnya the atonement…..tapi bagus kok. ada part2 nya ga? anaknya jadi orang sukses gt…hehehe.

  • diva Says:

    @mbk emma:the atonement?waduh..aku lum baca twuh mbak…lawong cerpen ini inspirasinya dari ayah dan anak yang kuliat wktu pulang naek travel kemarin..ujan2 gitu,,tak liat lama2 nangis sendiri aku… 🙁
    part2?lum kepikiran nie.. ;p

  • emm Says:

    iy the atonement..jg mati d pinggir jalan gn, tp yg ditunggu kekasih hati…mungkin sad ending ga disukai bnyk org y. tapi kesan yg ditinggalin jdi g gampang ilang jg. udah cantik bgt. berbakat pula…ckckck…ditungguin deh tulisan2nya.

  • diva Says:

    @mbak emma:iya mbak..kalo baca ceritane sad ending itu efeknya merenung…tega2nya si penulis sie…
    amien atas doanya…tetep berkunjung di difana.com ya… —meskipun ak gbs comment ke blognya mbak..maaf.. 🙁 —

  • emm Says:

    iye aq ad sih blog di emma.bukanblog.com tapi kayaknya isinya bakal salinan dari multiply udah capek2 dibuatin soalnya… oke2…happy bloging

  • diva Says:

    @mbk emma:okey…klo da wktu luang tak buka e mbak.. 🙂

  • Luke Says:

    Wah..Mbak Difa…masih inget ngga ya sama aku?

    Mbak cerpennya top abisss..

    mengharukan..

    like this!

  • diva Says:

    @luke:kamu adek kelasku smp ya?hehehe..manggilny mbak ririn dunk? dmn km dek skrg?

  • cencen Says:

    jadi ingat crossing.. hiks.. cuman ini kebalikannya

  • diva Says:

    @cencen:iya ya…aku baru sadar…cup..cup..

  • Baju Tanah Abang Says:

    sedi bangegt..q jdi terharu ne…ada kaen lap gak ne kakak..bagi dong sini…hiks.

  • arie Says:

    apiiikk…

Leave a Reply