Sep 22 2014

Mudik 2014

Waaahhh.. Sepertinya saya sudah lama sekali ga mengunjungi rumah mungil ini *bersih-bersih pojok blog. Heheheh.. Setelah piala dunia yang akhirnya dimenangkan oleh Jerman, setelah Ramadhan dan lebaran pertama di keluarga suami, dan setelah selesai “libur” lebaran sebulan lebih di Kertosono, akhirnya baru bisa pegang laptop lagi *duhlebaynya.

Sekilas info.. Suami saya getol banget lihat bola. Apalagi kalau tim Spanyol yang main. Sayang dan diluar dugaan, Spanyol main buruk dan harus pulang lebih awal. Tapi memang Jerman pantas juara lah.. Mainnya bagus banget kok. Oiya.. Saya baru tahu kalau ketika suami begadang lihat bola, stock cemilan busui (ibu menyusui) tiba-tiba habis saja. Hehehe.. *untung diganti yang lebih banyak ya beb. Ya ini sih seperti tradisi baru, karena keluarga di Kertosono ga ada yang hobi bola, jadi ga ada yang begadang.

Selama Ramadhan tahun ini pula, saya ga ke masjid sama sekali pemirsa! Bahkan pas Idul Fitri tet! Sedihnyaaaa.. Tentu bukan prestasi yang dibanggakan ya. Ga bisa taraweh bareng-bareng, ga bisa itikaf bareng-bareng, dan memang kebetulan puasa saya bolong tepat 14 hari. Hehehehe.. Ramadhan kali ini jadi berasa ga Ramadhan. Mana Fazna juga ga ada yang ngejagain lagi. Sempet kepikiran mau membawa dia ke masjid, tapi takutnya bukannya ibadah, yang ada nanti dianya gangguin orang salat. Jadilah saya harus merasa cukup dengan beribadah di rumah. Semoga Alloh ridhooooo (amien) dan masih belum terlambat kan untuk meminta maaf kepada temen-temen? Maafin Difana sekeluarga yaaaa..

23

Continue reading


Jun 9 2014

8 Review Brand Clodi (Part 2)

Setelah me-review clodi brand lokal, kini saatnya saya akan me-review clodi brand import, yang katanya ada harga ada rupa.. Ah masak? Check this out..

  1. Ecoposh

Jauh sebelum saya “keracunan” clodi, saya sudah jatuh hati saja ngelihat warna-warnanya Ecoposh. Kalem-kalem dan keliatan eksklusif gitu. Padahal waktu itu saya belum tahu kegunaannya apa barang ini. Katanya, outer dan insert-nya full daur ulang dari plastik-plastik dan bambu. Alhamdulillah pada suatu ketika (halah), bisa terbeli juga! Dan setelah nyobain, hasilnya ga semenakjubkan ekspetasi saya kok. Bagus, tapi ga yang buagus gitu. Malah, karena outer-nya terbuat dari bambu, kalau sudah penuh jadi merembes. Duhhh.. Hal yang paling bikin males kalau clodi anak ngrembes itu adalah, baju emaknya harus ganti semua. Najis.. Najis.. Wkwkwk.. Ngrembes saja sih sebenarnya.. Ga sampe yang netes-netes gitu. Tapi karena clodi ini tidak terlapisi bahan PUL (tahan air) seperti clodi-clodi lainnya, pantat bayi justru bisa bernafas dengan leluasa (cocok untuk bayi yang sensitif). Bagi Fazna, Ecoposh paling pas dipakai malam hari, karena kesannya hangat, pipisnya ga banyak, terus kalau dirapetin ga sampai yang merah-merah gitu kulitnya. Ajaibnya.. Meski full bambu, tampilannya ga bulky lho. Jika dipakai di siang hari, 4,5 jam udah mulai merembes. Kalau dipakai di malam hari, biasanya saya pakaikan dari jam 9 sampai jam 7 pagi, ga ada masalah. Oiya, Ecoposh ini juga punya pelindung samping, biar pipisnya ga kemana-mana. Minusnya Ecoposh adalah keringnya lamaaa.. Buat yang clodinya “kejar tayang” alias cuci kering pakai, sepertinya Ecoposh ga masuk dalam kriteria ini ya. Keringnya minimal 3 hari. Jadi outer-outer lainnya sehari udah kering, dia belum kering sendiri. Insert-insert yang lain 2 hari saja sudah kering, insertnya Ecoposh 3 hari saja belum tentu kering. Makanya saya jarang memilih insert berbahan bambu karena keringnya lama. Jadi, Ecoposh mendapat nilai 8 lah, karena performanya sip tapi harganya ga sip.

Continue reading


Jun 6 2014

8 Review Brand Clodi (Part 1)

Kali ini saya ingin me-review brand-brand clodi yang pernah dipakai Fazna. Tulisan saya ini murni hasil pengalaman, bukan karena ada niat iklan atau menjelek-jelekkan suatu brand. Karena semua konsumen berhak untuk menceritakan pengalamannya.  Mengingat perut dan paha bayi yang berbeda-beda tiap anak, serta cutting clodi yang berbeda-beda pula pada setiap brandnya, maka saya pun mencoba satu per satu yang menurut saya memang layak dicoba.

  1. Pempem

Ini adalah clodi brand lokal pertama saya punya, dan clodi pertama saya miliki. Setelah prewash 3x (yang salah satu tahap pencuciannya pakai deterjen), saya cobakan ke Fazna. Clodi ini trim (tipis), ga bulky (kalau bahasa Jawanya nggedebel), dan outer-nya (bagian luarnya) terbilang agak kaku (tapi yang agak kaku gini yang enak). Insert-nya ga tebal dan ga tipis, sehingga proses pengeringannya ga lama-lama amat. Daya serapnya lumayan, karena lapisan stay dry -nya memang cukup kering. Penggunaannya maksimal 4 jam. Pernah iseng saya pakaikan lebih dari 4 jam, yang ada bocor samping, jadi pesing deh. Clodi ini cocok dipakai di siang hari. Warna dan motifnya buanyakkk.. Sampai bingung pilih yang mana. Lubang masuk insertnya juga lebar. Noda bekas pup juga gampang dibersihin. Kalau Fazna sudah waktunya jam pup, biasanya kupakaikan clodi ini, hehehe.. Karena memang mudah dibersihin. Kekurangannya brand clodi ini adalah dia tidak mengeluarkan tipe pull-up (sebutan untuk clodi yang bisa dipakaikan seperti pospak jenis celana) dan lapisan stay dry-nya yang agak panas. Jadi cara memakaikannya harus ditidurin dulu. Kalau anaknya masih banyak tidur sih ga ada masalah, tapi kalau sudah banyak polah, ya harus dikasih mainan yang bisa dipegang untuk bisa tetep tidurin selagi makein clodi ini. Nilai yang pantas untuk Pempem adalah 7 untuk range 1-10.

Continue reading


May 30 2014

1001 Alasan Memakai Cloth Diaper (Clodi)

Loh.. Udah habis..

Hah.. Habis lagi?

Yach.. Lagi ga promo..

Huehehehe.. Mungkin itu celetukan-celetukan saya ketika Fazna masih menggunakan “pampers”, alias pospak (popok sekali pakai), alias diaper. Sebulan dia bisa menghabiskan rata-rata 4 dos “Mamy Poko” yang isi 34 biji. Sebagai ibu hemat, saya pasti belinya pas lagi promo. Dari harga rata-rata Rp. 92.000,- menjadi Rp. 69.000-, lumayan lah diskonnya bisa buat snacknya Fazna, hehehe.

Tapi lama-lama capek juga berburu pospak promo. Apalagi, barang rutin mahal yang dipakai tersebut berakhir di tempat sampah. Tempat sampah yang  menggunung juga menjadi resiko dari penggunaan pospak setiap hari, aduh..duh.. duh.. Betapa sampah rumah tangga itu banyak sekali. Nggakunya orang “go green”, nggakunya pengen hemat dan berlaku sehat, kok sampah rumah tangganya seperti itu.. Padahal, menurut penelitian, pospak baru terurai sempurna di tanah setelah 500 tahun! Bayangkan.. 500 tahun.. Huhuhu.. Kasihan ya si bumi. Teruuuussss… Penggunaan pospak setiap hari juga membuat kulit pantat bayi gampang ruam-ruam.. Merah-merah.. Kan kasihan.. Coba, kita sebagai wanita, 2 tahun full pake pembalut.. Hiiiiii.. Seminggu aja rasanya sudah gatal-gatal..

Continue reading


Apr 30 2014

Fazna 1st B`day

Alhamdulillah… 27 April 2014 kemarin, Faraza Naureen Achda resmi berumur satu tahun.. Giginya sudah 6.. 4 atas dan 2 bawah.. Rambutnya lebat.. Kulit eksotisnya semakin lama semakin pudar.. Sudah mulai berdiri tanpa pegangan tapi belum berani melangkah sendiri.. Sudah makan makanan rumah alias ga mbubur lagi.. Suka banget disuapin pake tangan (ga pake sendok) sejak GTM kedua.. Juga suka nonton kartun yang ada nyanyi2nya.. Alhamdulillah..

Syukuran ini pun berlangsung dan dihadiri oleh saudara-saudara terdekat.. Alhamdulillahhh.. Tanpa mengurangi rasa bahagia kami semua..

Sehat selalu ya anakku sayang.. Panjang umur nan barokah.. Cantik menik2 tapi rendah hati.. Pintar dan bisa memintarkan orang lain tanpa perlu sok pintar.. Dan yang pasti.. Jadi anak yang sholehah ya nak.. Aaaammmiiieeennnn…

Luv.. Luv.. Luv u…


Feb 28 2014

Menjadi Perantau Ala A. Fuadi

Bagi yang pernah merantau, khususnya ke luar negeri dalam waktu yang lama, pasti akan tertohok setelah selesai membaca ketiga buku best sellernya A. Fuadi, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara. Seorang scholarship hunter yang saat ini sudah mendapat 9 beasiswa dari berbagai universitas dan negara, membuat dia piawai menceritakan kegigihannya dalam menggapai mimpinya. Diawali dengan ceritanya yang harus dipaksa mondok di sebuah Pondok Madani di Ponorogo, masuk di perguruan tinggi negeri di Bandung, ditinggal wafat ayahnya dan harus membiaya kedua adik beserta ibunya di Bukit Tinggi, kemudian mencari pekerjaan di Jakarta yang ketika itu sedang krisis moneter, proses pencarian jodoh, hingga mendapat beasiswa dan pekerjaan di luar negeri yang membuat dia bimbang antara pulang atau tetap tinggal di negeri orang.

Pengen curcol dikit nih, setelah mempunyai anak, kecepatan membaca saya turun beberapa derajat karena merawat anak. Malem-malem berniat menyelesaikan buku demi buku, eh udah ketiduran.. Malem-malem bangun mau ngetik, eh si anak ikut bangun juga.. Jauh banget ketika zaman belum punya anak, hehehe.. Jadi ya terputus-putus nih share ringkasannya, mohon maklum ya..

Continue reading


Jan 12 2014

Fase GTM (Gerakan Tutup Mulut)

“Dek… Time to eatttt… Gasol gasol gasollll..”, seru saya dengan berakting wajah konyol sambil bersiap untuk menyuapinya.

“Eh, ini kan yang biasanya dekkkk.. Buka mulut donkkkk..”, lanjut saya sedikit heran dengan perubahan Fazna yang ga mau makan. Boro-boro makan, buka mulut susyahhhh. Saya pun sedikit memaksa dan cenderung bernada tinggi. Eh, bukannya membuka mulutnya lama-lama Fazna menangis dengan kencang dan saya terpaksa mengalah untuk menyudahi acara makan tersebut. Oh mungkin dia bosen dengan gasolnya, pikir saya saat itu.

Besoknya saya membuatkan Fazna MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) dengan menu havermut. Ini sih kesukaan dia banget. Terlanjur bikin 3 sendok makan ternyata dia hanya mau membuka mulutnya untuk 2-3 sendok kecil saja, setelah itu Fazna bener-bener tutup mulut. Hal itu berlanjut hingga tiga hari kedepan. Di hari ketiga saya angkat tangan. Saya manusia biasa yang punya rasa sebal. Saya panggil asisten rumah tangga saya untuk meyuapinya, dan saya segera masuk kamar. Sebel, geram, kasihan, bingung, semua perasaan campur aduk. Saya sudah susah-susah bikinin dia makan, merencanakan menu yang berbeda dan bergizi setiap saat, ternyata dia ga mau makan. Rasanya penaaat sekali.

Continue reading


Dec 17 2013

Bye Bye Bipoooo..

Sejak saya melahirkan Fazna, waktu saya tersita hanya untuknya. Sebagai full mommy, dirumah isinya ya ngurusin dia. Apalagi sekarang sudah makan tiga kali sehari, sudah bisa duduk, merangkak kemana-mana, praktis udah ga bisa ditinggal sendiri ini anak. Dan ini ngefek kepada adopsian saya, Bipo.

Saya jadi ingat pertama kali Bipo tiba-tiba saja ada dirumah. Perasaan senang dan bahagia menghinggapi perasaan saya saat itu. Cuma saya dan bapak saya yang terbilang “care” ngurusin dia. Mulai dari menyalonkannya, imunisasi, menyisiri bulu-bulunya yang putih bersih, mengajak bermain, beli pasir wangi serta makanan yang bergizi, sampe mengobati bagian tubuhnya yang sakit, hampir semua kegiatan Bipo menjadi tanggung jawab saya. Tapi setelah saya menikah, dan punya anak, semua kegiatan itu tak pernah saya lakukan lagi. Hal itu jelas bukan tanpa alasan. Ada Fazna yang jauh lebih membutuhkan saya.

Continue reading


Dec 2 2013

Menguak Moslem Millionare by Ippho Right

Jika membaca buku tulisan Ippho pada bagian awal saja, saya merasa bahwa orang ini money oriented banget. Kita seolah-olah “dipaksa” kaya oleh orang ini. Tapi setelah membaca hingga akhir halaman, saya menyadari bahwa yang ditulis orang ini bener banget. Moslem Millionare adalah buku keempat dari seri Otak Kanannya. Dalam buku ini, kita disuruh berpikir out of box, menjadi orang yang berpikiran lain daripada yang lain. Selain itu, kita diberi tips dan trik, sikap, serta langkah-langkah yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menjadi Moslem Millionare.

Semangatnya untuk menjadi kaya itu luar biasa. Dia tahu bahwa kaya miskin adalah ujian, dan tentu saja, seperti kebanyakan orang-orang pada umumya, dia memilih untuk menjadi kaya. “Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, dan distribusi seluas-luasnya”, hal 39. Maksudnya, kita “diutus” menjadi orang kaya yang amanah, dimana kekayaan kita digunakan untuk kebaikan orang lain, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan kita. Banyak orang kaya yang tidak bisa mengatur keuangannya, alhasil diakhir hidupnya malah memiliki utang yang tak sedikit jumlahnya, karena berusaha memenuhi gaya hidupnya yang hedon. Ada tanggung jawab besar, ketika orang menjadi kaya dan sukses. Sebagai seorang muslim, kita harus percaya bahwa ketika kita sukses, berarti Tuhan telah mempercayai kita untuk membagi-bagikan “titipan” rejeki-Nya kepada orang yang berhak. “Rejeki itu dekat dengan cinta, dimana rejeki akan berpihak pada orang yang pandai mencintai dan mengasihi”, hal 14. Hmmmm.. Contohnya, ketika orang tua kita akan pergi, kepada siapa mereka akan menitipkan uang belanja kepada anaknya-anaknya? Tentu saja kepada anak yang bisa amanah dan pandai mengatur keuangan, kan? Lah manusia saja seperti itu, apalagi Tuhan..

Continue reading


Oct 21 2013

First Eating

Enam bulan kurang seminggu akhirnya saya putuskan untuk membuatkan MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) pertama untuk Fazna. Awalnya sih ingin tepat enam bulan, tapi berhubung usia enam bulan pas-nya itu ketika dia ga dirumah, akhirnya saya memberanikan diri untuk coba (-coba). Setelah membaca buku panduan MPASI, googling, dan konsultasi dengan dsa (dokter spesialis anak), banyak sekali informasi yang berbeda-beda antara sumber yang satu dengan sumber yang lain dan otomatis membuat saya (semakin) bingung. Ada yang menyarankan buah, sayur, atau bubur terlebih dahulu. Untuk hal ini, saya tidak terlalu fanatik harus yang mana dulu, karena bervariasi menurut saya lebih penting.

Sempat mikir agak lama.. Tapi akhirnya saya memutuskan memberi makan Fazna buah terlebih dahulu. Pertimbangannya, karena menurut saya buah lebih mudah dicerna tubuh daripada bahan lainnya. Buah yang dipilih pun jangan yang terlalu banyak serat ya, jadi kalau ga pepaya, pisang, atau alpokat. Untuk kali ini saya memilih pepaya. Menurut buku yang saya baca (karangan Diana Damayanti dan Lies Setyarini), usahakan agar makanan yang diberikan untuk bayi disajikan dengan menu yang sama selama tiga hari kedepan, agar kita tahu bayi kita alergi, suka atau ga, dll. Aduh.. Deg-degan banget saya mau ngasih makan Fazna untuk pertama kalinya. Rasanya seneng sekaligus sedih nih. Seneng karena Fazna sudah mulai gede, tapi juga sedih karena harus menerima kenyataan bahwa kini saya bukan sumber hidup (ASI) satu-satunya *halah emak-emak lebay. Yuk ah cekidot..

Boleh pakai alat apapun yang berfungsi untuk melembutkan makanan. Pokoknya bisa jadi selembut-lembutnya deh.

Continue reading